|
Ditulis oleh Ted Sprague
|
|
Jumat, 16 Juli 2010 16:57 |
|
Piala Dunia sudah berakhir. Ketika debu perayaan telah hilang, ketika botol-botol anggur telah kering dan orang-orang bangun dari mabuk mereka, wajah buruk krisis kapitalis akan kembali menatap rakyat. Ini cerita mengenai dilema rakyat Argentina dan kecintaannya pada sepakbola, ketika mereka memenangkan Piala Dunia 1978 di bawah junta militer, dimana sorak sorai rakyat bercampur dengan jeritan puluhan ribu tahanan politik yang disiksa dan dibunuh. (Foto ini diambil pada saat Piala Dunia 1986, tetapi disensor oleh media mainstream dan FIFA. Spanduk di foto ini menyatakan bahwa tim sepakbola Argentina mendukung "Mothers of Plaza de Mayo" untuk dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. "Mothers of Plaza de Mayo" adalah ibu-ibu dari 30 ribu kaum muda yang "menghilang" selama kediktaturan junta militer 1976-1983. Ibu-ibu ini menuntut diungkapkannya kebenaran mengenai nasib anak-anak mereka)
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Imran (Pakistan)
|
|
Jumat, 09 Juli 2010 04:33 |
|
Di tengah kegilaan perang dan fundamentalisme, sebuah konferensi sosialis diorganisir oleh Jammu Kashmir National Student Federation (JKNSF) pada 24 Juni. Ribuan kamu muda dari seluruh Kashmir turut serta, dan mengibarkan slogan-slogan revolusioner, seperti "Inqalab, Inqalab, Socialist Inqalab" (Revolusi, Revolusi, Revolusi Sosialis), "Kali raat jaway e jaway-Surkh sawera away e aaway" (Sebuah fajar merah akan mengakhiri malam yang gelap ini), dsb. Lal Khan, seorang pemimpin Marxis di Pakistan, yang diundang di konferensi ini menekankan bahwa kemerdekaan yang sejati dari rakyat Kashmir hanya dapat dicapai sebagai bagian dari federasi sosialis seluruh sub-benua Asia Selatan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Muhammad Hakam
|
|
Sabtu, 03 Juli 2010 04:43 |
|
Ratusan buruh CV. Heksa Manunggal Utama sungguh bernasib mengenaskan. Tidak hanya upah yang terlalu kecil (jauh di bawah UMK) yang mereka dapatkan, tetapi hak-hak lain seperti Jamsostek, upah lembur, hak cuti, THR (Tunjangan Hari Raya), hak berserikat, dan semua tunjangan-tunjangan lain juga tidak diberikan. Kondisi ini kemudian memicu kemarahan buruh. Dan pada hari Senin tanggal 21 Juni lalu mereka mulai menggelar aksi protes di depan pabrik tersebut. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Nophee Yohana (Aktivis Solidaritas Perjuangan Buruh Jombang)
|
|
Sabtu, 03 Juli 2010 23:23 |
|
Berbicara mengenai buruh haruslah diawali dengan logika relasi yang terjadi antara buruh dan majikan. Dalam relasi buruh-majikan, posisi buruh selalu subordinatif terhadap majikan. Hal ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan kekuasaan ekonomi yang selanjutnya memunculkan ketidakseimbangan dalam kekuasaan politik. Eksploitasi dan penindasan adalah fakta sosiologis dalam masyarakat kapitalis. Ini adalah kenyataan yang akan terus terjadi selama sistem belum berganti. Karena dalam masyarakat kapitalis, proletariat, atau kaum buruh, tidak memiliki akses ke sarana produksi mereka sendiri. Ini artinya tidak ada pilihan lain bagi buruh kecuali menyerahkan hidupnya untuk memperkaya sang pengusaha hanya untuk kelangsungan hidupnya. Kenyataan yang sungguh tragis.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Andri Cahyadi (disadur dari Bingkai Merah)
|
|
Sabtu, 03 Juli 2010 04:47 |
|
Pada tanggal 26-27 Juni, pemimpin dari 20 negeri dengan ekonomi terpenting bertemu di Toronto dalam G20 Summit untuk memutuskan bagaimana caranya keluar dari krisis. Berikut ini kami terbitkan laporan langsung dari kawan Andri Cahyadi (disadur dari Bingkai Merah, http://bingkaimerah-indonesia.blogspot.com) yang menghadiri demo G20 di Toronto tersebut, dimana 25.000 orang turun ke jalan untuk memprotes G20. Demo tersebut berakhir dengan bentrok terbesar di Toronto, dengan 850 orang ditahan oleh polisi.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
Thailand
Revolusi dan Konter Revolusi

Gejolak sosial dan politik di Thailand mencapai klimaksnya dengan pembentukan barikade di Bangkok pada awal Maret 2010, dimana puluhan ribu demonstran kaos-merah menduduki area pusat Bangkok. Dua bulan perjuangan yang sengit berakhir dengan serangan militer pada tanggal 19 Mei yang akhirnya berhasil menghancurkan basis kamp Kaos Merah. 85 orang mati dan ribuan lainnya terluka. Ofensif konter revolusioner meraih kemenangan, tetapi Thailand tidak akan pernah sama lagi. Sebuah perang kelas telah dimulai. Di Rajprasong, mereka bernyanyi: “Ini adalah perang kelas yang akan menyapu otokrasi”. Berikut ini adalah analisa yang ditulis pada hari penyerangan militer terhadap kamp kaos merah (19/5). Selanjutnya...
Revolusi
Revolusi Tiongkok 1949

Bagi kaum Marxis, Revolusi Tiongkok adalah peristiwa terbesar kedua dalam sejarah umat manusia, yang kebesarannya hanya dapat diungguli oleh Revolusi Bolshevik 1917. Jutaan manusia, yang sampai saat itu telah diperlakukan seperti binatang-binatang pemikul beban imperialisme, mematahkan rantai imperialisme dan kapitalisme, dan menapaki panggung sejarah dunia. Selanjutnya...
|
Buletin Elektronik Militan
Donasi
Bantu bangun Militan dengan sumbangan Anda
Berita Internasional Terbaru
|