Sebuah "Front Rakyat" Pencela
Kampanye seputar
Kronstadt dilaksanakan dengan semangat yang tak tersurutkan oleh
lingkaran-lingkaran kelompok tertentu. Seseorang akan berpikir bahwa
pemberontakan Kronstadt terjadi satu hari yang lalu, bukan tujuhbelas tahun
yang lalu. Ikut serta dalam kampanye tersebut dengan semangat yang sama dan di bawah
slogan yang sama adalah kaum Anarkis, kaum Menshevik Rusia, kaum Sosial
Demokrat kiri dari Biro London[1], orang-orang yang bodoh, artikel tulisan
Miliukov[2], dan kadang-kadang, media kapitalis besar. Sebuah "Front Rakyat"
yang sangat unik.
Hanya kemarin
saya membaca artikel di koran mingguan Mexico yang merupakan koran yang
Katolik reaksioner dan "demokratik": Trotsky memerintahkan penembakan 1500 (?)
kelasi Kronstadt, kelompok yang tersuci dari yang suci. Kebijakan Trotsky saat
berkuasa tidaklah berbeda dengan kebijakan Stalin saat ini. Seperti yang kita ketahui,
kaum Anarkis kiri menarik kesimpulan yang sama. Ketika pertama kalinya di dalam
press saya menjawab dengan singkat pertanyaan Wendelin Thomas, seorang anggota
Komisi Penyelidikan New York,
koran Menshevik Rusia segera membela kelasi Kronstadt dan ... Wendelin Thomas.
Artikel Miliukov juga mempunyai maksud yang sama. Kaum Anarkis menyerang saya
dengan semangat yang lebih besar. Semua pihak yang berwenang ini mengklaim
bahwa jawaban saya tidak mempunyai nilai apapun. Kekompakan ini sangatlah luar
biasa karena di dalam simbol Kronstadt kaum Anarkis membela komunisme anti-negara
yang sejati; kaum Menshevik pada saat pemberontakan Kronstadt berpihak secara
terbuka pada restorasi kapitalisme; dan Miliukov masih berpihak pada
kapitalisme sampai sekarang.
Bagaimana bisa
pemberontakan Kronstadt menyebabkan ketidakpuasan yang begitu besar dari kaum
Anarkis, Menshevik, dan kaum konter-revolusioner "liberal", semua pada saat
yang sama? Jawabannya sangatlah mudah. Semua kelompok-kelompok ini berminat
untuk melemahkan satu-satunya arus revolusioner yang sejati, yang tidak pernah menanggalkan
panji-panjinya, tidak pernah berkompromi dengan musuhnya, dan sendirinya
mewakilkan masa depan. Untuk alasan inilah di antara pencela "kejahatan"
Kronstadt saya banyak kaum bekas revolusioner atau semi-revolusioner,
orang-orang yang sudah kehilangan program dan prinsip-prinsip mereka dan merasa
perlu untuk mengalihkan perhatian dari degradasi International Kedua atau dari
pengkhianatan kaum Anarkis Spanyol. Sampai sekarang, kaum Stalinis tidak bisa
bergabung secara terbuka dengan kampanye seputar Kronstadt, tetapi bahkan
mereka tentu saja menggosok tangan mereka dengan kepuasan; karena serangan ini
ditujukan kepada "Trotskisme", kepada Marxisme revolusioner, kepada
International Keempat!
Mengapa
kelompok-kelompok yang beraneka-ragam ini secara khusus menyerang isu
Kronstadt? Selama tahun-tahun revolusi, kami berselisih lebih dari beberapa
kali dengan Cossasks[3], petani, bahkan dengan lapisan tertentu kaum buruh
(kelompok buruh tertentu dari Urals mengorganisasikan resimen relawan untuk
tentara Kolchak[4]!). Antagonisme antara buruh sebagai konsumen dan petani
sebagai produsen dan penjual roti adalah akar utama konflik-konflik tersebut.
Di bawah tekanan kebutuhan dan kemiskinan, kaum buruh sendiri kadang-kadang
terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bermusuhan, tergantung dari hubungan
yang lebih kuat atau lebih lemah dengan perdesaan. Tentara Merah juga menemukan
dirinya di bawah pengaruh perdesaan. Selama tahun-tahun perang saudara, perlu
dilakukan lebih dari sekali pelucutan senjata dari resimen-resimen yang merasa tidak
puas. Implementasi "Kebijakan Ekonomi Baru" (KEB) meringankan konflik tersebut,
tetapi jauh dari melenyapkannya. Sebaliknya, NEP membuka jalan bagi kelahiran
kembali kaum kulak (petani kaya) dan menyebabkan kembali perang saudara di
pedesaan pada permulaan dasawarsa ini. Pemberontakan Kronstadt hanyalah
merupakan satu episode di dalam sejarah hubungan antara kaum proletariat
kota dan kaum
borjuis kecil pedesaan. Hanyalah mungkin untuk memahami episode ini di dalam
hubungannya dengan arus perkembangan umum perjuangan kelas pada waktu revolusi.
