Hikayat Kadiroen - Bab V Cetak E-mail
Ditulis oleh Semaoen   
Rabu, 20 Januari 2010 05:47

BAB V

Seorang Satria

(Roch dan Rah Adhi Sejati)


Persdelict. Ini hari kita punya Hoofd-Redacteur dipanggil oleh tuan jaksa di kantornya dan dibilangi bahwa tuan Asisten Residen menyuruh ia, jaksa, supaya menanya macam-macam halnya Sinar Ra'jat pada hari kemarin dulu tanggal 12 Mei, terutama tentang karangan yang termuat itu hari dan yang berkepala: “Diminta sedikit lekas”, dan ditandai oleh Pentjari. Tuan jaksa selainnya menanya ha1 isi dan maksudnya karangan tersebut, juga minta tahu namanya penulis yang sebenarnya, sebab Pentjari ialah nama palsu. Sudah tentu kita punya Hoofd-Redacteur tidak suka menerangkan nama sejati yang terminta itu dan menjawab bahwa ia akan menanggung sendiri karangan itu di muka hakim pengadilan kalau memang jadi tuntutan. Sepanjang pikirannya tuan jaksa, itu karangan mesti menjadi perkara persdelict, sebab tuan Asisten Residen di kota G, kencang dan keras kehendaknya memintakan hukuman buat siapa yang menjebar karangan itu. Sudah nasibnya saudara Hofd-Redacteur ketabrak “delict”.

Begitulah bunyinya surat kabar milik organisasi P.K. yang diterbitkan tiap hari di Kota G. Dan yang diasuh, oleh beberapa redaktur yang dikepalai oleh Pemimpin Redaksi Sariman. Sudah tentu berita itu menimbulkan pikiran dan pembicaraan yang sangat ramai di kalangan pembaca-pembacanya, terutama di antara kaum P.K. Dua hari kemudian, maka di kantor redaksi dari surat kabar tersebut terjadi gegeran yang ramai antara Pemimpin Redaksi Sariman dan penulisnya sejati.

“Tidak Saudara, sebagai pemimpin redaksi saya wajib mengoreksi betul-betul apa dalam setiap berita pembantunya terdapat unsur delik pers atau tidak. Hari itu saya kurang teliti membaca laporan/berita Saudara, jadi saya yang salah. Oleh karena itu, saya akan mempertanggungjawabkan sendiri di muka hakim.”

“Saudara Sariman, betul Anda seorang pemimpin redaksi, tetapi saya tahu, pekerjaan Saudara banyak sekali. Sehingga, satu atau dua laporan seperti laporan saya tempo hari, Saudara tidak sempat mengoreksinya secara betul. Sebagai pembantu, saya wajib mengingat hal-hal ini dan mestinya membikin laporan yang lebih halus. Karena itu, saya yang bersalah dan saya meminta supaya saya diperbolehkan mempertanggungjawabkan sendiri berita yang saya tulis itu. Beritahukanlah nama saya yang sesungguhnya agar Saudara jangan menjadi korban kesalahan saya yang kurang hati-hati.”

“Terima kasih banyak! Apa Saudara mengira saya akan melepaskan Saudara untuk menjadi korban? Saya bukan penakut dan tidak mempunyai niatan untuk mengorbankan diri Saudara.”

“Lho, aneh sekali kau ini. Saudara Sariman, saya juga bukan seorang penakut dan sama sekali tidak punya niatan untuk mengorbankan diri Saudara untuk mempertanggungjawabkan berita saya. Sebab saya ingat, Saudara sudah mempunyai anak bini. Sedangkan saya belum. Karena itu, sekali lagi saya meminta dengan sungguh-sungguh supaya nama saya yang sebenarnya diberitahukan kepada jaksa.”

“O, no. Tidak boleh! Ingatlah kepada ayah dan ibu Saudara. Mereka sebagai pegawai Gupermen dan orangtua zaman dahulu ingin melihat anaknya, yaitu Saudara, supaya menjadi pegawai Gupermen yang tinggi pangkatnya. Sekarang pangkat Saudara sudah tinggi. Jadi, kalau nama Saudara sampai terbuka, maka tentu Saudara akan mendapatkan masalah dalam kerjaan Saudara. Ya, bisa juga malahan kamu dipecat. Dalam hal ini, bagaimana nanti susahnya orangtuamu. Maka dari itu, sekali lagi saya bilang padamu bahwa saya tidak akan membuka namamu. Apalagi saya masih bisa membikin alibi yang akan membebaskan saya dari hukuman dalam sidang pengadilan nanti. Sebab sepanjang pengetahuan saya, berita itu tidak melanggar aturan yang berlaku.”

“Saudara Sariman, saya sebagai penulisnya tentu lebih tahu masalah-masalah apa yang sudah masuk dalam tulisan itu. Jadi, saya memiliki bukti-bukti bahwa tulisan itu hanya untuk menuntut keadilan bagi keperluan rakyat. Dari sebab itu, tentunya saya akan 1ebih bisa menjelaskan di muka hakim bahwa tulisan itu tidak melanggar peraturan yang berlaku.”

“Ya, tetapi pikiran kita belum tentu akan dibenarkm oleh hakim pengadilan dan biasanya mereka mempunyai pandangan lain dari kita. Sehingga kalau saya melepaskan nama Saudara yang sebenarnya di kemudian kamu bisa dihukum juga. Lebih baik saya (yang sebagai pemimpin redaksi memang sudah wajib untuk menanggungnya) yang menjalani perkara hukuman ini, kalau di kemudian hari hakim memang memutuskan hukuman itu. Saya mempunyai keyakinan bahwa tulisan itu tidak bersalah sehingga bisa dihukum. Jadi bisa juga dibebaskan. Sebaliknya kalau Saudara yang menghadap di muka hakim, bisa dihukum dan ditambah akan dipecat dari jabatan Saudara. Setidaknya, Saudara akan mendapatkan masalah dalam pekerjaan. Meskipun umpamanya Saudara dibebaskan dari hukuman. Dalam hal yang kedua ini, Saudara akan mengorbankan dirimu dengan percuma. Sedangkan kalau saya yang menghadap, selamatlah saya, meski dihukum atau tidak!”

“Saudara Sariman, saya tidak mau dan tidak bisa memahami kehendak Saudara menjadi korban tulisan saya. Sebagai pemimpin redaksi dan sebagai pemimpin rakyat, tempat suara rakyat, pekerjaan saudara sangat penting bagi kemajuan rakyat dan tanah Hindia. Kalau Saudara jadi dihukum apalagi kalau sampai lama, sesungguhnya Saudara akan banyak kehilangan waktu dan kesempatan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Sebaliknya, hal ini bagi saya tidak ada masalah.”

