Mesir bergejolak, lantas kapan Indonesia?

“Saya senang, saya bersyukur. Sejak 2004, tidak ada pelanggaran HAM,” ujar SBY saat menyampaikan pidato resmi penutupan Rapat Pimpinan TNI dan Polri 2011 hari Jumat (21/1) lalu. Pada saat yang sama, Mubarak mungkin juga berilusi sama. “Tidak ada pelanggaran HAM di Mesir,” pikirnya, seperti mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan bernasib sama seperti Ben Ali tetangganya. Empat hari kemudian (25/1) negaranya sendiri diguncang oleh demo-demo yang menuntut pengunduran dirinya.`

Kalau bicara kemiskinan dan kemelaratan, Indonesia tidak jauh berbeda dengan Mesir. Tentunya kita sudah tidak punya diktatur seperti Mubarak, namun kediktaturan kapital masihlah merajalela. Pelanggaran HAM masih terjadi. Revolusi Mesir menyebabkan banyak orang bertanya: kapan rakyat Indonesia akan bergerak lagi? Tersirat di dalam pertanyaan ini sebuah sentimen kefrustasian dan ketidaksabaran. Rakyat sudah miskin, sudah melarat, kenapa mereka tidak bergerak?

Puluhan tahun yang lalu pertanyaan yang sama juga dilontarkan ketika masih di jaman Soeharto: 32 tahun tanpa kebebasan demokrasi, kenapa rakyat tidak bergerak? Namun 1998 pun terjadi, dan pertanyaan tersebut terkubur dengan begitu cepat tanpa ada yang mencoba menjawabnya.

Dan ketika Soeharto jatuh, tidak mustahil kalau Kiri Mesir pada saat itu juga bertanya: kenapa rakyat Mesir tidak bergerak melawan kediktaturan Mubarak? 13 tahun kemudian Revolusi Mesir pecah, dan pertanyaan tersebut terkubur tanpa terjawab.

Ada beberapa cara untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan setiap jawaban memberikan konsekuensi yang berbeda. Pertama, kita bisa berkesimpulan bahwa rakyat pada dasarnya apatis, dan bahwa perubahan fundamental dan revolusi tidak bisa terjadi. Oleh karenanya, cita-cita revolusi ditanggalkan untuk program-program reforma kesejahteraan saja di dalam kerangka kapitalisme. Ini kerap yang menjadi pilihan, yakni oportunisme atau pragmatisme. Oportunisme di sini dalam istilah ilmiah politiknya adalah menanggalkan prinsip dasar revolusi untuk pencapaian jangka pendek yang gradual, bukan dalam istilah sehari-hari yakni suka mengambil kesempatan. Tentunya semua aktivis harus bisa mengambil kesempatan dari semua situasi, yakni kita harus menjadi ‘oportunis’ dalam bahasa kesehari-harian. Ini sudah menjadi aksiom bagi kita.

Pragmatisme atau oportunisme ini bukannya tidak mengandung bahaya. Mungkin ada yang berpikir kalau selama kaum pragmatis ini juga membela rakyat, tidak ada bahayanya. Namun pragmatisme ini punya logikanya tersendiri yang lalu menjadi penghambat aktif revolusi ketika waktunya tiba. Mereka yang terbiasa berpikir gradual akan secara insting menolak revolusi bahkan ketika revolusi datang mendobrak pintu depan mereka, dan lalu mencoba memalangi pintu mereka dengan argumen-argumen reformis dan pragmatis mereka.

Revolusi Mesir dan dunia Arab sudah membuktikan kalau rakyat tidaklah apatis. Para pemerhati politik yang sinis, yang sehari-hari hanya menggerutu mengenai keapatian rakyat, sudah mendapatkan jawaban mereka dengan fakta ini.

