|
Tumbuhnya gerakan dan pemikiran komunisme di Iran, dalam sudut pandang nyata,
dimulai di ladang minyak Baku di Rusia sebelum tahun Revolusi 1917. Beribu-ribu
imigran buruh Iran telah dipekerjakan oleh rezim tsaris di tambang minyak dimana
mereka bekerja bahu-membahu dengan buruh dari Rusia, Azeri, juga Armenia dan
bersentuhan dengan propaganda dan agitasi Bolshevik. Para pekerja ini memainkan
peranan yang signifikan dalam perkembangan Partai Komunis di Iran. Hampir 50
persen dari para buruh di ladang minyak Baku adalah orang Iran yang kebanyakan
dari mereka melakukan kontak dengan kaum Bolshevik yang bekerja di serikat buruh
tambang minyak.(1) Catatan statistik resmi menunjukkan bahwa 190.000 orang Iran
pergi ke Rusia di tahun 1911, dan 16.000 kembali ke rumah pada tahun yang
sama.(2) Akan tetapi perkiraan yang tidak resmi menunjukkan bahwa tidak kurang
dari 300.000 pekerja Iran bermigrasi ke Rusia setiap tahun. Para buruh ini
umuninya berasal dari Azerbaijan dan Gilan, tetapi juga banyak yang datang dari
bagian lain di Iran. Kaurn buruh Iran demikian terpengaruh dengan kaum Bolshevik
sehingga setiap saat mereka kembali ke Iran, mereka membawa tradisi dan gagasan
Marxis Rusia bersamanya. Untuk pertarna kalinya dalam sejarah Iran mereka
mengumandangkan slogan terkenal dari Manifeste Komunis: Kargaran-e-Japan
Mottahad Slotweed ("Kaum Buruh Sedunia, Bersatulahl")
Revolusionaris Iran memiliki kaitan dengan aktivitas dari Partai Demokratik
Sosial Rusia sejak awalnya. Ketika Iskra ("Percikari') mulai
dipublikasikan pada bulan Desember 1900, revolusionaris Iran mengirim
terbitannya ke Baku melalui Persia. Revolusionaris inilah yang kemudian dikenal
sebagai Sosial Demokrat.(3) Dalara rangka urusan Iskra, Krupskaya suatu saat
pernah menulis surat kepada Torkhan mengnyakan padanya apakah dia bisa mengirim
terbitan itu ke Rusia melalui Tabriz. Dalara sebuah surat kepada L.Y.
Galperin, Lenin juga menuliskan tentang pengiriman yang lebih jauh ke Persia
melalui Wina, yang dia katakan hanya sebagai eksperimen terbaru, jadi hal itu
masih "terlalu dini untuk mengatakan gagal; hal itu mungkin berhasil."
(4) Galperin sendiri bertugas untuk mengirim Iskra ke Baku (oleh Sosial
Demokrat Rusia) pada Musim Semi tahun 1901. Dia mengorganisasi Komite Baku dari
Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Fungsi dari komisi ini adalah untuk
mengatur kerahasiaan pencetakan dan transportasi literatur ilegal dari luar
negeri, serta distribusinya di dalam negeri Rusia.
Kebanyakan kaum Bolshevik malahan berpartisipasi dalara gerakan Mashrutiat
(Konstitusional) antara tahun 1905 hingga tahun 1911 dan kehilangan nyawanya
bersama dengan revolusionaris Iran. Gartovk, duta besar Tsar di Iran, mengirim
surat kepada pemerintah Rusia pada tanggal 2 Oktober 1908, bahwa komandan
artileri Sattar Khan (pemimpin revolusi Tabriz) adalah seorang awak dari Kapal
Perang Potemkin yang terkenal, yang telah melarikan diri ke Rumania namun
belakangan kembali lagi ke Iran, dimana dia bergabung dengan para
revolusionaris. Duta besar lebih jauh menulis bahwa literatur revolusioner itu
dikirimkan dari Tabriz oleh para revolusionaris Rusia.(5)
Pada waktu itu sebagian dari Manifesto Komunis diterjemahkan ke dalam bahasa
Persfa pada waktu revolusionaris Rusia yang dipimpin oleh Sergo Orjonikidze
yang datang ke Iran tahun 1909 dalara rangka melaksanakan aktivitas
revolusioner. Istrinya menulis tentang hal ini dalara bukunya Jalan Kaurn
Bolshevik. Lenin sendiri mengadakan kontak dengan beberapa orang kaum
Bolshevik Transkaukasia, yang berada di Iran selama berlangsungnya reaksi
setelah kekalahan dalara Revolusi 1905. Kelompok Bolshevik Transkaukasia
menduduki peran penting dalam menyebarluaskan ide-ide Marxisme di Iran selama
Gerakan Konstitusional menentang dinasti Qajar.(6)
Namun, pada mulanya gerakan Sosial Demokrat Iran didominasi oleh, bukannya
Marxisme, akan tetapi tren yang sama dengan Narodnisme Rusia. Alan Woods dalara
bukunya yang terbaru Bolshevism, the Road to Revolution, menulis:
"Kaum Narodnik dimotivasi oleh volunterisme revolusioner: yakni gagasan
bahwa keberhasilan revolusi bisa dijamin dengan kemauan baja dan penentuan
sikap sekelompok kecil lelaki dan perempuan yang berdedikasi. Faktor subyektif
tentu saja menentukan dalara sejarah umat manusia. Karl Marx menerangkan
bahwa lelaki dan perempuan membuat sejarahnya sendiri, tetapi dengan tambahan
bahwa mereka tidak berhasil melakukannya di luar konteks hubungan sosial dan
ekonomi yang terbentuk secara independen dari keinginan mereka."(7)
Pada dasarnya, terorisme adalah tendensi borjuis kecil (petit-bourgeois), yang
betul-betul asing bagi tradisi kelas pekerja. Bahwasanya gerakan tersebut musti
memilih menggunakan metode-metode serupa di masa awal adalah sernata merupakan
refleksi dari fase perjuangan yang masih terbelakang. Hal itu merupakan akibat
langsung dari rendahnya tingkat pembangunan sosio-ekonomi di Iran. Pembangunan
daya produktif yang lambat lagi melempem menemukan refleksinya dalam struktur
kelas yang terbelakang dalam masyarakat Iran pada suatu ketika saat kelas
pekerja masih dalam masa balita. Bagi para mahasiswa dan intelektual progresif,
terlihat bahwa masyarakat berada dalam keadaan yang benar-benar stagnan. Dalara
ketidaksabaran, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada jalan keluar dari krisis
yang ada dalcm masyarakat kecuali dengan cara penggunaan senjata dan bom.
Meskipun hal ini tidak bisa dibenarkan walau pada saat itu sekalipun, setidaknya
hal itu bisa dimengerti pada suatu titik manakala mode produksi kapitalis masih
berada dalam tahap perkembangan primitif. Kaum buruh masih dalam fase embrionik.
Dengan demikian, para pelajar mencari sebuah basis di antara kaum petani yang
tak terpuaskan. Yang terakhir ini sangat tertindas dalam cengkeraman para tuan
tanah feodal dan seringkali melancarkan serangan putus asa terhadap tuan tanah
dan kebangsawanan feodal. Akan tetapi keterbelakangan yang lazim dari rakyat
pedesaan, sikap masa bodoh serta tuna aksara, dan pembawaan dari kaum tani yang
berserak-serak dan tak terorganisir dengan baik, memiliki arti bahwa, dengan
hanya mengandalkan diri sendiri, mereka tidak mampu menawarkan jalan keluar.
Hanya dengan mencari sekutu revolusioner yang kuat di perkotaan, para petani
bisa berdiri tegak menuntut atas sebuah transformasi masyarakat yang
revolusioner.
Revolusionaris tahap awal ini adalah &rangorang pemberani dan tulus,
yang mendedikasikan diri untuk mencari jalan menuju kemerdekaan manusia. Mereka
berpikir bahwa melalui metode ini mereka akan sampai pada sebuah perubahan dalam
masyarakat dan mengakhiri penindasan serta eksploitasi. Akan tetapi di samping
keberanian mereka, mereka kekurangan pemahaman teoritis yang penting untuk
memimpin revolusi itu. Mereka habiskan banyak waktu guna berdiskusi tentang
bagaimana cara membunuh Shah serta kaum aristokrat dan bangsawan feodal yang
dibenci. Pada suatu kesempatan, mereka mengirimkan sebuah bingkisan hadiah
kepada gubemur Kota Marand atas nama teman dekatnya yang hidup di pedesaan.
Ketika Gubernur membuka bingkisan itu, bom meledak dan tewaslah dia terbunuh.
Tetapi biasanya mereka,tidak sedemikian sukses.
Maksud para pemuda ini adalah mengarahkan sasaran hanya kepada para pejabat
yang bengis dan penguasa yang lalim. Mayoritas aktivitas organisasional mereka
berkisar di seputar tindakan terorisme individual menentang tuan tanah feodal
dan anggota kaum bangsawan. Selama beberapa waktu dihantui ketakutan atas
pembunuhan, para pejabat pemerintah hidup dalam keadaan panik terus-menerus.
Dari sekian revolusionaris, ada satu figur yang menonjol, Hyder Khan Amougly,
yang mencoba melakukan pembunuhan terhadap sang Raja Moh. Ali Shah atas
instruksi Dewan Revolusioner Pusat. Pada bulan Februari 1908, setelah gagal pada
upaya pertama, dia melakukan usaha yang kedua, ketika dia mencoba menaaamkan bom
di bawah mimbar dimana Sang Raja dan segenap bawahan hendak berdiri di situ.
Walapun demikian, yang kedua ini tak lebih beruntung dari upaya pertama.
Bahkan jikalau mereka berhasil, tindakan semacam itu sekali-kali tidak akan
nienimbulkan efek paling ringan dalam memperlemah rezim tersebut, apalagi untuk
menggulingkannya. Kesalahan dari para teroris adalah membayangkan bahwa negara
hanya bersandar pada individu-individu. Tapi bukan hal itu yang terjadi. Seorang
gubernur reaksioner akan digantikan dengan yang lain, dan negara dipaksa untuk
mengambil langkah-langkah represif baru dengan kekuatan baru. Monarki Iran tidak
bisa digulingkan oleh bom teroris melainkan hanya dengan gerakan massa
revolusioner. Metode terorisme individual yang primitif, sebagaimana kita amati,
berkaitan dengan sifat hubungan kelas di Iran yang relatif tidak maju saat itu.