Kronstadt
berbeda dari gerakan-gerakan dan pemberontakan-pemberontakan kaum borjuis kecil
hanya dari efek eksternalnya yang lebih besar. Masalah ini bersangkut paut
dengan benteng maritim di bawah Petrograd.
Selama pemberontakan, proklamasi-proklamasi diisukan dan siaran-siaran radio
diudarakan. Kaum Sosial Revolusioner dan kaum Anarkis, buru-buru dari Petrograd, menghiasi pemberontakan tersebut dengan
kata-kata dan sikap-sikap "mulia". Semua ini meninggalkan jejak-jejak tulisan.
Dengan bantuan material "dokumentasi" ini (dalam kata lain, label-label yang
keliru), tidaklah sulit untuk membuat legenda mengenai Kronstadt, legenda yang
lebih dimuliakan karena pada tahun 1917 nama Kronstadt dikelilingi oleh
lingkaran cahaya revolusioner. Tidaklah salah kalau majalah Mexico yang dikutip di atas dengan
ironis memanggil kelasi Kronstadt "tersuci dari yang suci".
Penggunaan
otoritas revolusioner Kronstadt merupakan salah satu ciri-ciri istimewa dari
kampanye tipuan ini. Kaum Anarkis, Menshevik, liberal, reaksioner mencoba menyuguhkan
masalah ini dengan gambaran bahwa pada permulaan tahun 1921 kaum Bolshevik
mengarahkan senjatanya terhadap kelasi Kronstadt yang dulu memastikan
kemenangan pemberontakan Oktober. Disinilah letak kesalahan dari semua
kebohongan ini. Siapapun yang ingin membongkar kebohongan-kebohongan ini
sebaiknya pertama-tama membaca artikel yang ditulis oleh saudara J.G. Wright di
New International (Februari 1938) (artikel yang dimaksud adalah "The
Truth about Kronstadt" - catatan penerjemah). Masalah saya adalah sesuatu hal
yang lain: saya bermaksud untuk menjelaskan karakter pemberontakan Kronstadt
dari sudut pandang yang lebih umum.
Pengelompokan Sosial dan Politik di Kronstadt
Sebuah revolusi
"dibuat" secara langsung oleh minoritas. Akan tetapi, sukses dari sebuah
revolusi hanyalah mungkin bila minoritas ini mendapat dukungan, atau setidaknya
kenetralan yang bersahabat, dari mayoritas. Perubahan di dalam tahap-tahap yang
berbeda dari revolusi, contohnya transisi dari revolusi ke konter-revolusi,
secara langsung ditentukan oleh perubahan hubungan politik antara minoritas dan
mayoritas, antara vanguard dan kelas.
Di antara kelasi
Kronstadt terdapat tiga lapisan politik: kaum proletariat revolusioner,
beberapa memiliki masa lalu dan pendidikan yang dalam; kaum mayoritas menengah,
sebagian besar adalah dari petani; dan akhirnya, kaum reaksioner, anak-anak
dari kulak, pemilik toko kecil, dan pendeta. Pada jaman Tsar, ketertiban di
atas kapal perang dan di dalam benteng dapat dipertahankan hanya bila opsir-opsir
tinggi, yang beraksi melalui petugas-petugas dan kelasi bawahan yang
reaksioner, mempengaruhi lapisan tengah yang luas dengan pengaruh atau teror,
dan akibatnya mengisolasi kaum revolusioner, yang sebagian besar adalah tukang
mesin, penembak, dan tukang listrik, dalam kata lain sebagian besar adalah
pekerja kota.
Arah
pemberontakan di kapal perang Potemkim pada tahun 1905 adalah
berdasarkan hubungan di antara tiga lapisan tersebut, dalam kata lain
berdasarkan perjuangan antara proletariat dan borjuis kecil reaksioner yang
ekstreme untuk mempengaruhi lapisan petani menengah yang jumlahnya lebih besar.
