Membangun Diskusi Revolusioner di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya Cetak E-mail
Ditulis oleh Lestari Yuda   
Selasa, 29 Desember 2009 04:00

Sekelompok mahasiswa revolusioner Untag (Universitas Tujuh Belas Agustus) Surabaya menggelar acara pemutaran film No Volveran dan diskusi politik yang bertema Revolusi Venezuela: Harapan Baru Sosialisme Kepada Rakyat Dunia. Acara yang digelar pada tanggal 22 Desember 2009 lalu tersebut merupakan upaya untuk membangun diskusi revolusioner di kampus Untag yang difasilitasi oleh Sentral Gerakan Mahasiswa Surabaya (SGMS) dan Militan Indonesia.

Acara ini dihadiri sekitar 50 orang yang mayoritas adalah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi internal dan eksternal kampus dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Surabaya seperti GEMA (Gerakan Mahasiswa Adonara), ITATS, dll. Dalam forum ini terlihat sekali antusiasme dari peserta ketika melihat film dan mendiskusikannya bersama. Hal ini menandakan bahwa telah ada harapan baru yaitu sosialisme sebagai solusi sejati untuk melawan kapitalisme yang sekarang semakin menghegemoni dan mendominasi di segala sendi kehidupan masyarakat indonesia.

Acara dimulai dengan pertunjukan teaterikal garapan Gareng Tejo Kusumo yang bercerita tentang kerakusan kapitalisme dan dampak-dampak internal serta eksternalnya. Gareng adalah seorang seniman sekaligus aktivis gerakan buruh yang banyak menulis puisi tentang penindasan. :Karya seni, apapun,” demikian tulisnya, “seharusnya menjadi media untuk menyuarakan pembebasan.”

Acara ini menghadirkan dua pembicara, yakni Jesus S. Anam (Kordinator Militan Indonesia), dan Andy Irfan Jaelani (Sekjen Komite Pusat Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia). Pada sesi diskusi pembicara menjelaskan tentang sejarah proses perjuangan Revolusi Venezuela yang menjadi harapan baru bagi rakyat dunia. Dalam sesi ini muncul beberapa pertanyaan dan refleksi kritis dari peserta terkait masih relevankah dan sejauh mana harapan Revolusi Venezuela ini dapat terjadi di Indonesia, mengingat kondisi subjektif baik dari kelas buruh dan kelas-kelas yang lain yang masih belum menunjukkan kesadaran yang lebih maju.

Negara, menurut Jesus, masih menunjukkan dominasinya dalam proses legitimasi sistem kapitalis dan membuat kondisi kehidupan rakyat semakin terpuruk. Negara yang sebenarnya diharapkan mempunyai kontrol penuh terhadap perekonomian untuk kesejahteraan rakyat tetapi justru menyerahkan semuanya kepada pasar. Negara hanya berfungsi layaknya juru parkir: menyediakan infrastruktur, jaminan kepastian hukum dan keamanan. Negara tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyat dalam membangun dan mengembangkan perekonomian. Negara, bersama-sama dengan pemilik modal, telah menghisap rakyatnya sendiri dengan dalih meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Jelas sekali, lanjut Jesus, bahwa kapitalisme, yang sekarang menyemarkan diri dengan istilah baru, yakni neoliberalisme,  menjadikan politik sebagai transaksi ekonomis. Bahasa politik siubah menjadi bahasa ekonomis. Aktifitas politik menjadi aktifitas untuk menghitung biaya dan keuntungan, menjadi sesuatu yang bersifat pragmatis dan individualistik.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kapitalisme adalah sebuah sistem, sebuah kekuatan politik, jawab Andi Irfan. Perlawanan kita terhadap kapitalisme harus dengan perlawanan politik, membangun partai politik revolusioner yang berbasis massa progresif (buruh, petani, dan miskin kota). Dan menjadikan sosialisme sebagai satu-satunya ideologi untuk menghancurkan dan menggantikan kapitalisme.

Diskusi dakhiri dengan sebuah kesepakatan untuk membentuk forum diskusi politik di Untag. Forum ini diharapkan bisa menjadi embrio untuk membangun kekuatan politik revolusioner di seluruh kampus di Surabaya, yang nantinya akan bekerjasama dengan Militan Indonesia untuk membangun sosialisme di Indonesia.

Buruh, Mahasiswa, Petani, Miskin Kota, Bersatulah!

 
RocketTheme Joomla Templates