Sementara, kaum proletar masih dalam status kebayiannya. Kaum revolusionaris,
pada tingkatan tertentu, berhasil dalam upayanya untuk mendapatkan basis di
antara para pemuda, kaum tani, dan di antara suku yang lemah dan tertindas.
Mereka sangat setia kepada citacita kaum miskin dan pergi ke desa-desa di mana
mereka bekerja dengan buruh tani seraya berusaha meyakinkan mereka untuk
berjuang, tapi, seperti halnya usaha-usaha kaum Narodnik Rusia sebelumnya, para
revolusionaris ini tidak mendapatkan respons yang serius dari mereka. Kadangkala
mereka begitu frustasi dengan tiadanya kemajuan yang mereka dapat sehingga
mereka mencaci maki para petani, dan tentu saja dengan hasil yang masih jauh
lebih buruk dari sebelumnya.
Mereka bukanlah benar-benar teroris sejauh mereka berupaya mencari basis di
kalangan rakyat banyak. Mereka benar-benar mencari cara untuk mengakhiri sistem
dengan cara-cara revolusioner. Tentu saja mereka tidak seperti teroris jaman
sekarang yang memainkan keseluruhan peran negatif dalam perjuang an
revolusioner. Pada saat ketika kekuatan proletar terlihat jelas bagi semua
orang, dan ketika tidak seorang pun bisa secara serius mempermasalahkan
peranan utama kelas pekerja dalam revolusi, orang-orang ini mencoba untuk
membawa kembali gerakan kepada keadaanya di jaman pra-sejarah, kembali kepada
meiode terorisme individual yang dikecam oleh Lenin dan semua orang Rusia
Marxis. Metode semacam itu hanya bisa menabur benih kebingungan, memperlemah
gerakan revolusi dan menggerogoti kesadaran diri kaum proletar, dan justru
memperkuat reaksi (kaum reaksioner) dan aparat negara yang mereka nyatakan
sebagai musuh yang harus dilawan.
Metode semacam itu tidaklah memajukan cita-cita revolusi sosialis dan kelas
pekerja namun sebaliknya, mereka menolong para agen dan tentara bayaran
imperialis melestarikan kekuasaan mereka dengan menyabotase kaum buruh dan
memotong jalan sejati menuju perjuangan revolusioner. Metode perjuangan yang
primitif dan keting galan jaman ini hanya merupakan satu fase transisi dimana
pada tingkat yang lebih besar akan dianggap usang begitu kaum buruh yang masih
bayi ini memasuki kancah politik. Salah satu contoh pertama adalah gerakan
buruh tekstil dan buruh pabrik kulit di Teheran, yang menyampaikan ultimatum
kepada majelis bahwa jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka mereka akan
menghentikan kerja. Pemerintah mereaksi ancaman ini dengan melancarkan tindakan
represi terhadap' para pekerja, yang membalas dengan meneruskan aksi mogok.
lnilah pemogokan pertama yang dilancarkan oleh para buruh dalam catatan sejarah
Iran, dan pemogokan pertama ini berhasil memenangkan sebuah pengurangan jam
kerja dari 14 jam menjadi 10 jam sehari. Ini merupakan pengalaman pertama mereka
tentang betapa kekuatan bisa dicapai dengan aksi bersama dari kaum buruh. Dampak
pemogokan ini sungguh hebat, sehingga dalam setiap siklus revolusioner
debat-debat bermula pada peranan kaum buruh dan potensi mereka. Pemogokan ini
merubah perilaku dari kesemua revolusioner serius. Seiring dengan berkembangnya
kekuatan dan daya rekat kelas pekerja, serta peranan sosial mereka semakin
jelas, maka kaum revolusionaris lama memodifikasi metode perjuangannya yang
sudah kuno, dan mulai secara serius mempersiapkan kaum buruh.
Serangkaian suratkabar muncul dalam periode ini, dan sejumlah artikel tentang
Marxisme yang kian bertambah mulai dipublikasikan. Cendekiawan Soviet, Ivanov,
mengungkapkan sejumlah polemik antara revolusionaris Iran dengan Kautsky dan
Plekhanov.(S) Menurut dokumen ini, pada tanggal 16 Oktober 1908, sebuah
pertemuan diselenggarakan dimana satu kelompok Sosial Demokrat mengemukakan
opini bahwa Iran telah mencapai tahap kapitalisme. Dalara pandangan mereka,
semestinya kaum revolusionaris tidak memberikan dukungan pada kaurn borjuis,
yang semata-mata cuma akan mengeksploitasi situasi demi keuntungan sendiri,
seperti yang telah mereka lakukan dalam revolusi Perancis. Kaum borjuis tak
hanya tidak mampu memainkan peranan progresif, tetapi justru akan mencelakakan
pergerakan kaum buruh dan revolusi.
Dalam kenyataannya, bersilangan banyak tendensi berbeda dalam tubuh Hemmat
("ambisi"), kelompok bentukan orang Iran yang diasingkan di Baku pada
tahun 1904 berkat koordinasi dengan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR).
Kelompok Hemmat secara aktif terlibat dalam gerakan Mashrutiat atau
konstitusional di Iran. Kelompok ini menderita banyak perpecahan, yang salah
satu kelompok pecahannya membentuk kelompok Mujahidin. Tuntutan utama dari
kelompok ini termasuk perancangan -sebuah majelis (parlemen), hak untuk memilih,
kebebasan pers dan distribusi tanah. Pada tahun 1916 mereka memasuki jaringan
kolaborasi dengan Partai Bolshevik. Kaum revolusionaris tua Iran yang
diasingkan, bersama-sama dengan Mujahidin (pecahan dari organisasi Hemmat)
membentuk sebuah kelompok baru, Hezb-e-adalat ("Partai
Keadilan"), yang menjadi tulang punggung dari Partai Komunis Iran masa
datang. Setahun berselang, terjadi sebuah peristiwa yang merubah keselurufan
rangkaian dalara sejarah dunia.
Revolusi Oktober 1917 di Rusia adalah sebuah inspirasi bagi Iran. Kaum
revolusionaris Iran melaksanakan tugas proletarian internasional, berjuang di
jajaran kelas buruh dunia melawan kekuatan kontrarevolusioner selama masa
perang sipil di Uni Sovjet. Antara tahun 1907 hingga tahun 1915 dua pakta
rahasia dikeluarkan antara Tsar dan imperialis Inggris yang berarti pembagian
Iran ke dalam wilayah pengaruh. Revolusi Oktober dengan cepat mempublikasikan
traktat rahasia dan menghapuskan semua kebijakan ekspansionis kolonial tsaris.
Iran adalah merupakan sebuah contoh utama atau penerapan kebijakan kolonial yang
kejam dilakukan oleh tsarisme Rusia dalara kolaborasinya dengan apa yang disebut
dengan demokrasi barat, dimana hak-hak nasional rakyat koloni diberlakukan bagai
nilai kembalian yang kecil. Revolusi Oktober terbukti sebagai benteng pertahanan
praktis dari segala bentuk penindasan nasional. Untuk pertama kalinya dalara
sejarah modern, bangsa-bangsa yang tertindas menemukan pelindung yang kokoh
dalara bentuk Negara Buruh di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky. Terinspirasi
oleh revolusi Oktober, massa Iran bahkan biasa menyanyikan lagu revolusioner
seperti: khosh khabar badai nasim soinal keh bema mirasad zaman vesal (Sebuah
kebahagiaan baru dibawa oleh angin utara kepada kita, menyentuh kita,
menjadikannya berbentuk dua hati yang baik melebiur). (9)
Inspirasi dan energi yang didapat masa rakyat Iran dari revolusi Oktober juga
menemukan suatu ekspresi yang lebih praktis dalam serangkaian kebangkitan.
Setelah perang, Iran berada dalam sebuah keadaan instabilitas parah. Bulan April
1920, kaum revolusionaris di Azerbaijan mendirikan pemerintahan nasional mereka
sendiri; tak lama berselang di Gilan dan Khurasan pemberontakan merebak,
menentang rezim yang lemah, rapuh dan tidak stabil di Teheran. Pemberontak
merancang republik independen sendiri. Di kota-kota, rakyat, setelah mengalami
radikalisasi oleh pengalaman penjajahan bangsa asing dan kemenangan Revolusi
Oktober 1917 di Rusia, juga dalara kegemparan revolusioner. Kelas buruh
industrial memimpin sebuah gelombang perjuangan baru di kota-kota besar. Pada
tahun 1921 serikat mengklaim memiliki anggota sebanyak 20.000 di industri minyak
saja. Menjelang November 1921 gerakan pekerja telah mendapatkan semacam kekuatan
yaitu, di bawah pengaruh Partai Komunis Iran yang baru saja dibentuk, organisasi
Dewan Serikat Pusat yang dibentuk terafiliasi dengan Serikat Buruh Merah
Internasional yang didirikan oleh Komunis Internasional.(1O) Masih di tahun 1921
para buruh pabrik cetak, pekerja pos, para guru, penambang minyak dan kuli
pelabuhan melakukan pemogokan. Meskipun ukuran jumlah kaum buruh yang ikut bisa
dibilang sedikit, namun tingkat perjuangannya sangat tinggi. Sebuah pesan salam
revolusioner disampaikan kepada Trotsky, yang berbunyi:
"Dewan Perang Revolusioner dari Tentara Merah Persia, yang diatur oleh
keputusan Dewan Komisariat Rakyat Persia, mengirimkan salam komunis kepada
Tentara Merah dan Angkatan Laut Merah. Setelah melewati kesengsaraan yang hebat
dan mengalami segala macam bentuk penderitaan, kami berhasil menghancurkan kaum
kontra-revolusi internal kami yang bukan lain adalah agen imperialis. Dengan
keinginan untuk menempa masyarakat, Tentara Merah di Persia diorganisasikan
dengan tujuan untuk menghancurkan perbudakan terhadap orang-orang
Persia."
Pesan itu ditutup dengan slogan: "Hidup serikat persaudaraan antara
Tentara Merah Rusia dengan Tentara Merah Persia muda!" dan ditandatangani
oleh pemimpin Dewan Perang Revolusioner Mirza Kuchk Khan, Komandan angkatan
bersenjata Ehsan Ullah dan, anggota Dewan Perang Revolusioner, Muzzafar Zadeh.