Siapapun yang tidak mengerti hal ini, yang berjalan di semua gerakan revolusioner
di armada-armada, lebih baik tidak berbicara mengenai revolusi Rusia secara
umum. Karena revolusi Rusia masih sepenuhnya merupakan perjuangan antara
proletariat dan borjuis untuk mempengaruhi kaum petani. Selama periode Soviet,
kaum borjuis muncul dengan samaran kaum kulak (lapisan atas dari borjuis
kecil), kaum intelektual "sosialis", dan sekarang di dalam bentuk birokrat
"Komunis". Ini adalah mekanisme dasar revolusi di dalam semua tahapannya. Di
dalam armada kapal perang, mekanisme ini lebih tersentralisasi, dan maka dari
itu menghasilkan ekspresi yang lebih dramatis.
Komposisi politik
Soviet Kronstadt merefleksikan komposisi garnisun dan awak kapal. Pada awal
musim panas tahun 1917, kepemimpinan soviet-soviet adalah di tangan Partai
Bolshevik, yang bersender pada golongan kelasi yang lebih baik dan termasuk di dalam
barisan ini adalah kaum revolusioner dari gerakan bawah tanah yang sudah
dibebaskan dari penjara kerja paksa. Akan tetapi saya ingat bahwa bahkan pada
hari-hari pemberontakan Oktober, kurang dari setengah Soviet Kronstadt adalah
kaum Bolshevik. Mayoritas Soviet Kronstadt terdiri dari kaum Sosial
Revolusioner (SR) dan Anarkis. Tidak ada kaum Menshevik sama sekali di dalam
Kronstadt. Partai Menshevik membenci Kronstadt. Partai SR yang ofisial
mempunyai sikap yang sama terhadap Kronstadt. Kaum SR Kronstadt segera pindah
menjadi oposisi terhadap Kerensky[5] dan membentuk salah satu pasukan tempur yang
kerap disebut SR "kiri". Mereka mendasarkan diri mereka dari kelompok petani di
armada dan garisun pantai. Sedangkan untuk kaum Anarkis, mereka adalah kelompok
yang paling beraneka ragam. Di antara mereka adalah revolusioner sejati,
seperti Zhuk dan Zhelezniakov, tetapi mereka adalah elemen yang paling dekat
hubungannya dengan Bolshevik. Kebanyakan "Anarkis" Kronstadt mewakili kaum
borjuis kecil perkotaan dan berdiri di level revolusioner yang lebih rendah
daripada kaum SR. Presiden dari soviet tersebut adalah seseorang yang
non-partisan, "simpatik terhadap kaum Anarkis", dan pada hakikatnya adalah
seorang pegawai kecil yang tentram yang dulunya patuh terhadap otoritas tsar
dan sekarang melayani ... revolusi. Absennya Menshevik, karakter "kiri" SR, dan
karakter Anarkis borjuis kecil adalah karena tajamnya perjuangan revolusi di
armada tersebut dan pengaruh kelompok proletariat dari pelaut-pelaut tersebut
yang mendominasi.
Perubahan Selama Tahun-Tahun Perang Saudara
Karakter sosial
dan politik Kronstadt, yang bisa didukung dan diilustrasikan dengan fakta-fakta
dan dokumen-dokumen, sudah cukup untuk menggambarkan pergolakan yang terjadi di
Kronstadt selama perang saudara dan sebagai akibatnya, karakternya berubah
drastis. Tepatnya mengenai aspek yang sangat penting ini, penuduh-penuduh yang
terlambat ini tidak mengutarakan satu kata pun, sebagian karena kebodohan,
sebagian lagi karena maksud buruk.
Benar, Kronstadt
menulis sebuah halaman kepahlawanan di dalam sejarah revolusi. Akan tetapi,
perang saudara menyebabkan penyusutan populasi Kronstadt dan seluruh armada
laut Baltik secara sistematis. Semenjak hari-hari pemberontakan Oktober,
detasemen kelasi Kronstadt dikirim untuk membantu Moskow. Detasemen lainnya
kemudian dikirim ke Don, ke Ukraina, untuk rekuisisi roti dan mengorganisir kekuatan
lokal. Pada awalnya, tampak bahwa Kronstadt tidak ada habis-habisnya. Dari
front-front yang lain, saya mengirim lusinan telegram mengenai mobilisasi
detasemen baru yang bisa "diandalkan" dari pekerja Petersburg dan kelasi
Baltik. Tetapi, semenjak awal tahun 1918, atau setidak-tidaknya pada tahun
1919, front-front tersebut mulai mengeluh bahwa kesatuan baru "orang Kronstadt"
tidak memuaskan, rewel, tidak disiplin, tidak bisa diandalkan dalam
perperangan, dan merugikan daripada membantu. Setelah likuidasi pasukan
Yudenich[6] (pada musim dingin tahun 1919), armada laut Baltik dan garisun
Kronstadt kehilangan semua pasukan revolusionernya. Semua elemen di antara
mereka yang berguna sama sekali dikirim untuk melawan Denikin[7] di selatan.