“Saudara, sudah kodrat alam yang memiliki kehendak bahwa rakyat akan tetap bergerak dan maju, meskipun saya ada di dalam penjara. Tentulah kalau sudah kehendak zaman, ada saja yang di kemudian akan memajukan rakyat dan tanah Hindia. Selain itu, bukan saya sendiri yang bisa menyuarakan kepentingan rakyat, tetapi masih banyak orang lain. Dan rakyat tentu akan terus maju meski saya dipenjara. Saya yakin begitu. Dari itu, jangan khawatir, saya akan tetap menanggung tulisan Saudara.”

“Tidak Saudara Sariman, kalau Saudara tetap ingin menanggungnya, saya juga tetap seperti itu. Dan tanpa persetujuan Saudara, maka besok pagi saya akan datang sendiri menghadap ke muka jaksa untuk menerangkan dan menjelaskan bahwa sayalah penulis delik itu.”

Mendengar hal itu, maka Pemimpin Redaksi Sariman kehabisan akal untuk melindungi pembantunya supaya jangan sampai menjadi korban. Oleh karena itu, Sariman lalu memakai jalan lain, yaitu jalan halus yang mengesampingkan perasaan pembantunya dan berkata: “Begini Saudara, kita sedang saling berselisih pendapat satu sama lain untuk membuktikan bahwa kita senang mengorbankan diri untuk keperluan rakyat. Saudara juga senang berbuat itu. Sekarang tidak perlu banyak bicara, sudahlah. Marilah kita lot, kita undi siapa yang berun­tung, itulah yang menanggung.”

Dengan begitu maka pendapat disepakati oleh pem­bantunya, karena si pembantu tidak ingat bahwa ia bisa meneruskan kehendaknya tanpa pakai undian segala. Dan Sariman sangat cepat mcngambil aturan untuk meng­undinya. Sehingga sebentar saja putuslah perselisihan itu. Tetapi Sariman kalah dan pembantunya yang menang. Si pembantu menjadi gembira. Dan saking gembiranya, ma­ka sewaktu pembantunya itu mau pulang, Sariman berkata:

“Saudara, mulai sekarang Saudara akan melepaskan diri dari kesenangan yang disukai kebanyakan manusia. Sebab itu Saudara harus membersihkan diri dan jiwamu dengan membantu kepentingan rakyat. Sekarang Sauda­ra harus melupakan kepentinganmu sendiri. Saya men­doakan Saudara supaya kau memiliki kekuatan yang be­sar untuk meneruskan maksudmu yang mulia itu. Saya akan membantumu dan sanggup mengusahakan jalan yang baik bagi kehendakmu. Karena kita berdua mau membela kepentingan rakyat dan tanah Hindia.

“Dalam perjalanan orang maka kita akan sering kali mendapat rintangan dan godaan yang besar serta sangat berbahaya. Karena, semakin mulia maksud seseorang, tambah besar juga lawannya atau godaan dan rintangan­nya. Rintangan dan godaan tadi akan menjatuhkan orang itu kalau ia tidak kuat. Tetapi, ada satu perkara yang akan memberi kekuatan luar biasa pada manusia yang berusa­ha dan berbuat baik. Perkara itu adalah kepercayaan ke­pada Tuhan Allah. Dalam semua hal, susah atau senang, carilah Tuhan Allah kita Yang Mahakuasa. Dan bersama­an dengan itu, teruskanlah maksud Saudara yang mulia itu. Sebab Tuhan Allah akan memberi kekuatan pada sia­pa saja yang mengetahui-Nya.”

Siapakah pembantu surat kabar yang gagah berani dan bertindak seperti satria tersebut. Nyonya-nyonya dan Tuan-Tuan pembaca tentunya sudah dapat meramal atau mengira-ngira sendiri kalau melihat dari tanya-jawab di atas. Dialah Kadiroen, tidak lain hanyalah Kadiroen yang berani mempertanggungjawabkan tulisannya yang di­muat dalam Sinar Ra'jat di muka hakim pengadilan. Ba­gaimana ceritanya, sehingga sekarang Kadiroen harus mempertanggungjawabkan dakwaan delik pers.

Sebagaimana sudah diceritakan dalam Bagian IV, maka sehabis Kadiroen menghadiri vergndering P.K., ia menjadi sangat tertarik dengan gerakan rakyat itu, di sam­ping ia harus tetap mempertahankan pangkat dan jabat­annya. Semakin lama Kadiroen memikirkannya, ia sema­kin mengerti bahwa pada zaman itu gerakan rakyat tidak boleh ditinggalkan atau dibiarkan begitu saja oleh semua bumiputera yang tahu akan kewajibannya, yaitu kewa­jiban untuk memuliakan dan memakmurkan rakyat dan negeri Hindia. Sungguh, sedang tidurlah mereka yang ke­tinggalan zamannya. Kadiroen mendapatkan keyakinan demikian. Tetapi sebaliknya, ia mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua. Sedang ayahnya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh supaya anaknya, Kadiroen, bisa men­jadi seorang priyayi yang berpangkat tinggi supaya ia bi­sa membantu orangtuanya untuk turut memelihara de­ngan baik saudara-saudaranya. Sebab Kadiroen masih mempunyai saudara sebanyak tujuh orang. Kadiroen menimbang, ia mencari pangkat tinggi itu tidak hanya un­tuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi untuk menyenang­kan hati orangtua dan famili-familinya. Kadiroen merasa bahwa hal itu juga merupakan kewajiban mulia.

Jadi, dua kewajiban selalu bertentangan dalam hati­nya. Yang pertama kewajiban untuk turut membantu ge­rakan rakyat, untuk memperhatikan dan memuliakan rak­yat dan negeri. Yang kedua, kewajiban membantu kebu­tuhan hidup saudara-saudara dengan mendapatkan pangkat yang tinggi dalam pekerjaannya. O, sesungguh­nya amat berat untuk memilih dua kewajiban ini. Tetapi sesudah memikirkan hal itu beberapa hari lamanya maka ia menetapkan memilih gerakan. Sebab ia pandang, dalam pergerakan ada banyak orang yang harus dibantu, melebihi banyaknya famili yang harus ia bantu. Ia berkeyakinan bahwa memenangkan gerakan rakyat itu me­rupakan kewajiban yang lebih besar daripada sekedar mencari pangkat. Selain dari itu, umpamanya dalam per­gerakan rakyat itu kehidupan rakyat bisa diperhatikan, toh kebutuhan famili juga bisa diperhatikan secara ber­sama-sama juga. Karena famili-familinya termasuk rakyat juga. Karena pertimbangan-pertimbangan yang demiki­an, maka Kadiroen memutuskan bahwa ia akan masuk menjadi anggota perkumpulan P.K. dan sanggup ber­usaha dengan sekuat-kuatnya membantu gerakan itu de­ngan tenaga dan harta benda miliknya. Tetapi, meski be­gitu Kadiroen tidak mau meninggalkan pikiran orangtua­nya. Sudah jamaknya seorang bumiputera bahwa dalam memilih cara dan usaha penghidupan atau pekerjaan hendaknya anak laki-laki men­dapatkan izin terlebih dahulu dari ayahnya. Supaya ia di­doakan dengan ikhlas hati dari orangtuanya. Lebih umum lagi, maka orangtualah yang biasanya menetapkan pe­kerjaan apa yang mesti dicari oleh anak lelakinya.