Dalam balasan surat ini, Trotsky menulis bahwa berita pembentukan Tentara Merah
Rusia "telah memenuhi hati kauri dengan kebahagiaan",. (11)
Partai Adalat didirikan dan mulai menerbitkan dua suratkabar, Hormat ("Respek")
di Persia serta Yoldash ("Kamerad") di Azerbaijan. Pada akhir
tahun 1919 beberapa revolusioner terkernuka dari kelompok ini bergabung dengan
organisasi revolusioner lainnya yaitu Kereta Timur Merah, yang sangat dekat
dengan kaum Bolshevik dan berjuang melawan kontra-revolusi di Asia Tengah.
Partai Komunis Iran dibentuk pada bulan Juni 1920, akan tetapi pada awalnya
terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para anggota. Beberapa orang
tetap mempertahankan garis kaum Bolshevik, sedangkan yang lainnya memakai
garis yang telah dipertahankan oleh kaum Bolshevik Lama sebelum adanya tesis
April dari Lenin. Sementara sisanya masih berpegang pada posisi Menshevik.
Pertentangan ini mewarnai Kongres Rakyat Timur di Baku, yang' diperhelatkan
selama tujuh hari di tahun 1920, dengan partisipasi 204 delegasi. Delegasi Iran
melakukan serangkaian pertemuan untuk mendiskusikan masalah revolusi akan tetapi
tidak sampai pada kesimpulan yang jelas.
Kekalahan Republik Soviet Gilan telah meluapkan frustasi dan kebingungan
sehingga orangorang mulai saling melemparkan kesalahan atas kekalahan yang
menimpa. Dikarenakan tajamnya perbedaan internal yang terjadi, maka Partai
benar-benar mendirikan dua Komite Sentral yang terpisah. Hal ini jelas tidak
dapat dipertahankan. Pada tanggal 25 Januari 1922 Partai Komunis Iran mengadakan
sebuah pertemuan dimana perwakilan dari Komintern juga turut ambil bagian,
kemungkinan besar berkat desakan dari Lenin. Sebelumnya Komite Sentral Partai
menulis banyak surat kepada Lenin menyangkut situasi di Iran dan posisi Partai.
Pada akhir pertemuan tersebut, keberadaan dua Komite Sentral di dalara tubuh
Partai ditolak. Demi mempertahankan kesatuan, maka sebuah Komite Sentral
gabungan diorganisir, terdiri dari 20 anggota. Komite lokal dan Komite Sentral
yang lama dibubarkan. Akhimya, diputuskan untuk menyelenggarakan Sidang Pleno
Komite Sentral berikutnya pada tanggal 1 Mei 1922. Bagaimanapun juga, pada
pertemuan ini perbedaan dalam hal perspektif dan metode Iran tidak dengan pas
dipecahkan. Sejumlah besar suratkabar muncul pada periode itu dan pandangan
politik yang berlainan diekspresikan di halaman-halaman majalah dan surat kabar
ini. Diantara dari mereka adalah: Kommunist ("Komunis"), Enkelabee-e-Sorkh
("Revolusi Merah"), Haqeqat ("Kebenaran"), Reykan
("Panah"), Khalq ("Rakyat"), Javagheh ("Pijar"),
Peyak ("Duta"), Nassihat ("Nasehat"), Edalat ("Keadilan"),
Iran-e-Sorkh ("Iran Merah"), Eqhtasadeh Iran ("Ekonomika
Iran"), Peykar ("Perjuangan"), Nohzat ("Gerakan"),
Satareh Sorkh ("Bintang Merah"), dsb.
Partai Komunis Iran telah mengalami berbagai gejolak dan perubahan di
sepanjang dekade setelah dibentuknya formasi pada bulan Juni 1920. Dekade itu
ditandai dengan peristiwa-peristiwa historis besar di Iran: bangkit dan
tenggelamnya Republik Soviet Gilan, kejatuhan dinasti Qajar dan pembentukan
dinasti despotis Pahlavi, militansi masyarakat urban khususnya kaum buruh,
gelombang-gelombang pemogokan, dan sebagainya. Partai Komunis Iran sangat aktif;
mulai bekerja di antara para wanita dan membeutuk organisasi-organisasi
berbeda, seperti Masyarakat untuk Evolusi, Kebangkitan Wanita serta Wanita
Patriot. Organisasi-organisasi ini tidak hanya mendidik wanita, tetapi juga
memberikan pengetahuan teknis bagi industri kerajinan tangan. Partai juga
telah mengorganisir sayap kebudavaan yang memainkan peranan luar biasá dalam
menyebarluaskan gagasan-gagasan kepada masyarakat dalam cara yang sederhana.
Pertunjukan dan drama memainkan peran yang signifikan dalam mengembangkan
organisasi di antara lapisan masyarakat yang lebih luas. Yang paling populer
dan terkenal adalah Shah Abbas Drabaray Mobaraza, Enkalabe-Murdom-e-Tabraiz
dan Nadir Shah Afshar.
Dalara Sidang Pleno Komintern yang Keenam dan Ketujuh (Februari 1926 hingga
NovemberDesember 1926), sekretaris jendral Partai Komunis Iran meminta bantuan
Komintern dalam penyelesaian krisis internal Partai Iran. Dalam Sidang Pleno
Komite Eksekutif Komintern-sebuah pertemuan khusus yang diadakan untuk membahas
masalah-masalah Partai Komunis Iran serta perspektifnya-diputuskan bahwa kongres
berikutnya (yang kedua) akan diselenggarakan bulan September 1927, dimana mereka
akan mengupas masalah itu lebih jauh. Kongres kedua Partai Komunis Iran diadakan
tepat pada waktunya dengan sembunyisembunyi pada bulan September 1927. Dua
puluh. delegasi mengambil bagian, dan yang menjadi agenda adalah situasi
internasional, karakterisasi rezim Reza Khan, masalah-masalah nasional,
tantangan-tantangan organisasional, konstitusi Partai Komunis Iran, aktivitas Komsomol
(kepemudaan) dan tugas-tugas bagi garda perempuan.
Item yang paling penting dalam agenda adalah karakterisasi Reza Khan yang
telah memproklamirkan diri sebagai raja di bawah dinasti Pahlavi yang baru saja
didirikan pada tanggal 12 Desember 1925. Di samping isu-isu lain, hal ini
merupakan titik pusat pertentangan dalam Partai. Beragam opini dikemukakan,
dengan beberapa orang mempertahankan pendapatnya bahwa kudeta yang dilakukan
Reza Khan mempunyai arti pelucutan feodalisme dan dominasi kaum borjuis, sedang
beberapa yang lain tetap berkeras bahwa kudeta itu hanyalah sekedar sebuah
revolusi dalam istana, tanpa membawa pengaruh bagi relasi kepemilikan. Beberapa
orang yang lain berpendapat bahwa untuk berjuang melawan imperialisme, Partai
haruslah bersekutu dengan Reza Khan, sedang kubu lainnya mengkarakterisasikan
dia sebagai agen imperialisme.
Sekali lagi Partai gagal mencapai satu keputusan dan perbedaan masih tetap
bersemayam dalam tubuh organisasi. Dalam kenyataannya, apa yang telah terjadi
adalah bahwa sesudah revolusi Oktober di Rusia, krisis yang menimpa dinasti
Qajar telah mencapai tingkat akut. Di pucuk kekuasaan, sebuah perpecahan terjadi
antar monarki, kaum bangsawan dan jajaran aristokrat dalam Birokrasi, yang
merupakan tulang punggung dari pemerintahan pusat. Mereka di masa lampau adalah
penguasa seni konspirasi dan intrik yang mustahil dipisahkan dari politik
kesukuan. Di lain pihak, angkatan darat terbelah, dan muncul pula
gejolakgejolak nasionalitas yang terinjak-injak. Terbangkitkan amarahnya oleh
kehadiran pasukan asing dan terimbas dengan dampak dari Revolusi Oktober, kaum
buruh menjadi militan
Sebuah situasi mirip perang saudara berkecamuk dalam masyarakat. Dalam
otobiografinya, Muhammad Reza Shah Pahlavi telah memberikan beberapa informasi
yang menarik tentang situasi waktu itu. Dia menulis bahwa para serdadu tidak
menerima gaji tetap dikarenakan pemerintah terlalu lemah untuk menarik pajak.
Suatu hari di kala departemen luar negeri hendak menjamu makan malam bagi tamu
dari luar negeri, terungkap bahwa tidak terdapat lagi persediaan dana, walhasil
mereka terpaksa berbelanja di bazaar dan meminjam uang demi membiayai perjamuan
resmi. Disintegrasi sosial dan ekonomi telah menghancurkan struktur masyarakat.
Di Teheran, warga tidak akan keluar rumah waktu malam hari karena takut
terpenggal kepalanya. Jalan-jalan raya di Iran yang dahulu pernah tersohor
menjadi begitu menyedihkan sehingga untuk pergi ke Teheran melalui Meshad orang
harus melakukan perjalanan lewat Rusia, dan untuk bepergian dari Teheran ke
Khuzistan di bagian barat laut, maka orang bersangkutan musti melewati Turki dan
Irak.(12)
Reza Khan, yang merupakan seorang perwira tentara, melakukan berbagai manuver
di unit-unit ketentaraan yang berbeda-beda guna membangun basis dukungan, dan
akhirnya memimpin sebuah ICudeta pada tanggal 21 Februari 1921. Dengan
menyeimbangkan gaya Bonapartis antara kelas-kelas yang berbeda dan antara
kubu-kubu yang bertikai di tingkat atas, dia merengkuh kekuasaan. Pada kali
pertama, dia mengandalkan bazaaris untuk mempertahankan diri dari barang
impor, dan sembari memenangkan dukungan dari kaum nasionalis dan para buruh.
Akan tetapi, begitu mengkonsolidasikan dirinya dalam kekuasaan, dia
melancarkan pukulan terhadap kaum buruh dan Partai Komunis.