Tanggapan yang lain adalah kita harus mempercepat tibanya revolusi. Kalau rakyat tidak bisa dan tidak mau bergerak, maka harus dilakukan cara-cara untuk membuat mereka bergerak. Ini biasanya berakhir ke avonturisme karena ketidaksabaran. Tidak mengukur kekuatan sendiri dan juga keadaan objektif, walhasilnya justru ini mendemoralisasi para aktivis. Tidak jarang aktivis-aktivis yang mengambil jalan avonturir, setelah menemui kegagalan-kegagalan untuk mempercepat revolusi, lalu mengambil kesimpulan bahwa rakyat apatis dan revolusi mustahil. Dalam kata lain, sang avonturir pun berpaling ke pragmatisme. Sang avonturir menjadi jenuh dengan perjuangan menuju revolusi. Memang, avonturisme dan pragmatisme adalah dua sisi dari koin yang sama.

Kaum revolusioner bukanlah pencipta revolusi. Kapitalismelah yang akan menciptakan revolusi. Kaum revolusioner tugasnya adalah untuk memenangkan revolusi. Aktivisme-aktivisme yang kita lakukan dalam kesehari-harian – mengorganisir buruh, tani, nelayan, KMK – harus dilihat dari perspektif ini, yakni untuk mempersiapkan diri dan rakyat ketika waktu penentuan telah tiba. Organisasi ditempa dalam aktivitas sehari-hari ini. Ini ibarat tentara yang 99% waktunya dihabiskan berlatih, belajar teori perang, bahkan sampai hal-hal kecil seperti menyemir sepatu dan menggosok senjata. Semua hal kecil ini dilakukan bertahun-tahun hanya untuk nanti pergi berperang untuk jangka waktu yang pendek.

Keradikalan massa tidaklah berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan. Bila ini benar, maka bukankah benua Afrika dengan kemiskinan teramat parah – yang sudah boleh dibilang barbar dalam pengertian sesungguhnya – sudah seharusnya terbakar oleh gelombang demonstrasi? Tapi ternyata tidak. Justru kemiskinan parah bisa mendemoralisasi rakyat. Loncatan kesadaran kelas rakyat secara umum dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling tumpang tindih, saling dorong mendorong dan tarik menarik. Namun arahnya jelas, kontradiksi kapitalismelah yang akan menyebabkan ledakan kesadaran rakyat. Tidak ada bola kristal yang bisa menebak kapan ini tepatnya akan terjadi. Namun ini bukan berarti kita memangku tangan saja. Kita terus perlu merumuskan perspektif politik dan organisasi sebagai panduan aksi kita sehari-hari, sebuah perspektif yang juga mempertimbangkan kekuatan kita sendiri dalam mengintervensi gerakan.

Pada dasarnya, kita harus menanyakan pertanyaan yang tepat. Kalau pertanyaannya saja sudah keliru, maka jawabannya tentu akan keliru dan tidak relevan. Pertanyaan yang tepat bukanlah bagaimana mempercepat ledakan revolusi, namun bagaimana mempercepat kemenangan setelah revolusi meledak. Ketika rakyat bergerak, waktu bagi kita sangatlah pendek. Masyarakat tidak bisa ada di dalam situasi revolusioner untuk waktu yang lama. Penguasa sendiripun tidak akan membiarkan situasi tegang terlalu lama. Oleh karena itu, kesiapan organisasi rakyat untuk bisa memanfaatkan momentum gerakan untuk mencapai kemenangan adalah perlu.

Di satu pihak, spontanitas gerakan Mesir adalah salah satu sumber kekuatannya. Dalam artian bahwa gerakan rakyat Mesir ini independen dari para reformis dan kaum islam fundamentalis. Mereka mengusung tuntutan mereka sendiri dan tidak mempercayai kaum oposisi borjuis dan isfun. Dalam kespontanitasan ini, mereka belajar untuk hanya percaya pada kekuatan diri mereka sendiri dan mereka membentuk organisasi mereka sendiri.