Teringat akan adat kebiasaan yang demikian itu, ma­ka Kadiroen menceritakan keyakinan dan pikirannya pa­da ayahnya, dan meminta didoakan dalam hal memban­tu pergerakan rakyat itu. Meskipun hal itu bisa berbahaya bagi jabatannya. Ayah Kadiroen yang sudah tua ikut mempertimbangkan masalah itu dengan hati sabar. Ia percaya bahwa nasib seorang manusia itu sudah diten­tukan terlebih dahulu oleh Tuhan Allah dan di mana saja orang itu bekerja kalau usahanya memang sungguh­-sungguh baik, maka tentulah ia akan mendapatkan ke­senangan dan keselamatan. Apakah ia mengikuti peker­jaannya sebagai priyayi ataupun dalam gerakan rakyat. Sudah barang tentu bagi seorang ayah, yang pertama-ta­ma akan memilih hal yang sekiranya akan dapat membi­kin senang dan selamat anaknya. Begitupun halnya dengan ayah Kadiroen. Kalau dipertimbangkan dengan ke­rasnya kehendak Kadiroen maka sesungguhnya Kadi­roen akan merasa susah dan celaka jika ayahnya mengha­lang-halangi maksudnya. Sebaliknya, jika tidak dihalangi dan ia mendapat celaka yang besar, hal itu pada akhirnya juga akan menyusahkan hati si anak. Ayah Kadiroen me­mikirkan hal itu dengan panjang lebar dan hati sabar, te­tapi ia tidak bisa memutuskan yang mana yang benar. Se­hingga ia mengambil keputusan untuk bersama pada ke­hendak Tuhan Allah. Oleh karena itu, ayah Kadiroen ber­kata kepadanya:

“Anakku, perkara ini susah untuk saya pikirkan. Oleh karena itu, sebagai permulaan dan percobaan se­baiknya kamu mengambil jalan tengah terlebih dahulu. Memang biasa, orang yang ada di tengah sering terjepit oleh kanan-kiri. Sehingga terpaksa akhirnya memilih yang kiri atau kanan. Nah, kalau kamu berada di tengah dan sudah berusaha dengan sebaik-baiknya maka terpak­sa ke kiri atau ke kanan, karena kamu terjepit, itu ya apa boleh buat. Keputusanmu akan memihak yang mana jika sudah terjepit demikian. Itulah kehendak Tuhan Allah. Dan seharusnya, sebaiknya kamu berusaha dengan hati yang sungguh-sungguh menjalani takdirmu yang akan datang ini. Dalam segala maksud dan kehendakmu, ka­mu harus bertindak dengan ketetapan hati supaya kamu mendapatkan kekuatan yang cukup untuk memikul ke­wajiban yang sudah dipikulkan oleh Tuhan Allah pada dirimu. Ayahmu yakin kepada Tuhan Allah dan sekarang mengizinkan kamu supaya mengambil jalan tengah. Dan kemudian sesukamu, mau mengikuti yang kanan atau yang kiri sesuai dengan yang akan terjadi pada akhirnya nanti. Saya selalu berdoa semoga kau selalu selamat.”

Seperti semua anak yang setia pada ayahnya, Kadi­roen mengikuti keputusan ayahnya itu. Ia memilih jalan tengah, tetapi bagaimana akalnya? Ia tahu bahwa gerak­an rakyat membutuhkan modal atau ongkos untuk ber­bagai keperluan. Karena itu Kadiroen sering mengirim­kan uang derma semampunya untuk berbagai keperluan pada pemimpin perkumpulan P.K. Tetapi, supaya tidak diketahui bahwa ia yang memberi uang bantuan pada pergerakan itu, maka selamanya ia menjelaskan namanya yang sebenarnya. Dan hanya ditulis afzender N.N. (Pengi­rimnya bernama N.N.).

Kadiroen mengambil jalan tengah, jadi tidak masuk sebagai anggotanya atau ikut memberikan pertimbangan-­pertimbangan dalam vergadering-vergadering P.K. Tetapi, selain membantu dengan uang secara rahasia itu, maka Kadiroen juga turut membantu dengan berusaha mem­berikan pertimbangan dan pengetahuannya pada or­ganisasi P.K., yaitu dengan menulis dalam surat kabar Sinar Ra'jat. Tetapi supaya tidak ada orang yang mengerti bahwa ia ikut menulis, maka selamanya ia memakai na­ma palsu, yaitu Pentjari. Hanya Pemimpin Redaksi Sari­man sendiri yang mengetahui rahasia ini.

Jalan tengah itu disepakati oleh ayah Kadiroen. Te­tapi sebagaimana telah diceritakan maka akhirnya Kadi­roen terjepit juga; tulisannya tersangkut delik pers. Di waktu ia mengetahui bahwa tulisannya menimbulkan dakwaan delik pers maka Kadiroen memikirkan dua ja­lan yaitu tetap bersembunyi atau menunjukkan jati diri­nya. Dalam hal yang pertama, ia tetap mendapatkan na­ma baik dan kehormatan dengan pangkat priyayinya. Te­tapi akan mendapatkan julukan penakut dari Sariman dan hilanglah kepercayaan pemimpin redaksi itu kepa­danya sehingga Kadiroen bisa disangka bahwa ia hanya pura-pura saja membantu gerakan rakyat. Tetapi kalau Kadiroen tetap bersembunyi, tentulah pemimpin redaksi akan terpaksa menjalani hukuman sebab kesalahan tulis­an Kadiroen. Dan bagaimana nantinya istri dan saudara­saudara Sariman. Dan bagaimana jadinya dengan perge­rakan itu di kemudian hari jika pemimpinnya, Sariman, yang terkenal cerdik itu terpaksa harus dipenjara. Apa hal itu tidak akan banyak menimbulkan masalah dan sangat menyusahkan?