Setelah tahun 1928, kaum buruh berpartisipasi dalam gelombang baru
perjuangan; mereka dalam keadaan memiliki semangat tempur yang tinggi. Pada
tanggal 4 Mei 1929 para buruh penyulingan minyak berkumpul untuk menyuarakan
tuntutan ekonomi mereka, dan perkumpulan ini berubah menjadi demonstrasi politik
anti-pemerintah. Mereka meneriakkan slogan-slogan anti rezim dan menuntut
pengunduran diri pemerintah. Buruh pabrik-pabrik yang lain bergabung dengan
demonstrasi itu dengan antusiasme revolusioner. Tentara bersenjata datang dan
secara brutal menyerang para pekerja dengan pedang mereka dan kaum buruh
membalasnya dengan tongkat dan batu bata. Banyak buruh ditangkapi dan gerakan
mulai menyebar ke kota-kota lain. Di Abdan, sejumlah 20.000 demonstran turun ke
jalan berunjuk rasa menentang serangan brutal angkatan bersenjata terhadap kaum
buruh. Sekali lagi pertempuran kecil terjadi antara tentara dengan kaum buruh.
Situasi ini berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Lebih dari liga ratus pekerja
ditangkap, dan akhirnya pemerintah dipaksa untuk mendukung gerakan. Akan tetapi
sekali lagi pada tahun 1931 para pekerja mengorganisir sebuah pemogokan
besar-besaran. Mengambil tempat di pabrik tekstil Vatan kota Isfahan, para buruh
pekerja itu mendesak pihak manajemen agar menaikkan upah mereka sebesar 40
persen dan menerima pengurangan jam bekerja dari 12 jam per hari menjadi 9 jam
per hari. Di bagian utara, 800 buruh serikat dagang rahasia melakukan gerakan
mogok.
Partai Komunis Iran memperoleh kemajuan signifikan di beberapa wilayah yang
berbeda pada waktu itu. Akan tetapi, sejauh perbedaan politik dan
masalah-masalah ideologis ditonjolkan, masalah mereka tetap tidak akan
terpecahkan. Pada saat itu, peristiwaperistiwa yang terjadi di Rusia mengalami
peralihan yang sangat tajam dimana dampaknya sampai kepada berbagai partai
Komunis di seluruh dunia. Dalam rangka untuk mengalahkan Trotsky dan Oposisi
Kiri, Stalin menyandarkan diri ke kubu sayap kanan dari Partai Komunis Rusia.
Hal ini membuat bangkitnya kulaks (para petani kaya) yang pada tahun 1928
mulai mengancam eksistensi pokok negara Soviet. Dalam bukunya, Russia: frons
Revolution to Counter-Revolution, Ted Grant menjelaskan bagaimana Stalin
telah mendapat banyak kesulitan dalam usahanya untuk mengandalkan elemen
kapitalis di Rusia (kaum kulaks dan Nepmen). Hal ini tercermin
dalam lingkup kebijakan politik luar negeri dan kinerja Komunis Internasional.
Di Cina, upaya untuk menjalin hubungan baik dengan kaum borjuis nasional
menghasilkan subordinasi Partai Komunis kepada Chiang Kai-Shek dan Kuomintang,
dengan akhir berupa bencana. Di Inggris, usaha untuk berdamai dengan birokrasi
Serikat pekerja menjadikan kekalahan dalara pemogokan umum dan rusaknya Partai
Komunis Inggris. Sekarang Stalin beralih dengan tajam kepada Komintern dengan
arah yang berlawanan. Dia melakukan satu belokan berbalik arah ke arah
"kiri", yang dengan segera diterima oleh semua kubu dalara tubuh
Komintern.
Ted Grant menulis: "Dalam pelanggaran anggaran dasarnya, Komunis
Internasional tidak menyelenggarakan konferensi selama empat tahun. Kongres
baru diadakan pada tahun 1928 dimana untuk pertama kalinya, teori
anti-Leninis'sosialisme dalam satu negara' secara resmi diperkenalkan pada
program Komintern. Juga diproklamirkan akhir dari stabilitas kapitalis dan
dimulainya apa yang diistilahkan dengan 'Periode Ketiga'. Berkebalikan dengan
periode pergolakan revolusioner sesudah 1917 ('periode Pertama') dan periode
stabilitas kapitalis relatif setelah tahun 1923 ('Periode Kedua'), apa yang
dinamakan dengan 'Periode Ketiga' ini adalah untuk menunjukkan kolaps akhir dari
dunia kapitalisme. Pada waktu yang sama, sesuai dengan teori Stalin yang pernah
masyhur (tapi sekarang telah terkubur), Sosial Demokrat diharuskan
bertranformasi diri menjadi 'sosial fasisme’ ." (13)
Perubahan yang terjadi dalam tubuh Komunis Internasional ini langsung memberi
dampak terhadap Partai Komunis Iran. Pada Kongres Komunis Internasional VI,
yang diselenggarakan pada bulan JuliAgustus 1928 di Moskow, masalah perbedaan
internal dalam partai Komunis di Iran mengemuka kembali. Hingga waktu itu Partai
didominasi. oleh garis sayap kanan, tetapi sekarang mendadak dikuasai oleh kubu
ultra-kiri ekstrim, sejalan dengan zig-zag terakhir yang dilakukan oleh
panutannya di Moskow yang Stalinis. Hal ini tidak hanya terjadi dalam tubuh
Partai Komunis Iran, tetapi juga sudah menggejala di seluruh belahan dunia.
Selama beberapa tahun, sernua partai-partai Komunis mengejar kegilaan ultra-kiri
ini, yang, dengan memecah-belah kaum buruh yang kuat di Jerman, langsung dapat
menghantarkan kemenangan bagi Hitler di tahun 1933.
Dengan demikian, praktis hanya dalara waktu semalam, Partai Komunis Iran
melompat dari posisi kanan dengan mendukung Reza Khan Pahlevi, ke posisi
ultra-kiri. Mereka secara konsisten berjuang menentang kekuatan demokrat dan
berkeras bahwa tidak ada perbedaan antara dernokrasi dan fasisme. Hal ini
mengakibatkan terjadinya malapetaka. Tumbuhnya militansi gerakan kaum buruh di
masa-masa itu dirubah oleh Partai Komunis Iran menjadi petualangan. Banyaknya
kesalahan fatal yang mengalir dari kebijakan yang tidak benar menyediakan basis
bagi rezim represif diktator Reza Khan. Dengan mudah, dirangkulnya majelis agar
mensahkan Akta anti-Komunis tertanggal 1 Juni 1931. Dia melarang Partai Komunis
dan memulai sebuah kampanye massal berupa eksekusi yang ditujukan terhadap kaum
buruh Partai dan aktivis serikat dagang. Dia mengeksekusi banyak buruh dan
pemuda-pemuda terbaik serta penyair-penyair revolusioner. Lebih dari dua ribu
orang buruh telah dijebloskan ke penjara.
Sehabis mengalami kekalahan dan represi berat demikian, rasa putus asa,
frustasi dan faksionalisme menimpa orang-orang awam dalam tubuh Partai. Banyak
buruh yang meninggalkan Partai, yang sekali lagi menemukan dirinya dalam keadaan
terisolas.i. Partai kemudian bergerak di bawah tanah dan berbasis terutama
pada lingkup intelektual dan mahasiswa. Mereka mulai menerbitkan sebuah majalah
baru bemama Doniya ("Dunia"), yang para pembacanya terbatas
pada lingkup ini. Rezim melarang majalah itu, dan para anggota kalangan ini
ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Pengadilan ini populer dengan sebutan
"kelompok lima puluh liga". Kesemuanya dijatuhi hukuman selama liga
hingga lima belas tahun hukuman penjara, tetapi pemimpin kelompok tersebut Dr.
Taghi Arnai dibunuh dalara penjara pada tahun 1940.
Satu tahun setelah bencana Hitler berkuasa di Jerman, Stalin memerintahkan
Komintern untuk melakukan gerakan salto lagi, membelot ke "kanan"
dengan apa yang disebut sebagai kebijakan Front Populer, yaitu, sebuah
kebijakan menggabungkan diri dengan borjuis "liberal" (yang sebelumnya
dikecam sebagai "fasis radikal") untuk melawan fasisme. Pada tahun
1939, Stalin berganti posisi sekali lagi,`setelah menandatangani sebuah pakta
dengan Nazi Jerman. Front Populer mendadak dibubarkan. Ketika Stalin
menandatangani traktat non-agresi dengan Hitler, Trotsky mengumumkan bahwasanya
penandatanganan Traktat dengan Hitler memberikan satu alat ukur ekstra yang bisa
untuk mengukur derajat kemerosotan Birokrasi Soviet dan keterpurukannya bagi
kelas pekerja internasional, termasuk Komintern.(14)
Hingga peristiwa Hitler menyerang USSR, pemimpin Kremlin mengira kalau dia
telah mengakalinya. Merasa yakin telah mengamankan garis belakangnya dengan
menandatangani Pakta HitlerStalin, Stalin menunggu-nunggu Jerman dan lnggris
serampangan, sementara dia menonton dari luar garis lapangan. Seperti yang
ditandaskan Trotsky, Stalin secara efektif telah bertindak sebagai nahkoda
Hitler. Dari saat pecahnya Perang Dunia 11 hingga tepat pada bulan Juni 1941
ketika Hitler menyerang Rusia, Nazi Jerman memperoleh peningkatan besar dalam
ekspor dari USSR. Antara tahun 1938 hingga 1940 ekspor ke Jerman naik dari 85,9
juta rubbel menjadi 736,5 juta rubbel yang sangat membantu Hitler dalam
mengupayakan perang.(15) Setelah mengabaikan setiap jejak perspektif
internasionalis revolusioner, kaum Stalinis dimabuk kepayang dengan ilusi,
padahal Hitler sedang mempersiapkan sebuah serangan yang bakal
meluluhlantakkan mereka. Hal inilah yang melucuti Uni Soviet di hadapan
musuhnya yang paling mengerikan. Betapapun juga, sernua ini dipersingkat
jalannya pada tahun 1941 ketika Hitler melancarkan serangan atas USSR.
Sebagaimana yang telah diramalkan jauh-jauh hari oleh Trotsky tahun 1931, bahwa
jika Hitler memperoleh kekuasaan, maka Jerman akan mendeklarasikan perang
terhadap Uni Soviet. Sekarang pandangan ini terbukti benar.