Bila pada tahun 1917-18 kelasi Kronstadt berdiri di level yang lebih tinggi
daripada rata-rata semua Tentara Merah dan membentuk kerangka detasemen pertama
Tentara Merah dan juga kerangka rejim Soviet di banyak district, kelasi yang
menempati Kronstadt yang "tenteram" sampai pada awal tahun 1921, yang tidak
cocok di dalam semua garis depan perang saudara, pada saat ini berdiri di level
yang lebih rendah daripada level rata-rata Tentara Merah, dan termasuk di
dalamnya adalah persentase yang besar elemen-elemen yang moralnya benar-benar merosot,
yang memakai celana bell-bottom yang menyolok dan potongan rambut yang
menyolok.
Kemerosotan
moral yang disebabkan oleh kelaparan dan spekulasi sudah meningkat pesat secara
umum pada akhir perang saudara. Yang kerap disebut "pengangkut karung"
(spekulator kecil) sudah menjadi penyakit sosial, mengancam untuk mencekik
revolusi. Tepatnya di Kronstadt dimana garisun tidak melakukan apa-apa dan
memiliki semua yang dibutuhkan, kemerosotan moral ini mengambil dimensi yang
lebih besar. Ketika kondisi kelaparan Petrograd menjadi sangat kritis, lebih
dari sekali Biro Politik mendiskusikan kemungkinan untuk mendapatkan "pinjaman
internal" dari Kronstadt, dimana stok pangan yang lama masih ada. Akan tetapi,
delegasi dari Petrograd menjawab: "Kamu tidak
akan mendapatkan apapun dari mereka dengan kebaikan. Mereka melakukan spekulasi
kain, batu bara, dan roti. Saat ini di Kronstadt, semua macam kebusukan sudah
menampilkan kepalanya." Inilah situasi yang sebenarnya. Tidak seperti
angan-angan yang manis setelah kejadian tersebut.
Masih harus
ditambahkan bahwa mantan kelasi dari Latvia dan Estonia yang takut dikirim ke
garis depan dan yang bersiap-siap untuk menyebrang ke tanah air borjuis mereka
yang baru, Latvia dan Estonia, sudah bergabung dengan armada laut Baltic
sebagai "relawan". Elemen-elemen ini pada hakikatnya bermusuhan dengan
kewenangan Soviet dan menunjukkan permusuhan ini secara penuh di hari-hari
pemberontakan Kronstadt ... Selain elemen-elemen yang disebut di atas, ada ribuan
buruh Latvia, yang kebanyakan adalah bekas buruh tani, yang menunjukkan kepahlawanan
yang tidak pernah terlihat sebelumnya di semua garis depan perang saudara. Maka
dari itu, kita tidak boleh menyamakan buruh Latvia dengan "kaum Kronstadt".
Kita harus mengenal perbedaan-perbedaan sosial dan politik.
Akar Sosial dari Pemberontakan
Masalah dari
seorang pelajar yang serius adalah memahami, berdasarkan kondisi objektif,
karakter sosial dan politik dari pemberontakan Kronstadt dan pengaruhnya di
dalam perkembangan revolusi. Tanpa ini, "kritik" tereduksi menjadi ratapan
sentimentil seperti para pencinta kedamaian Alexander Berkman[8], Emma Goldman[9],
dan peniru-peniru terbaru mereka. Orang-orang lemah lembut ini tidak mempunyai
pengertian sedikitpun mengenai kriteria dan metode penilitian ilmiah. Mereka
mengutip proklamasi-proklamasi pemberontak tersebut seperti pendeta saleh yang
mengutip Kitab Suci. Terlebih lagi, mereka mengeluh bahwa saya tidak
mempertimbangkan "dokumen-dokumen" tersebut, dengan kata lain, injil dari
Makhno[10] dan rasul-rasul lainnya. Untuk "mempertimbangkan" dokumen-dokumen
tersebut bukan berarti mengartikan mereka secara harfiah. Marx mengatakan bahwa
tidaklah mungkin untuk menilai partai atau orang dari apa yang mereka ucapkan
mengenai diri mereka sendiri. Karakter dari sebuah partai lebih banyak
ditentukan oleh komposisi sosial partai tersebut, masa lalunya, hubungannya
dengan kelas-kelas dan strata-strata yang lain, daripada oleh deklarasi lisan
dan tulisan partai tersebut, terutama pada waktu perang saudara yang kritis. Contohnya,
bila kita mulai mengartikan proklamasi-proklamasi dari Negrin, Companys, Garcia
Oliver, dan Company sebagai emas murni, maka kita harus mengakui mereka sebagai
kawan baik sosialisme. Akan tetapi dalam kenyataannya mereka adalah musuh
pengkhianat sosialisme.