Kadiroen yakin bahwa dalam perkara itu memang saudara-saudara Sariman dan pergerakan akan banyak mengalami masalah. Sedang ia sendiri yang bersalah ma­lah selamat. Apa Kadiroen akan bisa menjalankan sifat kesatrianya, sebagai seorang yang baik, jika mengorban­kan orang lain untuk menanggung dosanya? Kadiroen ti­dak mau menjadi orang hina dan membiarkan dirinya mencelakakan orang lain. Oleh karena itu, Kadiroen lalu mengambil keputusan untuk membuka jati dirinya dan tidak mau lagi mengingat-ingat pangkatnya sebagai pri­yayi besar. Kadiroen ingat apa yang dikatakan ayahnya, bahwa dalam keadaan terjepit maka jalan kanan atau kiri itu telah ditentukan Tuhan Allah. Dan Kadiroen tahu bah­wa Tuhan Allah menyuruh kepada manusia supaya ia berjalan dalam kebaikan dan satriawan. Hal yang mana tidak akan dipenuhi oleh Kadiroen jika ia tetap bersem­bunyi. Jadi, kalau Kadiroen membuka rahasia namanya dan di kemudian hari mendapatkan masalah dalam pe­kerjaan dan pangkat jabatannya, nah, semua itu telah menjadi takdir atau kehendak Tuhan Allah Yang Maha­kuasa. Dan ia akan menjalani susah atau senang: keten­tuan yang tertinggi itu. Begitulah adanya hal-hal yang menyebabkan Kadiroen menanggung tulisannya yang didakwa melanggar delik pers.

Tetapi Pemimpin Redaksi Sariman juga orang yang baik dan satriawan, sehingga terjadi rebutan memikul dakwaan delik pers itu. Hal ini sudah diceritakan di atas, yang akhirnya diundi. Kadiroen menang maka ia yang berkewajiban menanggungnya. Kadiroen pun semakin percaya bahwa hal itu sudah menjadi takdir atau kepu­tusan Tuhan Allah.

Sesudah pasti Kadiroen yang akan mempertang­gungjawabkan di muka hakim perkara tulisan itu, maka perkara itu menjadi perbincangan ramai di antara banyak orang. Surat-surat kabar yang sengaja berpihak pada kaum yang bermodal, dan yang khawatir bahwa keun­tungan kaum itu akan menjadi berkurang jika amtenar-am­tenar Gupermen membantu pergerakan rakyat seperti Kadiroen maka surat kabar itu semua memaki, menghina dan melemparkan macam-macam kotoran kepada diri Kadiroen. Surat kabar itu berteriak setinggi langit, supaya Gupermen cepat memecat Kadiroen dari pangkat dan ja­batannya.

Sebaliknya, surat kabar yang memperhatikan kepen­tingan rakyat sama memuji kepada Kadiroen dan sama membuktikan kehormatannya dalam tulisan-tulisan yang indah-indah.

Priyayi-priyayi kuno yang membenci gerakan rakyat yang baru itu sama mengatakan bahwa Kadiroen sudah menjadi gila. Tidak kuat memegang pangkat priyayi be­sar dan sebagainya. Sebaliknya, priyayi dan semua ma­nusia yang mengetahui keadilan dan mengetahui zaman­nya kemajuan dunia, mereka sama menghormati Kadi­roen yang membuktikan bahwa ia adalah seorang satria­wan dan budiman yang berketetapan hati, baik akal budi dan wataknya.

Perkara itu menjadi buah bibir yang ramai, tetapi Ka­diroen tidak suka memikirkan suara kanan atau kiri, ti­dak suka memikirkan pujian dan cacian atau penghinaan itu. Ia hanya berusaha keras mengumpulkan bukti-bukti bahwa tulisannya berdasarkan kenyataan. Tidak berdusta dan tidak melanggar ketentuan undang-undang. Dalam hal ini, Kadiroen mendapat bantuan yang sungguh-sung­guh dari Sariman. Di muka pengadilan, Sariman malahan menjadi advokat untuk membantu pekerjaannya.

Vrij, dibebaskan dari hukuman, tidak melanggar un­dang-undang,” begitulah keputusan hakim pengadilan. Kadiroen dan Sariman menjadi bahagia sekali. Dari mana-­mana Kadiroen mendapat surat yang memuji dan meng­ucapkan selamat. Dan banyak sudah orang-orang yang bersahabat dengannya turut berbahagia. Tetapi yang ti­dak berbahagia adalah surat-surat kabar yang melawan kepentingan bumiputera. Surat-surat kabar itu sama ber­pendapat bahwa meskipun hakim pengadilan membebaskan Kadiroen dari hukuman tetapi ia toh wajib dipecat dari pangkat dan jabatannya. Karena seorang pejabat se­perti Kadiroen itu telah membikin kehormatan kekuasaan Gupermen menjadi ternoda. Sebaliknya, surat kabar bu­miputera membantah dan berkata perbuatan Kadiroen membuktikan bahwa priyayi dan pergerakan rakyat bisa bekerja sama. Hal yang mana akan sangat berguna bagi ketertiban umum dan keselamatan rakyat.

Akibat dari ramainya perbincangan dari perkara itu, maka Kadiroen dipanggil oleh Tuan Asisten Residen di Kota S, yakni atasan Kadiroen yang dahulu telah diceri­takan. Kadiroen mengira bahwa ia akan dipecat. Tetapi Tuan Asisten Residen berbicara dengan muka yang manis dan sabar kepadanya:

“Kadiroen, saya senang kepadamu karena melihat kerja dan usahamu sebagai priyayi dalam membantu rak­yat. Dahulu saya telah memberi nasihat kepadamu, su­paya kamu sedikit bersabar. Tetapi nasihat saya itu se­pertinya kurang kamu perhatikan betul. Saya tahu dan bisa berpikir bahwa kamu menulis seperti di Sinar Ra'jat itu karena kamu masih muda. Kamu memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan maksudmu dengan secepat-ce­patnya. Sekarang kamu mendapatkan masalah sendiri. Apa sebabnya kamu tidak mau memperhatikan nasihat­ku. Sudah tentu saya tidak mengajukan pemecatan dari jabatanmu sebagaimana usul surat-surat kabar yang ter­kenal itu. Ya, kalau ada pertanyaan dari atas karena tu­lisan tersebut, maka saya akan melindungimu, selama saya menjadi Asisten Residen. Sebab saya seperti kamu ju­ga, sangat mencintai rakyat. Meskipun saya seorang Be­landa, tetapi saya seorang manusia juga yang mencintai rakyat Bumiputera. Sebab mereka juga manusia. Dan saya sebagai pemimpinnya wajib menjaga keselamatannya, sebagaimana seorang ayah menjaga keselamatan anak­nya. Kamu semestinya juga merasa begitu. Tetapi saya sudah tua, Kadiroen. Dan saya berbuat sabar, sedang ka­mu sangat berkehendak keras. Sekarang nasi sudah men­jadi bubur. Yang sudah ya sudah. Tetapi saya akan mem­beri nasihat lagi kepadamu. Ketahuilah, beberapa bulan lagi saya akan pensiun dan siapa yang akan mengganti saya, saya belum tahu. Selama ada saya, kamu tidak usah khawatir, kamu bebas menulis di surat kabar. Tetapi ingatlah, pengganti saya belum tentu berhaluan seperti saya. Karena itu, saya memperingatkan kalau saya sudah pensiun, berhentilah kamu menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mendengar nasihat atasannya, yang berkata seperti ayah kepada anaknya. Ia merasa hancur hatinya dan menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan Asisten Residen. Oleh karena itu, ia mengungkapkan perasaan hatinya kepada atasannya itu. Kadiroen menerangkan ba­gaimana asal mulanya ia tertarik pada gerakan rakyat, bagaimana pikiran dan pandangannya tentang pergerakan itu dan sebagainya. Tuan Asisten Residen mendengarkan dengan sabar dan akhirnya berkata:

“Kadiroen kalau saya mendengar kehendakmu yang begitu kuat, sesungguhnya hal itu tidak boleh kau tahan-­tahan lagi. Sebab kalau kau tahan, tentunya kau akan me­rasa sengsara terus-menerus. Sekarang saya hanya me­nasihati kamu. Kadiroen, kalau kau menulis yang hati­hati. Kadiroen, itulah nasihat lain saya dan saya hanya mendoakan supaya kamu selamat dalam menjalankan maksudmu yang mulia itu.”

Lalu Kadiroen dipersilakan pulang. Kadiroen sangat terkesan betul dengan Tuan Asisten Residen yang sudah tua itu. Kepadanya, Kadiroen tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia mengungkapkan perasaan hatinya seper­ti seorang anak kepada orangtuanya sendiri. Di mana an­tara dua manusia dari lain bangsa memiliki watak, akal­budi dan tujuan hidup yang sama baiknya, di situ hilang­lah perasaan perbedaan lain bangsa dan dua manusia ter­sebut bisa menyatukan hatinya. Tidak ada perbedaan bangsa dan kedudukan yang bisa memisahkan mereka satu dengan yang lain.

Tiga bulan setelah peristiwa itu terjadi maka Tuan Asisten Residen yang sudah tua itu pergi; ia sudah pen­siun. Dan sebagai gantinya, datang seorang asisten resi­den baru, kalau mengingat pangkatnya, ia terhitung ma­sih muda. Ia keluaran sekolah tinggi di negeri Belanda. Ia anak seorang hartawan besar. Tuan Asisten Residen yang baru itu ingatannya sangat tajam serta pandai. Te­tapi watak dan hatinya jauh dari sempurna. Sebagai anaknya seorang hartawan sejak masih kecil, ia tidak per­nah kekurangan apa-apa. Dan sudah biasa diladeni, di­turuti dan dihormati oleh orang-orang pembantunya yang bekerja pada hartawan itu. Di sekolah, ia juga me­miliki kebiasaan serupa itu.

Ia memiliki ayah yang sangat mahir mencari uang dan Tuan Asisten Residen yang baru juga seperti ayah­nya. Agamanya Kristen, sebuah agama yang baik dan lu­hur bagi bangsa Eropa. Namun agama itu tidak mempe­ngaruhi kehidupan Tuan Asisten Residen yang baru yang masih muda itu. Dalam hal kepercayaan agama, ia meng­aku moderat dan maunya hanya percaya pada alam. Te­tapi kepercayaan kepada agamanya sudah rusak dalam hati sanubari tuan ini.

Ia senang mendapat jabatan sebagai amtenar Binnen-landsch-Bestuur, hanya karena ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan masalah pemerintahan dan adat istiadat Hindia. Supaya kalau ia sudah tahu betul, ia bisa minta lepas dan akan menjadi pedagang besar di Hindia ini.

Pengetahuan dari Binnen-landsch-Bestuur itu nantinya akan ia pergunakan untuk menambah kekayaan dengan menjadi pedagang besar di negeri ini.

Mengingat hal-hal tersebut, maka sudah tentu tuan tersebut dalam hatinya berkeyakinan bahwa di dunia ini selamanya ada orang kaya dan orang miskin. Sebagai seorang berpendidikan dan memiliki keinginan untuk se­lalu menumpuk kekayaan maka ia percaya bahwa orang yang memiliki paham demikian adalah sesuai dengan ko­drat alam. Sudah barang tentu, ia dan ayahnya sering membantu berbagai macam perkumpulan kekasihan (philantrofische bonden) seperti rumah miskin, rumah anak yatim piatu dan sebagainya. Dengan memberi derma beratus-ra­tus rupiah besarnya, sudah tentu uang derma itu lebih kecil dari hasil yang beribu-ribu rupiah besarnya yang dida­patnya. Adapun mereka suka berderma demikian tidak disebabkan kasihan pada orang yang seharusnya ditolong - mereka percaya bahwa orang miskin dan melarat itu sudah sesuai dengan kehendak alam, tetapi disebabkan mereka mencari nama dari banyak orang semata. Kalau mereka mendapatkan nama baik, tentu mereka akan dipercaya banyak orang. Hal yang mana akan sangat ber­guna besar bagi usaha dagangnya dalam rangka menum­puk kekayaan itu. Jadi, pemberian derma itu tidak keluar dari niat hati yang suci, tetapi hanya buat modal mencari kekayaan semata. Sudah barang tentu, hal itu sangat ber­beda dengan niat para tuan-tuan dermawan yang bera­gama dengan sungguh-sungguh. Atau yang percaya ke­pada kekuasaan Tuhan Allah sebab maksud mereka me­mang benar-benar untuk menolong dengan rasa belas ka­sihan kepada si miskin. Tuan-tuan bangsa Belanda yang bersifat adil seperti itu di Hindia ini juga ada banyak. Ter­utama golongan para pejabat Belanda, ada banyak sekali yang memiliki rasa belas kasihan seperti itu, sehingga bo­leh dibilang, Tuan Asisten Residen yang baru tersebut me­mang sangat aneh (uitzondering).