Situasi politik di Iran menemui perubahan yang serius pada tahun 1941 ketika
Hitler menyerang Uni Soviet pada tanggal 22 Juni. Melihat bahaya aktivitas
Jerman di Iran, imperialis Inggris dan Stalinis Rusia sekonyong-konyong
melakukan tindakan dan menyerukan satu memorandum kepada pemerintah Iran yang
menuntut:
1. Pemutusan hubungan diplomatik dengan Jerman dan Italia.
2. Upaya pemerintah Iran untuk memfasilitasi transportasi material perang
sekutu berupa jalan, rel kereta atau rute udara.
3. Kepastian Teheran memperbolehkan penempatan tentara sekutu di teritori
Iran.
Reza Khan menolak persyaratan ini dan dipaksa untuk mengundurkan diri dengan
digantikan oleh putranya, Mohammed Reza Khan, seorang anjing penjaga
imperialisme yang jmak dan patuh. Dia naik tahta pada tanggal 16 September 1941.
Tindakan pertamanya adalah menggusur seluruh orang Jerman dan Italia dan Iran.
Langkah kedua adalah melepaskan seluruh tahanan politik, termasuk kelompok 53
(Doniya). Mayoritas kelompok tersebut mendukung rezim baru tersebut, dan
memproklamirkannya sebagai karakter yang "anti fasis". Dengan tindakan
serta merta yang menggemparkan itu, Partai Tudeh melakukan langkah menyeberang
berbalik 180 derajat, seperti halnya panutan mereka Stalin, dan berganti
kebijakan memberikan dukungan kepada Sekutu dalam menentang Jerman. Dalara
situasi kondisi demikian, perubahan pada politik luar negeri dengan tiba-tiba
terefleksikan dalara sebuah perubahan kebijakan dalara negeri yang sama-sama
kasar. Tanpa ada kata-kata penjelasan, Partai membuang pendirian anti-Inggris
dan menggantinya dengan suatu kebijakan yang memberikan dukungan penuh bagi
Sekutu yang "demokratis" dalam rangka melawan Jerman.
Mengikuti Kebijakan Moskow bagaikan budaknya, PK bahkan memutuskan untuk
merubah namanya. Prioritas mereka adalah untuk membentuk front
"anti-fasis" dan menerbitkan sebuah suratkabar Mardom (Rakyat'
). The Hezb-e-Tudeh Iran (yaitu Tudeh atau "partai'rakyat'
Iran") diwujudkan pada tanggal 2 Oktober 1941. Konferensi pertama Partai
Tudeh dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 1942 dengan kehadiran 120 delegasi.
Mereka menekankan pertahanan Soviet Rusia dan memutuskan untuk memberikan
"dukungan yang bersifat kritis kepada rezim Reza Khan. Perubahan yang
tiba-tiba ini menjebloskan Partai ke dalara sebuah krisis internal. Sebuah kubu
dari unsur antilnggris meninggalkan Partai. Beberapa memilih bergabung dengan
barisan fasis Jerman, beberapa dari mereka membentuk "front patriotik"
sendiri dan memakai kebijakan "tunggu dan lihat." Mereka memiliki
basis dari kaum borjuis rendahan: para pedagang dan di antara suatu kubu kecil
dari kaum borjuis. Tidak satupun dari mereka yang memiliki sesuatu yang dimiliki
oleh sebuah garis kaum Leninis.
Dalam periode ini para pekerja dalam banyak perusahaan, penyulingan minyak
bumi dan rel kereta api melakukan pemogokan dalam protesnya menentang kerja yang
terlalu berat dan waktu kerja yang berlebihan dalam keadaan perang. Pada waktu
yang bersamaan, Partai Tudeh mengeluarkan propaganda, menyerukan kepada para
buruh untuk tidak ambil bagian dalara pemogokan, dan memaklumatkan bagi mereka
yang mendukung pemogokan sebagai "fasis". Mereka berpendapat bahwa,
karena para buruh memproduksi barang-barang bagi kekuatan sekutu, maka pemogokan
apapun akan merugikan sekutu, menyebabkan dan memberikan kekuatan bagi kekuatan
fasis secara internasional. Dalara kenyataannya, mereka bertindak sebagai
pencegah pemogokan yang terburuk.
Selama masa perang, industri swasta berkembang pada tingkatan tertentu dan
kapitalis Iran menghasilkan banyak keuntungan. Akan tetapi setelah kegagalan
kekuatan Imperialis untuk menyalurkan bantuan ang dijanjikan untuk pembangunan
memiliki dampak negatif. Berakhirnya perang menandai sebuah periode baru
pergolakan yang besar di Iran. Pada tanggal 22 Januari 1946, Azerbaijan dan
Kurdistan mendeklarasikan perundang-undangan domestik dan merancang sebuah
pemerintahan yang otonom. Jumlah pemogokan naik hingga lebih dari seratus,
bandingkan dengan tahun 1944 yang hanya enam puluh. Pusat-pusat industri kunci
bergabung dengan gerakan tersebut. Di Tabriz, sebagai contoh, kaum buruh di 16
dari 18 pabrik di kota itu bergabung dalam pemogokan.
Banyak pertikaian militan terjadi pada waktu itu, khususnya di lokasi-lokasi
tambang minyak, pabrik tekstil dan lokasi yang tengah dibangun. Pada tahun
1946 terdapat dua pemogokan umum besar oleh para pekerja tambang minyak
Khuzistan. Periode setelah Perang Dunia Pertama, terlihat kemajuan pesat bagi
serikatserikat, dan periode sehabis Perang Dunia Kedua sekarang dilihat
sebagai kebangkitan kembali yang serupa tetapi dalam skala yang jauh lebih
besar. Akan tetapi Staliris Rusia tidak menginginkan adanya perubahan
revolusioner di Iran. Komintern yang mengalami kemerosotan telah dibubarkan
oleh Stalin pada awal tahun 1943 untuk menyenangkan hati kekuatan-kekuatan
imperialis. Alih-alih mendukung revolusi untuk menggulingkan Sang Raja,
birokrasi Stalin malah lebih memilih untuk membangun hubungan baik dengan Reza
Shah. Dengan mengesampingkan kebijakannya yang keliru, partai Tudeh kembali
mendapatkan basis sebagai satu-satunya partai buruh masa di Iran. Dalam pemilu
untuk Majelis (parlemen) ke-14 di musim dingin 1943. Partai Tudeh menggunakan
kesempatan untuk ikut bertanding memperebutkan tiga puluh kursi, yang
memenangkan sepuluh di antaranya. Setelah pemilu, Partai Tudeh menunaikan
kongres pertamanya pada bulan Agustus 1944. Betapapun juga, pada waktu kongres,
perbedaan-perbedaan mengemuka dalara pertanyaan tentang partisipasi dalara
pemilu, tentang taktik front anti-fasis setelah Perang Dunia Il dan sekali lagi
tentang rezim Iran. Terpecah belah dengan isu-isu ini, Paartai mengalami krisis
yang akut.
Setelah Perang Dunia Kedua gelombang gerakan mogok begitu besar hingga bisa
menyapu semua halangan, memperlihatkan solidaritas kelas yang menakjubkan di
antara kaum buruh. Sebuah serikat federasi baru yang dikendalikan oleh Partai
Tudeh mendapatkan keanggotaan sebanyak 275.000 orang dan pada tahun 1946 di saat
terdapat 186 serikat yang terafiliasikan memiliki anggota sebanyak 335.000
orang. Pemogokan tiga hari diadakan pada tahun 1946 dimana sebanyak 65.000 buruh
minyak ikut ambil bagian. Kaum pekerja memenangkan tuntutan utama mereka,
seperti naiknya upah dan kondisi higinitas yang lebih baik. Pada pemogokan itu,
para pekerja tambang minyak di Khuzistan dan para buruh tekstil, bahkan yang
berada di sektor ekonomi paling terpencil sekalipun, ikut terlibat.
Pemerintahan begitu lembek dan tekanan terusmenerus merongrong dari bawah,
dari kaum buruh, maka Partai Tudeh di parlemen mengajukan sejumlah tuntutan
reformis bagi kepentingan para pekerja. Ini meliputi hak-hak serikat,
penghapusan lembur, jam bekerja selama 48 jam per minggu serta upah minimum.
Semua tuntutan ini dikabulkan.
Imperialis Inggris, seperti biasa, menggunakan taktik lama berupa divide
et impera serta memulai dukungan terhadap suku-suku di dekat Khuzistan,
membiayai kaum mullah dan tuan tanah untuk menentang kaum buruh, serikat dan
Partai Komunis Iran. Uni Soviet pada awalnya mendukung republik otonom baik itu
Azerbaijan maupun di Kurdistan, tetapi tentara Rusia meninggalkan Iran pada
tanggal sembilan Mei 1946 dan pemberontakan tersebut dihancurkan oleh tentara
pemerintahan pusat. Dalara pertumpahan darah ini, ribuan anggota dan pendukung
partai Tudeh mati terbantai.
Penarikan angkatan bersenjata sekutu memberikan dampak di berbagai sektor
industri yang bergantung pada produksi untuk tujuan perang. Akibat yang berupa
pemutusan hubungan kerja berdampak bagi moral kaum buruh dan mengurangi
aktivitas serikat kerja. Pertumbuhan keanggotaan serikat pekerja terhenti dan
mulai berkurang. Setelah kekalahan di Azerbaijan dan Kurdistan, para buruh
Partai mengalami demoralisasi dan keanggotaan partai Tudeh berkurang secara
drastis. Rezim mulai melancarkan tindakan ofensif melawan kaum buruh. Dari tahun
1947 hingga 1949, aktivitas kelas buruh terjun bebas ke titik terendah mereka.
Pada tanggal 4 Februari 1947, Shah pergi guna menghadiri peringatan
berdirinya universitas Teheran, pada waktu itu seorang fotografer berita
menembakkan lima peluru ke arahnya. Tubuh Shah hanya sedikit tergores, tetapi
ketika dari rumah sakit dia mengumumkan kepada bangsanya lewat radio: Shah
menuduh Tudeh berdiri di balik penyerangan ini. Hal ini jelasjelas keliru,
tapi menyediakan cukup dalih bagi rezim untuk mengumumkan negara dalam keadaan
bahaya yang diumumkan pukul 7.30 malam pada hari yang sama. Keesokan harinya
pimpinan partai Tudeh ditangkap, Partai dinyaakan ilegal, dan para
pendukungnya dipecat dari diasas pemerintahan. Pengadilan mahkamah militer
diajukan untuk mengadili para pemimpin Partai Komunis, yang di Iran menjadi
terkenal sebagai Pengadilan Empat Belas. Pada tanggal 15 Desember 1950, atas
bantuan dari seksi ketentaraan Tudeh, sepuluh pemimpin Partai melarikan diri
dari penjara dan sekali lagi merintis aktivitas bawah tanah. Dengan demikian,
kebijakan untuk berkolaborasi dengan apa yang dinamakan kaum borjuis progresif
telah menghantarkan menuju malapetaka.