Pada tahun
1917-18, kaum buruh revolusioner memimpin massa
petani, bukan hanya di armada-armada, tetapi di seluruh negara. Para petani menyita dan membagi-bagikan tanah kebanyakan di
bawah kepimpinan para tentara dan kelasi yang tiba di daerah mereka. Rekuisisi
roti barulah dimulai dan sebagian besar adalah dari tuan tanah dan para kulak. Para petani menerima rekuisisi ini sebagai kejahatan yang
sementara. Akan tetapi, perang saudara berlangsung selama tiga tahun. Kota tidak memberikan
apapun kepada desa dan mengambil hampir semuanya dari desa, terutama untuk
kebutuhan perperangan. Para petani berpihak
pada "kaum Bolshevik" akan tetapi menjadi semakin bermusuhan dengan "kaum
Komunis". Bila pada periode yang sebelumnya kaum buruh memimpin para petani
untuk maju ke depan, sekarang para petani menyeret kaum buruh ke belakang.
Hanya karena perubahan suasana hati inilah Tentara Putih dapat menarik sebagian
petani dan bahkan setengah-petani-setengah-buruh Ural ke pihak mereka. Suasana
hati ini, yaitu sikap bermusuhan terhadap kota,
menyuburkan gerakan Makhno yang menyita dan menjarah kereta-kereta yang
diperuntukan bagi pabrik-pabrik dan Tentara Merah, merusak rel kereta api,
menembak kaum Komunis, dan sebagainya. Tentu saja Makhno menyebut usaha-usaha
tersebut sebagai perjuangan Anarkis untuk melawan "negara". Dalam kenyataannya,
ini adalah perjuangan pemilik properti kecil yang marah melawan kedikdaturan
proletariat. Gerakan serupa timbul di beberapa distrik yang lain, terutama di
Tambovsky, dibawah panji-panji "Sosial Revolusioner". Akhirnya, yang disebut
detasemen petani "hijau" aktif di beberapa daerah. Mereka tidak ingin mengakui
kaum Merah ataupun kaum Putih, dan menolak partai-partai kota. Kaum "Hijau" kadang-kadang bertemu
dengan kaum Putih dan menerima serangan yang berat dari mereka, akan tetapi
mereka tentu saja tidak mendapatkan belas kasihan dari kaum Merah. Seperti
halnya kaum borjuis kecil yang tergiling secara ekonomi di antara kaum
kapitalis besar dan proletariat, detasemen petani tersebut juga hancur lebur di
antara Tentara Merah dan Tentara Putih.
Hanya orang yang
betul-betul dangkal bisa melihat di dalam kelompok Makhno atau di dalam
pemberontakan Kronstadt sebuah perjuangan antara prinsip abstract Anarkisme dan
"sosialisme negara". Sebenarnya, gerakan-gerakan ini merupakan guncangan kaum
petani borjuis kecil yang tentu saja bermaksud untuk membebaskan dirinya dari kapital,
tetapi pada saat yang sama tidak setuju untuk berada di bawah kediktaturan
proletariat. Kaum borjuis kecil ini tidak tahu secara konkrit apa yang mereka
kehendaki, dan karena posisinya mereka tidak bisa tahu. Karena inilah mereka
menutupi kebingungan dari permintaan dan harapan mereka dengan panji-panji
Anarkis, populis, dan kaum "Hijau". Menempatkan diri mereka di seberang
proletariat,mereka mencoba untuk memutarbalikkan roda revolusi dengan
mengibarkan panji-panji tersebut.
Karakter Konter-Revolusi dari Pemberontakan Kronstadt
Tentu saja tidak
ada tembok tinggi yang memisah lapisan sosial dan politik yang berbeda di
Kronstadt. Masih ada di Kronstadt sejumlah buruh dan teknisi yang mempunyai
kualifikasi untuk menjaga mesin-mesin. Akan tetapi bahkan mereka ini dipilih
dengan metode seleksi negatif dimana mereka dianggap tidak dapat diandalkan
secara politik dan tidak banyak berguna di dalam perang saudara. Beberapa
"pemimpin" pemberontakan ini datang dari elemen-elemen tersebut. Akan tetapi,
kondisi yang sepenuhnya alami dan tidak terelakkan ini, yang beberapa pencela
merujuk dengan bangga, tidak merubah sedikitpun karakter anti-proletariat dari
pemberontakan ini. Kecuali bila kita membohongi diri kita sendiri dengan
slogan-slogan bohong, label-label tipuan, dll, kita akan melihat bahwa
pemberontakan Kronstadt adalah tidak lebih dari pada sebuah reaksi bersenjata
kaum borjuis kecil terhadap kesukaran revolusi sosial dan kerasnya kediktaturan
proletariat.