Sebagaimana sudah diterangkan, Tuan Asisten Resi­den yang baru ini memang sangat tajam ingatannya dan pandai sekali. Sehingga sangat gampang ia mendapatkan jabatan Asisten Residen. Karena ia bisa menutupi watak dasar hatinya yang kurang sempurna itu dengan kepan­daiannya. Sudah barang tentu, orang yang demikian ini ti­dak akan memiliki kesenangan dan ketentraman serta kenikmatan hati yang sejati. Sebab ia selalu mengkhawa­tirkan harta benda serta kepentingannya sendiri. Meski­pun sudah kaya, ia selalu saja tidak bisa merasa senang. Sebab selalu khawatir tidak mendapatkan keuntungan atau selalu merugi. Keinginan nafsunya tidak pernah ter­puaskan. Ia justru merasa lebih sengsara daripada orang miskin yang suci hatinya dan berbakti kepada Tuhan Allah. Begitulah, si kaya harta benda itu, karena keku­rangsempurnaan hatinya tidak pernah merasakan kebaik­an dan sudah dihukum oleh Tuhan Allah seperti masuk dalam neraka dunia sewaktu ia masih hidup. Orang yang adil, jika memikirkan orang yang serupa ini lalu sungguh ia akan merasa berbelas kasihan pada si celaka ini. Dan ia tidak akan membenci orang karena yang berdosa itu sudah mendapat hukuman berhari-hari. Neraka perasa­an, lebih berat bebannya daripada neraka harta benda atau kekayaan.

Sekarang Tuan Asisten Residen tersebut sudah men­jadi atasan Kadiroen. Sebagai pembaca surat kabar S.H.B yang memihak kepentingan kaum bermodal, maka Tuan Asisten Residen tersebut sepakat dengan haluan surat kabar S.H.B. Surat kabar itu mengira bahwa pergerakan rakyat juga bermaksud mencari keuntungan untuk memperbaiki nasib rakyat. Jadi, akan sangat merugikan kaum bermodal. Karenanya surat kabar itu tidak suka dengan adanya rakyat yang bergerak. Begitupun Tuan Asisten Re­siden juga sepakat dengan gerakan S.H.B yang memusuhi Kadiroen.

Tidak lama Tuan Asisten Residen yang baru itu be­kerja, Kadiroen segera dipanggilnya. Tuan Asisten Resi­den bertanya kepada Kadiroen, apakah ia masih selalu saja menulis dalam Sinar Ra’jat. Kadiroen mengaku terus terang bahwa hal itu ia kerjakan terus, dan ia masih tetap memakai nama palsu Pentjari. Lalu Tuan Asisten Residen yang baru berkata:

“Kadiroen, kau seorang wakil patih, kamu seharus­nya bekerja betul sesuai pangkatmu dan tidak usah ikut tulis-menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mengatakan bahwa sangatlah perlu untuk menulis dalam surat kabar karena dengan begitu, ia bisa membantu kemajuan rakyat Hindia. Jadi untuk urusan tulis-menulis itu tidak bertentangan dengan tugasnya. Malahan sangat cocok dengan tugasnya sebagai pejabat yang juga harus memajukan rakyat yang ada di bawah perintahnya. Tuan Asisten Residen menjawab bahwa me­ngenai masalah tulis-menulis itu memang tidak menga­pa. Tetapi mengenai caranya menulis atau isinya karang­an yang ditulisnya itu bisa merugikan kepentingan pe­merintahan negara. Sebab isi tulisan itu bisa menyerang kehormatan pemerintah. Kadiroen menjelaskan pula bah­wa sekarang ini ia menulis dengan hati-hati dan menying­kiri semua hal yang merugikan kepentingan pemerintah. Tetapi kadang-kadang ia memang harus menulis yang se­benarnya. Karena ia seorang pejabat, sudah barang tentu harus menulis yang sebenarnya itu dengan hati-hati dan dengan tidak menyerang kehormatan pemerintah.

Akhirnya, terjadi perdebatan yang hebat antara Tuan Asisten Residen dengan Kadiroen. Dan sebagai penutup maka Tuan Asisten Residen berkata:

Ne, baik! Kamu mau terus karang-mengarang. Saya ingin tahu apa betul semua karanganmu di kemudian ti­dak ada salahnya. Tetapi jika akhirnya saya dapat tahu bahwa kamu melanggar maka dengan tidak ada ampun lagi tentu kamu saya mintakan pemecatan dengan tidak hormat. Sekarang kamu sudah saya peringatkan.”

Setelah selang beberapa hari, Kadiroen dipanggil lagi oleh Tuan Asisten Residen. Di meja Tuan Asisten Resi­den ada bertumpuk-tumpuk lembaran surat kabar Sinar Ra’jat. Tuan A.R sudah membaca betul surat kabar itu, ter­utama semua karangan yang ditandai dengan nama Pentjari.

“Hai, Kadiroen, sayang kamu tidak suka menuruti aku. Sekarang aku mau memintakan surat pemecatan kamu. Sebab kamu telah menulis dua buah karangan di ma­na di situ ada pelanggaran undang-undang,” kata Tuan Asisten Residen.

Kadiroen tidak merasa berbuat hal itu. Ia tanya tulisan yang mana. Tuan A. R menjawab:

“Di sini ada tulisan yang berjudul 'Menangis Memin­ta Pertolongan'. Di dalam tulisan itu kamu meminta pe­merintah supaya di Residentie B diadakan saluran irigasi selokan-selokan air dan sebagainya untuk kepentingan petani. Memang tulisan itu maksudnya baik, tetapi da­lam penutupnya kamu sudah menulis begini:

'Kita mohon pertolongan Gupermen, dan kalau kita mendapatkan pertolongan itu, maka tentulah kita rakyat akan hidup selamat'

“Kalimat ini melanggar pasal 154 Straf Wetboek. De­ngan kalimat tersebut, kamu sudah mengeluarkan pera­saan kebencian pada Gupermen sebab maksudnya ka­limat itu begini: 'Kalau Gupermen tidak menuruti, kehidupan kita, akan dibikin tidak selamat'.

“Kesalahanmu ternyata ada di sini. Kedua, ada lagi pelanggaran dalam tulisanmu: 'Sebabnya Banyak Tebu Terbakar'. Dalam tulisan itu kamu sudah menerangkan dengan betul dan disertai bukti-bukti mengapa banyak kebakaran kebun tebu. Jadi, tulisan itu ada baiknya juga. Tetapi sebagai penutup kamu telah menulis:

'Kesusahan kehidupan rakyat telah melemahkan rakyat melawan nafsu kejahatan. Moga-mogalah pabrik-pa­brik gula yang begitu kaya itu mau turut memper­baiki penghidupan rakyat itu, agar supaya tidak ada orang tertarik melakukan kejahatan'.

“Kalimat itu melanggar pasal 160 Straf Wetboek sebab maksudnya: 'Kalau pabrik tidak suka turut membantu, rakyat supaya membakar tebu saja'.


“Begitulah pikiran saya, Kadiroen. Dan karena itu, saya akan voorstel supaya kamu dilepaskan dari pekerjaan­mu dengan tidak hormat. Bagaimana pendapatmu?”