Namun di lain pihak, spontanitas ini adalah kelemahan dari gerakan itu sendiri. Situasi revolusioner bukanlah satu hal yang berlangsung untuk waktu yang lama. Walaupun dalam satu hari situasi revolusioner rakyat bisa belajar lebih banyak daripada 10 tahun di bawah situasi normal, namun pembelajaran ini ada batasnya. Ini dibatasi oleh waktu, sebuah varian yang tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Trial and error bukanlah satu keistimewaan yang dapat dihambur-hamburkan begitu saja.

Melihat kondisi ini, maka tampaknya Revolusi Mesir ini akan menjadi satu proses yang berkepanjangan. Gelombang akan menyurut namun ia akan membuka satu periode baru di dalam percaturan politik Mesir dan dunia Arab secara luas. Pemerintahan yang selanjutnya akan menjadi pemerintahan krisis, yang mana kelas penguasa akan seperti berjalan di atas pecahan beling. Dan yang terpenting ini akan mengubah kesadaran rakyat untuk selama-lamanya. Pelajaran-pelajaran yang diperoleh oleh rakyat dalam waktu singkat ini akan menjadi bekal baginya di hari depan.

Bila organisasi-organisasi kiri Mesir mampu mengorientasikan dirinya dengan tepat, dan tidak gegabah dalam bergerak serta mengukur kekuatannya sendiri dan melihat apa yang mungkin dicapai, mereka akan mampu tumbuh pesat.

Gelombang akan surut, dan organisasi-organisasi kiri harus mempersiapkan dirinya menghadapi ini. Kiri harus bisa mundur dengan teratur, seperti layaknya tentara yang harus kembali ke barak untuk menghimpun kekuatan mereka kembali. Rakyat Mesir hanya perlu melihat pelajaran 1998 di Indonesia, dimana setelah surutnya Gerakan Reformasi, Kiri Indonesia tidak mampu mundur secara teratur dan terjadi demoralisasi besar-besaran pada tahun-tahun berikutnya.

Keluhan-keluhan mengenai rendahnya kesadaran rakyat hanyalah sebuah refleksi dari ketidakpahaman bagaimana kesadaran kelas berkembang. Yang perlu dilakukan justru adalah memetakan kesadaran tersebut. Jadi kembali lagi ke masalah menanyakan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah mengapa kesadaran rakyat rendah, tetapi bagaimana pemetaan kesadaran rakyat pada saat ini dan ke arah mana ia bergerak. Dengan menjawab pertanyaan yang belakangan ini, kita lantas bisa menyerang ke satu titik yang mana pencapaiannya bisa maksimal. Kita bisa mencari celah dimana kita bisa masuk menjadi pengungkit, untuk terus membuka celah yang lebih besar yang bisa dibuka. Celah yang dicari haruslah sesuai, biar pengungkitnya juga tidak patah.

Mesir bergejolak, lantas kapan Indonesia? Salah! Sesiap apa kita kalau waktunya tiba?

 

Imperialisme

Apa Itu Imperialisme?

Imperialisme bukanlah sekedar dominasi satu negeri terhadap negeri yang lain. Ia adalah tahapan tertinggi dari perkembangan kapitalsme. Hanya dengan memahami alur perkembangan historis dari imperialisme maka kita bisa melahirkan program politik revolusioner yang tepat, dan tidak terjebak pada anti imperialisme yang vulgar dan oportunis.

Pendidikan Marxis

Mengenal Filsafat Marxisme

Secara historis, filsafat Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme ke bumi manusia. Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahkannya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni: 1. Materialisme Dialektis; 2. Materialisme Historis; 3. Ekonomi Marxis.

Sejarah Indonesia

Menuju Republik Indonesia

Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia) adalah karya besar Tan Malaka yang meletakkan dasar bagi perjuangan pembebasan nasional Indonesia dari penjajahan Belanda dan imperialis dunia. Gagasan utamanya adalah bahwa 100% Merdeka tidak akan tercapai tanpa membawa sosialisme ke bumi Indonesia.