Inilah makna
sebenarnya dari slogan Kronstadt, "Soviet tanpa Komunis", yang dengan segara
ditangkap bukan hanya oleh kaum SR tetapi juga oleh kaum borjuis liberal. Sebagai
seorang wakil dari kapitalisme yang bijak, Profesor Miliukov mengerti bahwa
untuk membebaskan soviet-soviet dari kepemimpinan Bolshevik akan berarti
kehancuran soviet-soviet itu sendiri dalam waktu yang dekat. Pengalaman
soviet-soviet Rusia selama dominasi Menshevik dan SR, dan bahkan lebih jelasnya
adalah pengalaman soviet-soviet Jerman dan Austria di bawah dominasi kaum Sosial
Demokrat, membuktikan hal tersebut. Soviet-soviet Sosial Revolusioner
(SR)-Anarkis hanya akan berperan sebagai jembatan dari kediktaturan proletariat
ke restorasi kapitalis. Mereka tidak bisa memainkan peran yang lain, apapun
"ide" mereka tentang partisipasi mereka. Maka dari itu, pemberontakan Kronstadt
memiliki karakter konter-revolusi.
Dari sudut
pandang kelas, yang tetap merupakan kriteria fundamental politik dan sejarah,
sangatlah penting untuk membedakan kelakuan Kronstadt dari kelakuan Petrograd pada hari-hari yang kritis tersebut. Seluruh
lapisan kepemimpinan buruh Petrograd juga sudah ditarik keluar dari Petrograd
(dikirim ke garis depan medan
perang - catatan penerjemah). Kelaparan dan cuaca dingin meliputi ibu kota yang kosong ini, dan
mungkin lebih parah daripada Moskow. Sebuah periode gagah berani dan tragis!
Semua orang lapar dan kesal. Semua orang tidak puas. Di pabrik-pabrik terdapat
ketidakpuasan. Organisator-organisator bawah tanah yang dikirim oleh SR dan
Tentara Putih mencoba untuk menautkan pemberontakan militer dengan gerakan
buruh yang tidak puas.
Koran Kronstadt
menulis mengenai barikade-barikade di Petrograd,
mengenai ribuan orang yang dibunuh. Press di seluruh dunia memproklamasikan hal
yang sama. Sebenarnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Pemberontakan Kronstadt
tidak menarik buruh-buruh Petrograd.
Pemberontakan tersebut memuakkan mereka. Permisahan ini mengikuti garis kelas.
Kaum buruh Petrograd segara merasa bahwa pemberontak Kronstadt berdiri di sisi
yang berseberangan - dan mereka (buruh Petrograd
- catatan penerjemah) mendukung kekuasaan Soviet. Isolasi politik Kronstadt
merupakan sebab dari ketidakpastian internalnya dan kekalahan militernya.
Kebijakan Ekonomi Baru dan Pemberontakan Kronstadt
Victor Serge[11],
yang tampaknya mencoba untuk membuat sebuah sintesa anarkisme, POUMisme[12],
dan Marxisme, sangat disayangkan ikut campur tangan dengan polemik mengenai
Kronstadt. Di dalam pendapatnya, implementasi KEB satu tahun lebih awal bisa
mencegah pemberontakan Kronstadt. Mari kita akui hal tersebut. Akan tetapi,
saran seperti ini sangat mudah diajukan setelah peristiwa tersebut terjadi.
Seperti yang Victor Serge ingat, adalah benar bahwa saya sudah mengajukan
proposal untuk transisi ke KEB semenjak tahun 1920. Akan tetapi, saat itu saya
sama sekali tidak yakin akan keberhasilannya. Bukanlah rahasia bagi saya bahwa
obat ini dapat menjadi lebih berbahaya dari pada penyakit itu sendiri. Ketika
pemimpin-pemimpin partai lainnya tidak setuju dengan proposal saya, saya tidak
mencari dukungan dari anggota partai, guna menghindari mobilisasi borjuis kecil
melawan kaum buruh. Pengalaman 12 bulan ke depan diperlukan untuk meyakinkan
partai mengenai perlunya kebijakan yang baru. Tetapi, hal yang luar biasa
adalah bahwa semua kaum Anarkis di seluruh dunia menilai KEB sebagai ...
pengkhianatan komunisme. Tetapi sekarang pendukung Anarkis mencela kita karena
tidak mengimplementasikan KEB satu tahun lebih awal.