Kadiroen ditanya pendapatnya, tetapi cukup lama ia tidak menjawab. Beberapa menit ia melihat Tuan Asisten Residen dengan melompong sangat keheranan, seperti seorang melihat rembulan pecah menjadi tiga matahari. Kadiroen tidak bisa percaya pada apa yang telah ia dengarkan itu. Dan ia mengira bahwa ia salah mengerti. Oleh karena itu, ia bertanya lagi, apa yang sudah dika­takan Tuan Asisten Residen mengulangi perkataannya. Kadiroen mendengarkan tuduhan Tuan Asisten Residen yang berhati keras itu. Maka di dalam hatinya ia seperti­nya menangis sekaligus tertawa; menangis sebab Tuan Asisten Residen begitu salah pengertian. Pertama, karena kesalahpengertian Tuan Asisten Residen itu telah dija­dikan kebenaran yang tetap. Kadiroen menyangka ada dua hal yang bisa terjadi. Pertama, Tuan Asisten Residen sengaja mencari-cari kesalahannya sehingga memutarba­likkan maksud kalimat. Atau, kedua, Tuan Asisten Resi­den sangat khawatir bahwa semua surat kabar bumiputera akan menarik kehormatannya kepada pemerintah se­hingga membikin kusutnya negeri. Dengan demikian, hampir di mana-mana ia melihat genderuwo di siang bo­long yaitu mendapati semua hal menjadi jahat ketika jus­tru tidak ada kejahatan. Jadi kalau begitu, maka ternya­talah bahwa kepintaran dan ketajaman pikirannya yang tidak disertai dengan kebaikan hati itu justru sering me­nimbulkan kesalahan, menyangka busuk pada yang baik. Atau, manusia yang busuk melihat bayangannya sendiri di mana-mana. Kadiroen memikirkan hal ini, oleh kare­na itu, ia tidak sakit hati pada Tuan Asisten Residen. Te­tapi malahan ini menjadi berbelas hati. Watak dan hati Tuan Asisten Residen itu sangat miskin dari kebaikan. Dengan sabar dan dengan jelas lalu Kadiroen menerang­kan dan membuktikan bahwa tuduhan Tuan A.R. yang pertama keliru, karena maksud kalimat yang dituduh­kan itu, tidak lain hanya:

“Meminta pertolongan pada pemerintah dan kalau pertolongan itu sudah didapatkan, maka hal itu akan berbuah lesat, sebab akan membuat selamatnya rakyat.”

Orang yang waras ingatan dan batinnya tentu menge­tahui hal ini. Adapun tuduhan yang kedua disangkal oleh Kadiroen karena maksud kalimat itu tidak lain adalah begini:

“Supaya pabrik gula suka menolong dan dengan per­tolongan itu, kejahatan manusia akan bisa dikurangi.” Kadiroen menerangkan bahwa sampai waktu ini ti­dak ada tuntutan dari hakim pengadilan. Tidak ada tu­duhan delik pers, karena tulisan-tulisan tentang hal itu. Jadi, terbukti bahwa yang salah penerimaannya hanya Tuan Asisten Residen sendiri. Lalu terjadi perselisihan yang ramai antara Kadiroen dengan Tuan Asisten Resi­den. Dan akhirnya sebagai penutup Tuan A.R. berkata: “Kadiroen, memang perkataanku susah ditangkap, buat kamu sendiri dan buat sebagian orang-orang lain. Memang, tulisannya tidak bersalah melanggar undang-­undang. Tetapi saya katakan, kamu sudah betul-betul melanggar undang-undang. Dan saya sebagai Asisten Re­siden di sini memiliki kekuasaan buat menetapkan pendapatmu. Oleh karena itu, saya sekarang tetap akan mengajukan pelepasanmu.”

Kadiroen menjawab bahwa itu urusan Tuan Asisten Residen. Tetapi karena Kadiroen merasa ia tidak menda­patkan keadilan, ia meminta izin untuk bertemu sendiri dengan Tuan Residen, untuk menerangkan bahwa ia ti­dak mempunyai kesalahan apa-apa. Tuan Asisten Resi­den menantang Kadiroen untuk berbuat itu, dan ia diberi tahu bahwa lain hari Kadiroen akan mendapat panggilan untuk menghadap Tuan Residen.

Beberapa hari setelah kejadian itu, maka Kadiroen ter­paksa menghadap Tuan Residen karena dipanggil. Pem­besar ini adalah seorang pejabat yang sudah tua. Ia su­dah biasa hidup dengan zaman kuno dan tidak begitu co­cok dengan aturan dan keadaan zaman baru yang men­jelmakan pergerakan rakyat Hindia itu. Banyaknya peker­jaan sudah tidak bisa memberi waktu banyak kepadanya untuk memikirkan dan mempelajari secara dalam tentang hal-hal dan sebab-sebab pergerakan rakyat itu. Te­tapi tuan yang kuno itu percaya kepada Tuhan Allah dan memiliki hati yang adil. Tuan Residen berbuat lain de­ngan Tuan Asisten Residen muda yang memintakan le­pasnya Kadiroen itu. Di muka Tuan Residen, maka Ka­diroen ditanya bermacam-macam hal. Kadiroen menje­laskan perkara dengan sebenarnya. Sesudah pembicaraan menjadi terang, maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen! Memang saya tidak membetulkan penda­pat Tuan Asisten Residen. Hari kemarin ia sudah omong panjang lebar dengan saya. Tetapi saya sudah mengata­kan kepadanya bahwa tulisanmu yang menyebabkan tu­duhan Tuan Asisten Residen menurut pendapat saya me­mang tidak melanggar undang-undang. Oleh karena itu, saya tidak suka kamu dilepas. Hal itu membikin tidak enaknya Tuan Asisten Residen. Ia merasa di dalam ka­langan Binnenlandsh-Bestuur kurang mendapatkan ke­hormatan dan kesenangan. Karena ia punya pendapat baik, katanya, tidak semua dituruti dan disepakati semua orang. Ia merasa selalu saja mendapat celaka. Meskipun, boleh dibilang sebenarnya ia paling cepat mendapat pangkat Asisten Residen. Oleh karena hal-hal itu, seka­rang ini ia minta lepas sendiri dengan hormat. Berhubung dengan kelepasannya Tuan A.R. yang diminta itu, maka perkaramu menjadi gampang diputuskan. Sebab umpa­manya ia tetap menjabat, dan minta voorstel-nya melepas kamu diteruskan kepada pemerintah, tentu ini hari per­karamu belum bisa diputuskan. Adapun putusan saya dalam perkara ini begini: sebagaimana kamu tahu, maka di bawah perintah saya, sekarang ini ada dua pangkat besar yang terbuka, yaitu pangkat regen di Kota P dan pang­kat patih di kota M. Saya sudah melihat semua Staat van Dienst dan Conduite-Staat (Catatan Hal Ihwal Pekerjaan dan Urusan Setiap Priyayi) dari amtenar-amtenarku. Dan sa­ya tahu bahwa kamu ada di paling depan menurut voorstel-nya Tuan Asisten residen yang dahulu, kamu ada di rangking 1. Karena itu, kamu bisa saja voorstel-nya menjadi regen di Kota P atau menjadi patih di Kota M. Kalau ka­mu mau berhenti menulis di surat kabar Sinar Ra’jat, tentu saya akan membikin voorstel supaya kamu menjadi regen itu. Setidak-tidaknya kamu menjadi patih di Kota M. Te­tapi kalau kamu terus menulis di Sinar Ra’jat, tentu saya tidak akan voorstel-kan kamu. Dan kalau patih yang kamu wakili ini sudah sembuh, tentu kamu akan kembali men­jadi wedono lagi. Saya tidak akan voorstel-kan menaikkan pangkatmu karena kamu akan mempunyai waktu yang terbagi dua, yaitu untuk keperluan pekerjaanmu dan un­tuk keperluan menulismu. Pekerjaan regen atau patih itu begitu berat, sehingga kalau dikerjakan betul oleh se­orang biasa, tentu orang yang berpangkat itu lalu tidak ada waktu untuk menulis. Sebaliknya, kalau terus tulis­-menulis tentu pekerjaannya menjadi kurang benar sebab waktunya terpecah. Adapun pekerjaan wedono masih bi­sa merangkap begitu. Dari sebab itu, kalau kamu tetap masih menjadi wedono tentu saya tidak melarang kamu untuk tulis-menulis. Tetapi jika akhirnya ada delik pers yang sampai menghukum kamu, kamu tentu bisa berpi­kir sendiri bahwa kamu akan dapat celaka. Jadi, sekarang ini saya memberi waktu kepada kamu buat memilih; 'menjadi patih atau regen dengan tidak menulis lagi atau tetap menjadi wedono dengan boleh terus menulis dalam Sinar Ra'­jat'. Pilihlah yang mana?”