Masalah Mossadeq
Di masa ini, tendensi nasionalis dan fundamentalis mengisi kekosongan untuk
sementara. Menyusul paska perang, hawa anti-Inggris kian kuat berkembang.
Mossadeq yang nasionalis mendirikan sebuah Front Nasionalis dari partai-partai
yang mewakili para profesional, bazaaris dan beberapa elemen religius. Mossadeq
ditunjuk sebagai perdana menteri yang baru pada tanggal 28 April 1951. Setelah
menutup pabrik penyulingan minyak bumi milik Inggris di bulan April, dalam
sebuah tindakan sabotase yang disengaja, imperialis Inggris mebeberkan kasus ini
ke PBB. Bersamaan dengan itu, Mossadeq memutuskan hubungan diplomatik dengan
Inggris. Proses ini mencapai titik tertinggi tatkala Mossadeq
mengimplementasikan kebijakan nasionalisasi, saat majelis mensahkan sebuah
resolusi berupa nasionalisasi Anglo Iranian Oil Company.
Dengan naifnya, Mossadeq berpikir bahwa Amerika akan menolong Iran dalam
krisis ini. Dia bahkan pergi ke Amerika Serikat demi mengusahakan bantuan
ekonomi, tetapi kembali dengan tangan kosong. Setelah berakhirnya Perang Dunia
Kedua, perimbangan kekuasaan antara negara-negara kapitalis berubah ke posisi
imperialis Amerika. Trotsky telah menjelaskan terjadinya hal ini bahkan sebelum
perang, pada saat dia meramalkan bahwa Amerika Serikat akan memperoleh kejayaan
dari perang yang akan datang, tetapi sebagai akibatnya Amerika akan memiliki
dinamit siap ledak yang terpasang dalam pondasinya. Selama masa krisis ini,
Presiden Truman mengirimkan penasihat politik luar negeri Harriman ke Teheran
pada tanggal 16 Juli 1951 untuk mendayagunakan situasi bagi kepentingan Amerika.
Ketika Harriman memasuki Teheran, partai Tudeh mengorganisir sebuah demonstrasi
besar-besaran menentang imperialisme Amerika. Pertikaian antara para demonstran
melawan polisi membuat 20 orang terbunuh dan terluka di depan gedung majelis.
Tak seperti kaum borjuis nasional, para buruh memperlihatkan bahwa mereka
telah bersiaga untuk bertempur. Pemogokan-pemogokan besar meletus di
ladang-ladang minyak bumi. Dalam responnya terhadap pemotongan upah, mobilisasi
serikat dagang tumbuh dengan mantap. Pada bulan April, sekitar 45.000 buruh
mengadakan aksi mogok. Pemerintah menyatakan martial law atau
undang-undang negara dalam keadaan bahaya, namun pemogokan telah menyebarluas
seperti arus yang deras. Perusahaan penambangan minyak berjanji untuk
mengembalikan tingkat upah, dan pemogokan-pemogokan ditunda selama beberapa
saat, ternyata perusahaan hanya mencoba untuk menggunakan taktik mengulur-ulur
waktu. Sekali lagi pemogokan-pemogokan meledak dengan dukungan dari ribuan kaum
buruh non-minyak di pusat-pusat industri yang lain. Tekanan yang berasal dari
bawah menjalar ke atas memaksa Mossadeq untuk menasionalisasi perusahaan
minyak Anglo-Iranian. Tentu saja, para anggota Partai Tudeh memegang peran kunci
dalam gerakan kaum buruh dari tahun 1951 hingga 1953. Jumlah pemogokan besar
kembali terus bertambah, sejalan dengan jumlah keanggotaan serikat dagang.
Tuntutan serikat dagang termasuk upah yang lebih tinggi serta hak-hak bagi
serikat dagaug. Akan tetapi gerakan yang muncul tersebut menentang negara itu
sendiri. Serangkaian konfrontasi dengan polisi terjadi pada setiap siklus baru
gerakan kaum buruh. Solidaritas kelas menjalar di antara kaum pekerja dari
berbagai lapisan, berbagai daerah serta profesi. Pergerakan secara pesat
meningkat dalara kekuatan dan dalam mendapatkan sebuah karakter politik. Tekanan
deras dibangun dari bawah terhadap pemerintah, yang terus didesak untuk
menawarkan konsesi yang lebih banyak dari sebelumnya di tahun 1946. Akibatnya,
kepercayaan diri kaum pekerja tumbuh sangat cepat. Persoalan kekuasaan terajukan
secara terang-terangan.
Yang paling diuntungkan dalam hal ini sebenarnya adalah Partai Tudeh. Kali
ini mereka bisa keluar dengan terbuka serta posisi yang kuat dalam kelas
pekerja. Momentum dari gerakan jadi tak bisa ditahan, dan tak pelak lagi,
menjurus secara radikal kepada institusi monarkis. Para politisi borjuis dan
borjuis kecil digentarkan dengan tekanan dari golongan pekerja. Di bawah tekanan
yang ekstrim, Front Nasional retak dan mereka mencabut dukungan mereka bagi
Front itu. Pada 2 Mei 1953, Mossadeq menulis satu surat untuk Presiden
Eisenhower dimana dia mengungkapkan harapan bahwa bangsa Iran, dengan
pertolongan dan bantuan dari pemerintah Amerika, akan bisa mengatasi halangan
yang menghambat penjualan minyak Iran, dan bahwa jika pemerintah Amerika tidak
mampu memberikan pengaruh terhadap penghilangan hambatan-hambatan serupa,
berarti pemerintah Amerika berkenan memberikan bantuan ekonomi yang efektif
untuk memungkinkan Iran menggunakan sumber daya lain. Sebagai kesimpulannya, dia
meminta simpati dan perhatian responsif dari Yang Mulia menyangkut situasi
berbahaya yang ada di Iran dan percaya penuh bahwa dia akan menanggapi semua
poin yang terkandung dalam pesan ini: "Mohon diterima, Mr. Presiden,
jaminan dari pertimbangan saya yang tertinggi," demikian pesan tersebut
berakhir dengan kepedihan.(16) Kalimat-kalimat ini dengan akurat mengungkap
kepengecutan sifat dari golongan yang berjuluk kaum borjuis nasional Iran. Akan
tetapi, meskipun mereka memiliki rivalitas dengan Inggris, imperialis AS tidak
dapat mentolerir nasionalisasi minyak bumi di Iran karena bahaya adanya preseden
yang akan diberikan. Dalam jawabannya kepada Mossadeq, pemerintah Amerika
menulis bahwa tidak akan ada bantuan dari AS yang diberikan hingga konflik
minyak Anglo-Iranian diselesaikan. Sebagai tambahan, Washington mengungkapkan
adanya perhatian yang serius terhadap tingkat kebebasan yang diberikan oleh
pemerintah Iran terhadap Partai Tudeh. (17)
Menteri Sekretaris Negara John Foster Dulles men gungkapkan perhatiannya da
lam sebuah pernyataan pers tentang tumbuhnya aktivitas Partai Komunis yang
ilegal (Partai Tudeh) dan menuduh pemerintah Iran hanya menjadi penonton atas
aktivitas semacam itu. Situasi ini mengundang "perhatian serius" di
Washington dan membuat Amerika Serikat menjadi lebih sukar untuk memberikan
bantuan kepada Iran.(18) Bahkan sebelum dikeluarkannya pernyataan ini, Dulles
telah menyodorkan ancaman (pada 13 Juli 1953) bahwa dia tidak akan memberikan
toleransi kepada Mossadeq lagi. Dan CIA memerintahkan Kernit Roosevelt, cucu
dari mantan Presiden Roosevelt, untuk merancang sebuah kudeta terhadap Mossadeq.
Jendral Zahedi dan kolonel Nasir diinstruksikan oleh Shah untuk bekerjasama
dengan CIA. Namun, sebuah usaha kudeta yang dilakukan pada tanggal 16 Agustus
gagal dan jendral Nasir ditangkap. Perilaku brutal dari kaum imperialis
memprovokasi adanya krisis di Iran dengan polarisasi yang tajam antara kubu
kanan dan kiri. Pertikaian sengit mulai timbul di tingkat atas di Teheran.
Mossadeq meminta Shah untuk menyerah dan prajurit istana dibubarkan. Menyangkut
situasi ini, Shah menulis dalam otobiografinya bahwa Mossadeq telah mengurangi
jumlah tank yang menjaga istana Sadabad miliknya. Hanya empat tank yang kemudian
ditinggalkan, tidak cukup untuk menghadapi serangan mendadak dari Partai
Tudeh.