Pada tahun 1921,
lebih dari sekali Lenin mengakui secara terbuka bahwa pembelaan yang keras
kepala terhadap metode Komunisme Militer oleh partai Bolshevik sudah menjadi
sebuah kesalahan yang besar. Akan tetapi, apakah ini akan merubah sesuatu?
Apapun sebab langsung atau jangka panjang dari pemberontakan Kronstadt,
pemberontakan tersebut pada hakikatnya merupakan bahaya yang mematikan bagi
kediktaturan proletariat. Hanya karena revolusi proletariat berbuat kesalahan
politik, mestikah revolusi proletariat tersebut melakukan bunuh diri untuk
menghukum dirinya?
Atau mungkin
pemberontakan tersebut dapat ditenangkan cukup dengan memberitahukan pelaut
Kronstadt tentang dekrit KEB? Ilusi! Pemberontak tersebut tidak memiliki
program yang sadar dan mereka tidak bisa memiliki itu karena sifat dasar
borjuis kecil. Mereka sendiri tidak mengerti dengan jelas bahwa apa yang
dibutuhkan oleh ayah dan saudara mereka adalah perdagangan bebas. Mereka merasa
tidak puas dan kebingungan tetapi mereka tidak melihat jalan keluar. Elemen
kanan yang lebih sadar, yang beraksi di belakang layar, menginginkan restorasi
rejim borjuis. Tetapi mereka tidak mengutarakan hal tersebut secara terbuka.
Sayap "kiri" tersebut menginginkan likuidasi disiplin, "soviet yang bebas", dan
pembagian kebutuhan yang lebih baik. Kebijakan KEB hanya bisa menenangkan
petani secara bertahap, dan setelah mereka, kelompok militer dan armada laut
yang tidak puas. Akan tetapi, waktu dan pengalaman dibutuhkan untuk hal ini.
Yang paling lucu
dari semua ini adalah argumen bahwa tidak pernah ada pemberontakan, bahwa
pelaut-pelaut tersebut tidak membuat ancaman, bahwa mereka "hanya" merebut
benteng dan kapal perang. Tampaknya kaum Bolshevik bergerak menyebrang es dengan
dada yang terbuka untuk menyerbu benteng tersebut hanya karena karakter mereka
yang jahat, kecenderungan mereka untuk memprovokasi secara sengaja, kebencian
mereka terhadap kelasi Kronstadt, atau kebencian mereka terhadap doktrin
Anarkis (yang boleh kita bilang bahwa pada saat itu tidak ada satu orang pun yang
peduli). Apakah ini bukan sebuah ocehan yang kekanak-kanakan? Tidak terikat
pada waktu dan tempat, pengkritik bodoh ini mencoba (17 tahun kemudian!)
menganjurkan bahwa semuanya akan berakhir dengan baik bila saja revolusi (yang
dimaksud disini adalah Bolshevik - catatan penerjemah) meninggalkan kelasi
pemberontak tersebut sendiri. Sayangnya, konter-revolusi sedunia tidak akan
meninggalkan mereka sendiri. Logika dari perjuangan tersebut akan memberikan
mayoritas di benteng tersebut kepada kaum ekstrimis, dengan kata lain kepada
elemen yang paling konter-revolusi. Kebutuhan perbekalan akan memaksa benteng
tersebut untuk tergantung secara langsung pada borjuis asing dan agen-agen
mereka, kaum emigran Putih. Semua persiapan yang diperlukan untuk menuju ke hal
tersebut sudahlah dibuat. Di bawah kondisi yang serupa, hanya orang-orang
seperti kaum Anarkis Spanyol dan orang-orang POUM akan menunggu secara pasif,
mengharapkan akhir yang bahagia. Untungnya, kaum Bolshevik datang dari metode
berpikir yang berbeda. Mereka memandang bahwa adalah tugas mereka untuk
mematikan api tersebut secepatnya setelah api tersebut menyala, dengan demikian
akan mengurangi korban ke jumlah yang minimum.
