Puisi dan Literatur Revolusioner



Puisi Menurutku Cetak E-mail
Ditulis oleh Andre Gusti Bara   
Jumat, 09 Juli 2010 04:58

puisi itu bukan sampah kata-kata
meski terpanggang di trotoar
jadi saksi pedagang kecil terus tergusur

Selanjutnya...
 
Buruh Pabrik Cetak E-mail
Ditulis oleh Barrapavda   
Jumat, 09 Juli 2010 04:52

Di pabrik-pabrik
Jutaan jumlahnya
Tak kosong
Meski selarut ini sampai pagi
Begitu seterusnya
Mesin tak mati-mati

Di pabrik-pabrik
Isinya orang-orangan mesin
Mesin pencetak orang

Selanjutnya...
 
Agar Tirani Turun Tahta, Bunda! Cetak E-mail
Ditulis oleh Barrapravda   
Minggu, 06 Juni 2010 00:07

Untuk mengumpulkan semua keringat-darah yang tertumpah
Kupersembahkan bagi mereka, yang tak menyerah
Untuk memunguti airmata airmata angkara
Sebagai peringatan bagi mereka:

Agar Tirani Turun Tahta !!!

Selanjutnya...
 
Cerpen: Suatu Pagi Sebelum ke Pabrik Cetak E-mail
Ditulis oleh Andre Gusti Bara   
Sabtu, 01 Mei 2010 03:40

Pagi menua ketika matahari semakin tinggi terbang ke langit. Dengan angkuh membagi sinarnya ke semua sudut bumi. Embun sudah pergi. Tak ada lagi sisa-sisa kristal pagi yang menjadi saksi malam pergi dan digantikan pagi. Semua hilang tanpa jejak. Sirna seketika seakan waktu tak pernah singgah. Meski pagi ini tidaklah berbeda seperti pagi sebelumnya bagi sebagian besar orang, tapi tidak buat Mou. Hari ini jelas berbeda. Semuanya. Hangat sinar mentari, sapa orang-orang yang nanti bersilang tubuh di mulut gang tempat menanti metro mini, maupun apa yang akan terjadi di pabrik hari ini.

Selanjutnya...
 
Hikayat Kadiroen Cetak E-mail
Ditulis oleh Semaoen (1920)   
Minggu, 06 Desember 2009 07:07

Hikayat Kadiroen adalah sebuah novel karangan Semaoen (1899-1977), ketua umum Partai Komunis Indonesia yang pertama. Ditulis oleh Semaoen ketika dia berada di penjara pada tahun 1919 akibat pembangkangannya terhadap Pemerintah Belanda pada saat itu. Buku ini lalu diterbitkan pertama kalinya pada tahun 1920 di Semarang. Hikayat Kadiroen adalah salah satu sumbangsih awal terhadap kesusasteraan Indonesia, salah satu dari sedikit sastra yang berbahasa Melayu pada saat itu. Bercerita mengenai kezaliman penjajah Belanda, novel bernuansa realisme sosialis ini dimaksudkan untuk membangkitkan rasa juang rakyat pekerja dan petani untuk melawan penjajahan.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

RocketTheme Joomla Templates