Iran waktu itu berada dalam cengkeraman situasi pra-revolusioner. Massa
terbangkitkan. Foto-foto Shah diturunkan dari dinding pertokoan, bioskop, dan
kantor pemerintah di Teheran. Kemungkinan kudeta akan muncul, jika Mossadeq
telah siap untuk menarik massa, tetapi politisi borjuis ini seribu kali lebih
takut kepada massa daripada terjadinya reaksi. Sebenarnya, Mossadeq gagal untuk
bertindak dan memperbolehkan komplotan tersebut mengadakan arak-arakan dan
merampas kekuasaan. Noorudin Kianouri menulis: "Kauri mendapat informasi
bahwa kubu militer terang-terangan mendukung usaha untuk kudeta. Kauri mengontak
Mossadeq untuk kedua kalinya. Dia menjawab: 'Oh, Pak, semua orang telah
mengkhianati saya, sekarang Anda bebas untuk melaksanakan tanggung jawab
sekehendaknya.' Saya meminta kepada beliau sekali lagi untuk menyiarkan pesan
tersebut, tapi sayangnya, bukan mendapatkan jawaban, malah saya mendengar suara
seseorang memutus hubungan telepon."(19)
Meskipun begitu, dalam keputus-asaan Mossadeq masih bergantung harapan pada
imperialis Amerika sebagai dewa penyelamat. Dari pihaknya, Birokrasi Moskow
tidak tertarik dengan perkembangan revolusioner di Iran. Sebagai akibatnya,
keseluruhan gerakan dibatalkan. Shah segera dikembalikan kekuasaannya. Setelah
itu sebuah proses penahanan dan pembunuhan dimulai. Partai Tudeh kembali
terpecah. Beberapa anggotanya berpendapat bahwa Front Nasional adalah merupakan
sebuah aliansi progresif yang mewakili pertarungan antara kaum borjuis nasional
melawan imperialis Inggris. Kubu yang lainnya bersikeras bahwa Mossadeq mewakili
sebuah kubu kaum borjuis yang terkait dengan kepentingan barat. Iraj Eskandri,
seorang pemimpin partai tingkat atas, menulis: "Kami membikin kesalahan
yang tidak sedikit, hanya dikarenakan kami tidak memiliki konsep yang cukup
jelas tentang peranan dan karakter kaum borjuis nasional." Lebih jauh dia
berkata bahwa selama perjuangan menasionalisasikan industri minyak Iran, para
pemimpin Tudeh tidak mendukung Mossadeq, yang tiada disangsikan lagi mewakili
kepentingan borjuis nasionalls. Pemikiran dari Partai kurang lebihnya seperti
ini: Mossadeq berjuang demi nasionalisasi minyak Iran. Pada saat yang bersamaan,
imperialis Amerika mendukung langkah tersebut. Ini berarti mereka telah
membimbingnya. Dengan demikian, Partai menarik kesimpulan yang tidak benar bahwa
Komunis seharusnya tidak mendukung langkah nasionalisasi. Partai dengan demikian
memutuskan sendiri hubungan mereka dengan massa, yang mengikuti garis kaum
borjuis pada isu ini, dan bukannya memotong Partai.(20)
E. A. Bayne mengatakan bahwa sekitar empat tahun setelah kudeta, pemimpin
Partai tingkat atas tidak bisa memberlakukan kebijakan apapun, karena masih ada
masalah-masalah yang belum terpecahkan, termasuk masalah perihal borjuis
nasionalis dalam tubuh Partai. Untuk pertama kalinya, masalah ini
diperbincangkan dalara Sidang Pleno Keempat Komite Sentral, yang dilaksanakan
dalam kondisi sembunyisembunyi (kemungkinan di Republik Demokratik Jerman)
pada tanggal 17 Juli 1957. Sidang Pleno Ketiga telah dilakukan dulu kala, pada
tahun 1948.(21) Kianouri menulis: "Selama saya tinggal di Iran, kami
mencoba untuk merintis hubungan dengan Front Nasional dan kelompok-kelompok
lain, termasuk beberapa suku bangsa di Selatan yang mengaku sebagai pendukung
Mossadeq, tetapi tak seorangpun memberikan perhatian terhadap perjuangan
menentang rezim Shah. Kamt bahkan mengirim beberapa kamerad kauri seperti
Roozbeh dan Kol. Chalipa sebagai ahli militer untuk melatih para suku yang siap
sedia untuk melakukan perjuangan bersenjata melawan Shah. Kami menginginkan
diadakannya suatu demonstrasi besar-besaran di Teheran, tetapi akhirnya gerakan
Front Nasional pimpinan Mossadeq (yang kemudian digantikan oleh Dr. Moazami)
menolak kerja sarna dengan kauri, dan dengan demikian kami gagal untuk
mengorganisirnya dengan kekuatan kami sendiri. Sungguh suatu buruh diri politik
bagi kami. Setelah kudeta kami fuga mencoba membangun sebuah basis bersenjata di
Utara Iran, tetapi usaha ini dikhianati oleh mereka yang ada di penjara. Mereka
bocorkan rencana ini kepada polisi. Setelah kegagalan ini kami sekali lagi
mencoba untuk melancarkan sebuah perjuangan bersenjata pada tahun 1961, tetapi
gagal dikarenakan Front Nasional tidak mau bekerjasama dengan para pendukung
Mossadeq."(22)
Noorudin Kianouri adalah Sekretaris Partai selama masa revolusi 1979. Sidang
Pleno Ke-5 di bulan Februari 1958 juga menganalisa kudeta pada tahun 1953:
Partai menyatakan bahwa kesuksesan reaksi kudeta pada bulan Agustus 1953 adalah
berkat tiadanya kerjasama yang erat antara kekuatan yang beroposisi terhadap
Partai Tudeh serta kaum borjuis nasionalis. Sifat dasar kaum borjuis nasionalis
yang tidak memiliki kepercayaan dalam memandang partai kaum buruh, telah
diperburuk dengan kegagalan Partai dalam memahami sifat borjuis nasionalis dan
potensi antiimperialis-nya. Hal ini mengakibatkan Partai memberlakukan taktik
yang salah dalara hubungannya dengan pemerintahan Mossadeq."(23)
Satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil dari situ adalah bahwa Partai Tudeh
menanti terbitnya revolusi demokratis nasional sebelum bergerak menuju revolusi
sosialis di Iran. Mendasarkan diri pada perspektif yang salah itu, mereka selalu
mensubordinasikan gerakan buruh di bawah kaum borjuis nasionalis. Lagi-lagi,
mereka mengejar satu demi satu kubu borjuis untuk membentuk sebuah "aliansi
bagi revolusi demokratik", yang selalu menghasilkan konsekuensi berupa
bencana. Para pemimpin Partai Tudeh mengambil segala kesimpulan yang salah dari
gerakan revolusioner 1953, yang tidak hanya memperlihatkan potensi kelas
pekerja tetapi juga mengungkap kepengecutan dan sifat keterbatasan dari kaum
borjuis dan peran kontra-revolusioner.
Jauh-jauh hari Trotsky telah menjelaskan bahwasanya kaum borjuis kolonial
yang lemah tidak memiliki kemampuan untuk memimpin masyarakat keluar dari jalan
buntu. Lambatnya perkembangan dari borjuis nasionalis memiliki arti bahwa
kelompok tersebut terikat tangan dan kakinya dengan kepentingan imperialis.
Tindakan Mossadeq pada tahun 1953 jelasjelas menunjukkan fakta ini. Potensi
kaum buruh untuk menggulingkan rezim Iran jelas sekali terungkap oleh gerakan
massa dan aksi solidaritas yang menakjubkan. Akan tetapi karena kelangkaan
faktor subyektif-Partai revolusioner dan kepemimpinan-pergerakan ditakdirkan
untuk mengalami kekalahan. Partai Tudeh, dengan kebijakan "dua tahap"
yang keliru, menyianyiakan kesempatan dan harus membayar dengan harga mahal
atas kesalahan ini.
Selama masa berkuasanya Shah, partai Tudeh "berpura-pura mati".
Pada tahun 1963, partai tersebut tidak mengambil peran apapun dalam gerakan
menentang Program Revolusi Putih yang dicanangkan oleh Shah. Itulah kenapa
gerakan tersebut bisa dipimpin oleh Khomeini, dalara tingkat tertentu. Akan
tetapi partai berkompromi kembali dengan pihak istana. Selama masa pemerintahan
Shah, Partai Tudeh tidak memiliki kebijakan yang independen sama sekali. Hal ini
hanya bisa dijelaskan dengan kebijakan luar negeri dari Birokrasi Rusia. Moskow
tidak menghendaki konflik apapun dengan imperialis Amerika di Iran dikarenakan
begitu pentingnya Iran sebagai negara penghasil minyak. Dalara kenyataannya,
Birokrasi Stalinis di Uni Soviet lama sejak sejak saat itu tidak lagi
menyandarkan pada pemikiran tentang kebijakan revolusioner, yang telah mengancam
kepentingan vital imperialis, khususnya dari adidaya utama imperialis Amerika.
Kebijakan yang disebut sebagai hidup bersama dengan damai semata merupakan
ungkapan pembagian dunia menjadi dua blok antagonistik, dimana kedua belah pihak
dengan diam-diam saling menerima adanya wilayah pengaruh satu sama lain.
Moskow tidak mempunyai keinginan untuk memperburuk hubungan antara Rusia
dengan Amerika yang akan mengalir tappa terelakkan akibat dari revolusi sosialis
di Iran. Sebaliknya, Birokrasi Rusia tertarik untuk menyangga kedudukan Shah,
yang dengannya mereka menikmati hubungan yang baik. Mereka mengikat perjanjian
dagang dengan Iran, yang dirancang untuk ekspor sejumlah besar gas alam dari
Iran ke Uni Soviet dan umumnya berusaha keras untuk mempertahankan hubungan
persahabatan dengan Shah. Hal itu merupakan Balah satu alasan utama kenapa
partai Tudeh sangat pasif dalara hubungannya dengan Shah. Hanya ketika Shah
diguncangkan oleh gerakan massa, barulah Partai Tudeh melakukan sebuah tndakan
baru yang berkebalikan 180 derajat dan menyerukan sebuah perjuangan bersenjata
pada puncak pergerakan di tahun 1979. Akan tetapi kebijakan partai berubah dari
buruk, menjadi lebih buruk manakala pemimpin Tudeh mendeklarasikan dukungan
mereka terhadap Ayatullah Khomeini pada tanggal 1 Januari 1979. (24)
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Setelah revolusi Februari 1979, para pemimpin
Partai Tudeh berpendapat seperti ini: Sebagaimana karakter revolusi Iran yang
anti-imperialis, maka kami harus menerima fakta bahwa rezim yang beroleh
kekuasaan setelah Revolusi Februari 1979 bersifat progresif. Rezim itu telah
secara konstan ikut serta dalam perang menentang imperialisme AS, yang secara
aktif berkonspirasi menentang rakyat Iran untuk menarik mereka kembali ke masa
CIASavak yang seperti neraka. Untuk itu, tugas utama dari rakyat Iran dalara
situasi demikian bukanlah untuk "membangun sosialisme seketika", akan
tetapi untuk "mengkonsolidasikan capaian anti-imperialis', dengan begitu
bayang-bayang NATO tidak akan membawa kegelapan bagi Iran sekali lagi.