Kadiroen mendengarkan perkataan Tuan Residen yang seperti itu, tentu ada sedikit bahagia hatinya. Kare­na Kadiroen merasa mendapatkan keadilan dalam per­selisihannya dengan 'Tuan Asisten Residen. Tetapi seka­rang ia mesti memilih lagi. Kadiroen tahu, dalam pangkat dan pekerjaan priyayi ia sering mendapatkan kesusahan atau sukar betul untuk memuliakan penghidupan rakyat dan untuk memintarkan dan menguatkan rakyat di za­man baru ini. Sebaliknya, dalam pergerakan rakyat ter­buka jalan yang gampang untuk kepentingannya ini. Ka­diroen hanya memikirkan betul perkataan Tuan Residen yang berkata tentang waktu yang terpecah itu. Kalau te­tap ia menjabat sebagai priyayi, maka terpaksa ia meme­cah waktunya, sehingga ia tidak bisa berbuat sesungguh­nya dan semestinya dalam pergerakan rakyat itu. Kadi­roen juga ingat bahwa ia kemarin membaca suatu adver­tensi yang menjadi mede-redacteur (yang gajinya hanya se­dikit untuk organisasi P.K. Sinar Ra’jat). Ia tahu, bahwa kalau ia yang minta pekerjaan mede-redacteur itu, tentu akan ia dapatkan. Sedangkan Tuan Residen memberikan dua perkara yang harus ia pilih. Tetapi sekarang Kadi­roen menambahi sendiri dengan satu pilihan lagi:

(1) Pangkat regen, setidak-tidaknya patih, tetapi mes­ti memutuskan hubungannya dengan pergerakan rakyat. Gaji dan pangkatnya amat besar. Tetapi cita-citanya atau idealismenya akan mati.

(2) Pangkat dan gaji wedono ada cukupan, berhu­bungan dengan gerakan rakyat masih bisa. Tetapi peker­jaannya di sana-sini tidak bisa semestinya karena wak­tunya terpecah.

(3) Pangkat tidak ada dan gaji hanya sedikit, tetapi sebagai mede-redacteur bisa menunjang cita-citanya. Yaitu membantu dengan ikhlas semua tenaga dan usahanya supaya rakyat Hindia bisa lepas, pintar dan kuat untuk bi­sa merdeka lahir batin.

Ia bisa menuntut cita-citanya bahwa tanah airnya akan merdeka, berdiri sendiri seperti bangsa lainnya, se­hingga bangsanya akan bisa dipandang sama dan sede­rajat dengan bangsa lain.

Dalam hal menilik tiga perkara ini, maka sebagaima­na dahulu sudah diceritakan oleh orangtuanya, terserah buat Kadiroen. Jadi, ia boleh memilih yang ia sukai. Oleh karena itu, Kadiroen dengan cepat memutuskan dan me­milih: meminta lepas dari pangkat dan jabatan priyayi dengan hormat sebab ia mau menjalani perbuatannya sendiri yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinannya, yang sungguh mulia untuk kepentingan orang banyak.

Begitulah, maka Kadiroen menerangkan keputusan­nya kepada Tuan Residen. Ia menjelaskan dengan gam­blang sebab-sebabnya ia ingin lepas dengan hormat itu. Tuan Residen mendengarkan semua keterangan Kadi­roen lalu menjadi gembira dan memijat tangan Kadiroen dengan cara menghormati. Maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen, saya gembira sekali mengetahui dirimu, yang sekarang dengan perbuatanmu sudah menunjukkan bahwa kamu memang seorang kesatria. Kamu sudah me­nyatakan bahwa kamu memang seorang yang pemberani. Artinya bukan berani berkelahi seperti anak-anak, tetapi berani, sebab kamu mau melepaskan semua kepentingan dirimu sendiri untuk memenuhi kepentingan orang ba­nyak menurut keyakinanmu, Roch dan Rah adhi sejati tentu akan mendapatkan buah yang lezat dari perbuatannya. Kadiroen, saya mendoakan semuga kamu selamat.”

Begitulah, dengan senang hati dan tenteram, Kadi­roen meninggalkan pangkat dan pekerjaannya untuk hi­dup sengsara, tetapi bermaksud mulia, sedangkan Tuan Asisten Residen muda meninggalkan pangkat dan peker­jaannya, dengan murka dan sakit hati. Tetapi akan hidup terus dalam kelimpahan harta benda. Yang baik sudah mendapat surga di batinnya, sedang yang buruk sudah pula mendapat neraka di batinnya. Neraka batin tidak bi­sa ditukar dengan surga batin. karena kekayaan batin le­bih langgeng atau lebih tetap serta kuat (onvergangkelijk).

 
RocketTheme Joomla Templates