"Dalam aspek ini," begitu mereka jelaskan, "cukup jelas terlihat
bahwa kekuatankekuatan anti-imperialis bekerja aktif di bawah kepemimpinan
Khomeini. ltulah alasan kenapa kekuatan-kekuatan kiri yang terpenting yaitu
Tudeh Iran dan organisasi rakyat Iran Fedaeen (Mayoritas) berada di belakang
Khomeini." (Penekanan dari kami) (25)
Sikap Partai Tudeh terhadap revolusi Iran sangat jelas tergambar di sini:
sebuah rasa percaya diri yang benar-benar kurang di kalangan kelas buruh dan
sosialis, serta subordinasi sepenuhnya gerakan buruh di bawah kaum borjuis dan
apa yang disebut sebagai kekuatankekuatan anti-imperialis-termasuk Khomeini!
Hal ini benar-benar berkebalikan dengan pendirian Lenin, yang selalu
mempertahankan kebijakan independensi kelas sepenuhnya serta mengkritik pedas
dan membeberkan peran kontra-revolusioner dari kaum liberal borjuis di Rusia,
bahkan dalam periode revolusi demokratik borjuis sekalipun. Posisi Partai Tudeh
tidak seperti yang dianut Lenin tetapi lebih mirip dengan kaum Menshevik Rusia
yang juga menyokong subordinasi gerakan kaum pekerja di bawah liberal borjuis,
dengan dalih kebutuhan untuk menyatukan semua "kekuatan progresif".
Sidang Pleno Ke-6 Partai Tudeh yang diselenggarakan pada bulan
Februari-Maret 1980 di Iran menetapkan segel dukungan Partai bagi Khomeini, dan
mengemukakan poin-poin berikut ini:
"Tugas paling utama dan Partai dalara bidang politik adalah untuk
bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan revolusioner sejati, maka Partai dengan
jelas mendukung mereka yang berada di belakang Ayatullah Khomeini. Partai juga
memutuskan untuk ikut mengambil bagian dalara peinilihan umum untuk inajelis dan
referendum yang akan datang.
"Sidang pleno juga memutuskan untuk menunda Kon gres Partai Ke-Tiga yang
telah lama ditunggu hingga waktu yang tidak lama lagi." (Kongres Partai
Ke-2 diadakan pada tahun 1948.)
Sebelumnya, ketika Iran mendeklarasikan sebuah Republik Iran pada 1 April
1979 melalui referendum seluruh negeri, Partai Tudeh mendukungnya, mengatakan
dalara sebuah pernyataan: kebijakan dari Partai Tudeh adalah untuk menegakkan
persatuan menentang imperialisme. Dengan demikian, referendum mempunyai arti
bagi kita penguburan rezim Shah... karena kita menginginkan persatuan dengan
rakyat, maka kami dengan sepenuh hati mendukung referendum. (Penekanan dari
kami) (26)
Setelah deklarasi Republik Islam, Mahkamah Islam, yang telah beraksi,
menghukum ratusan agen Savak, dan dengan menggunakan alasan palsu yang sama,
mereka mulai melakukan eksekusi bagi buruh militan. Para buruh dihadapkan dengan
reaksi terbuka dalam bentuk represi dan eksekusi. Akan tetapi Tudeh, dengan aib
yang abadi, memasung mereka yang mengkritik "Mahkamah Islam yang
kontrarevolusioner milik Khomeini dan bahkan menuduh mereka menjadi agen bagi
Savak dan CIA.
Dari sisi mereka, organisasi Fedayeen dan Mujahiddin memiliki garis
ultra-kiri. Mereka memainkan peranan yang sangat negatif, seperti yang
dilakukan oleh organisasi yang mendukung apa yang disebut sebagai sekte-sekte
Trotskys yang dalara beberapa hal terkait dengan kelompok-kelompok mahasiswa
revolusioner di Iran. Sayangnya, mahasiswa revolusioner di Iran tidak
berorientasi terhadap kelas pekerja dan tidak memformulasikan sebuah program
untuk aksi kelas pekerja. Kebalikannya, mereka diberi nasihat oleh sekte itu
untuk merubah metode menjadi terorisme individual. Sebagaimana biasanya,
sekte-sekte memandang kaum buruh impoten, tidak terpelajar, dan benarbenar
tidak berkekuatan untuk merubah hubungan antar kekuatan yang eksis di Iran.
Konsepsi-konsepsi mereka diperkuat dengan adanya fakta bahwa kelas pekerja
memang sepenuhnya tidak terorganisir.
Seluruh perspektif kaum ultra-kiri telah keliru sejak awal hingga akhir.
Mereka mulai dengan penilaian pesimis terhadap situasi sebelum tahun 1979.
Sebagai akibatnya, mereka menghapuskan keberadaan kelas pekerja dan menolak
segala kemungkinan adanya revolusi di Iran. Argumen dari sekte tersebut dan
mereka yang nantinya berganti dengan kebijakan terorisme individual, adalah
bahwa Shah mengadakan industrialisasi dan semua kartu ada di tangannya. Shah
telah menaikkan standar hidup kelas pekerja, begitu pendapat mereka, bahwa Shah
telah memberikan konsesi yang besar bagi kelas pekerja dan juga kaum tani. Hal
ini, simpul mereka, akan menjadikan adanya stabilitas bagi rezim tersebut.
Mereka menyatakan bahwa Shah dapat mempertahankan kekuasaannya selama berpuluh
tahun sebagai konsekuensi dari "revolusi putih" dan kemajuan industri.
Tanpa sengaja, gagasan ini juga ditelan mentahmentah oleh kaum imperialis.
Sebagai contoh, CIA mengeluarkan sebuah laporan pada akhir September 1978, yang
mengatakan bahwa Shah memiliki sebuah rezim yang stabil dan akan terus memegang
kekuasaan untuk setidaknya sepuluh hingga lima belas tahun ke depan.
Taktik terorisme individu, terbukti selalu membawa bencana. Menurut fakta
yang ada sejauh ini, setelah enam tahun perjuangan bersenjata melawan para
pendukung pemerintah, 600 pejuang gerilya terbunuh dan 2000 orang tertangkap,
dibandingkan hanya sejumlah 200 orang mati dari pihak pemerintah.(27) Sebagai
akibat dari kegiatan para gerilyawan yang kekanakkanakan pada periode itu,
maks Savak bisa melakukan comeback dan negara memperkuat dirinya dengan
segala bentuk kebijakan dan undang-undang represif. Perilaku kaum teroris yang
menghinakan terhadap kelas pekerja dengan jelas disampaikan oleh Amir Parviz
Pouyan, yang, dalam bukletnya Zaroorat-e-Mobarzeh Mosalneh ("Pentingnya
perjuangan bersenjata"), menulis: "Sepanjang pengalaman kauri, kami
bisa katakan bahwa rakyat kelas pekerja semata merupakan orang yang bodoh.
Mereka bukan merupakan kelas yang sadar secara politik dan seringkali
memuaskan diri dengan mempelajari literatur reaksioner. (28) Kesimpulan yang
ditarik oleh orang-orang ini merupakan pandangan yang pesimistis dan seluruhnya
revolusioner. Mereka tidak siap untuk membuat kritik-diri yang jujur akan.
kesalahan mereka sendiri, mereka menyalahkan segalanya kepada kelas
pekerja-satu-satunya kelas revolusioner sejati dalam masyarakat, dan
satu-satunya kelas, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Marx jauh di waktu
lampau, yang bisa melaksanakan transformasi masyarakat sosialis.
Pengantar,
Bab 1, Bab
2, Bab 4, Bab
5
Catatan
1. Tulsiram, The History of Communist Movement in Iran, hal. 2.
2. Abdus Samad Kambakash, The brief survey of workers and Communist
Movement of Iran 1972, hal. 14.
3. Ibid., p. 13.
4. V. 1. Lenin, Collected Works, volume 34, hal. 72. Progress
Publishers, Moscow, 1969.
5. Ehsan Tabart, Impact of 1905 Revolution on Constitutional Movement of
Iran, hal. 53.
6. B.G. Gafurov and G.F. Kim, Lenin and the National Liberation in the
East, hal. 307-8. Progress Publishers, Moscow, 1978.
7. Alan Woods, Bolshevism, the Road to Revolution, hal. 38.
8. Abdus Samad Kambakash, A Brief Survey of Workers and Communist Movement
of Iran, hal. 3.
9. Memoirs of Reza Rusta Literary Association, Farhang No 3, 1965, hal.
82.
10. E. Abra Hamian, Iran Between Two Revolutions, hal. 15
11. Tulsi Ram, The History of Communist Movement in Iran, hal. 42.
12. Mohammad Reza Shah Pahlavi, Mission for my Country, hal. 36 - 38,
Hutchinson, London, 1961.
13. Ted Grant, Russia, from Revolution to Counter-revolution, hal.
153.
14. Trotsky, In Defence of Marxism, hal. 4 - 5, New York, 1970.
15. Ted Grant, Russia, from Revolution to Counter-revolution, hal.
231.
16. The Department of State Bulletin USA, July 20 1953. hal. 76.
17. S. Yinam, The Middle East in 1953, Annual Political Survey Middle East
Affairs, p. 11, New York January, 1954.
18. The Department of State Bulletin USA, August 10 1953, hal. 178.
19. F.M. Jawan Shir, Experience of 28 mordad (19 August) Entesharat
Hezbe-Tudeh Iran 1980, hal. 312 - 313.
20. Iraj Eskandari, What Do We Mean by the National Bourgeoisie, World
Marxist Review, London, September 1959, hal. 72.
21. E. A. Bee Bayne, Persian Kingship in Transition, hal. 92, New
York, 1968.
22. Nurredin Kianuri, Some Points Related to the History of Tudeh Party
publication Teheran 1980, hal. 40 - 41.
23. Abdus Samad Kambakash, Iran at Cross Road, hal. 40.
24. Mardom Tudeh Organ Teheran, hal. 4, 22 Juni 1979.
25. History of Communist Movement in Iran, hal. 157 - 158.
26. Murdom, Once Again We and Referendum, Maret 28,1974, hal. 24.
27. Donya, About Six Years of Armed Struggle in Iran, November -
Desember, 1976, hal. 22.
28. 0 Jawan Cheri Kha Khalaq Chee Megoyadan ("What the Guerrilla
says"), September 1972, hal. 2. |