"Kaum Kronstadt" Tanpa Sebuah Benteng
Pada hakikatnya,
para pengkritik yang suci ini adalah lawan dari kedikdaturan proletariat dan
oleh sebab itu mereka adalah musuh revolusi. Dari sini terpaparlah semua
rahasia. Adalah benar bahwa beberapa dari mereka mengakui revolusi dan
kediktaturan - dalam kata-kata. Tetapi ini tidak membantu. Mereka berharap
untuk sebuah revolusi yang tidak akan menghasilkan kedikdaturan atau untuk
sebuah kediktaturan yang bersahabat tanpa menggunakan kekerasan. Tentu saja,
ini merupakan sebuah kediktaturan yang sangat "menyenangkan". Akan tetapi, ini
membutuhkan beberapa syarat: sebuah perkembangan massa pekerja yang setara dan yang sangat
tinggi. Tetapi di dalam kondisi tersebut, kediktaturan tidak akan dibutuhkan. Beberapa
Anarkis, yang sebenarnya adalah guru liberal, berharap bahwa dalam seratus atau
seribu tahun kaum buruh akan mencapai level perkembangan yang sangat tinggi
sehingga pemaksaan akan terbukti tidak diperlukan lagi. Secara alami, bila
kapitalisme mampu mencapai level perkembangan tersebut, tidak ada alasan untuk
menumbangkan kapitalisme. Juga tidak diperlukan sebuah revolusi dengan
kekerasan ataupun kedikdaturan yang merupakan konsekwensi yang tidak terelakkan
dari sebuah kemenangan revolusioner. Akan tetapi, membusuknya kapitalisme
meninggalkan ruang yang sempit untuk ilusi-ilusi humanitarian-pacifis.
Kelas buruh, tidak
termasuk massa
semi-proletariat, tidaklah homogen secara sosial ataupun politik. Perjuangan
kelas menghasilkan sebuah vanguard yang menyerap elemen-elemen terbaik dari
kelas tersebut. Sebuah revolusi mungkin terjadi bila vanguard tersebut mampu
memimpin mayoritas proletariat. Akan tetapi ini tidak berarti hilangnya
kontradiksi internal di antara buruh. Di puncak tertinggi revolusi,
kontradiksi-kontradiksi internal tersebut akan melemah, tetapi hanya untuk
tampil lebih tajam di periode yang baru. Begitulah jalannya revolusi dalam
keseluruhannya. Begitulah jalannya Kronstadt. Ketika simpatisan-simpatisan kiri
mencoba untuk menandai rute yang berbeda untuk Revolusi Oktober, setelah
revolusi tersebut kita hanya bisa meminta mereka dengan penuh hormat untuk
menunjukkan kepada kita dimana dan kapan prinsip-prinsip agung mereka
mendapatkan konfirmasi di dalam praktek, atau setidaknya di dalam tendensi?
Dimanakah tanda-tanda yang membuat kita berharap untuk kemenangan
prinsip-prinsip tersebut di masa depan? Tentu saja, kita tidak akan pernah
mendapatkan sebuah jawaban.
Sebuah revolusi
mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Dulu kala, kita memformulasikan "pelajaran
Oktober" yang tidak hanya memiliki pengaruh di Rusia tetapi juga memiliki
pengaruh di dunia internasional. Tidak ada orang lain yang bahkan mencoba untuk
menganjurkan "pelajaran" yang lain. Revolusi Spanyol adalah konfirmasi negatif
dari "pelajaran Oktober". Dan pengkritik yang paling besar tersebut tidak
bersuara atau ragu. "Front Rakyat" pemerintahan Spanyol mencekik revolusi
sosialis dan menembak kaum revolusioner. Para Anarkis ikut serta di dalam
pemerintahan ini, atau, ketika mereka didorong keluar, mereka tetap mendukung
para pengeksekusi. Dan sementara itu, kawan asing dan pengacara mereka menyibukkan
diri mereka dengan pembelaan ... pemberontakan Kronstadt melawan Bolshevik yang
kejam. Sunggu sebuah distorsi yang memalukan!
Perselisihan seputar Kronstadt saat ini
berkisar sekitar poros kelas yang sama seperti pemberontakan Kronstadt itu
sendiri, dimana kelompok reaksioner dari kelasi Kronstadt mencoba untuk
menumbangkan kediktaturan proletariat. Sadar akan ketidakmampuan mereka di atas
arena politik revolusioner saat ini, kaum borjuis kecil yang bodoh dan kaum
eklektik mencoba untuk menggunakan episode Kronstadt yang sudah tua ini untuk
berjuang melawan Internasional Keempat. "Kaum Kronstadt" ini akan dihancurkan
pula - benar, tanpa menggunakan senjata karena mereka beruntung tidak memiliki
sebuah benteng.
Catatan Penerjemah:
[1] Biro Londong juga dikenal dengan nama International
Revolutionary Marxist Centre, sebuah asosiasi internasional partai-partai
sosialis-kiri yang dibentuk pada tahun 1932
[2] Pavel Miliukov, profesor sejarah di
Universitas Moskow, anggota Dumas ketiga dan keempat, dan pemimpin partai
Cadet. Seorang anti-Bolshevik yang membantu Tentara Putih untuk menyerang
Rusia.
[3] Cossasks adalah kelompok prajurit
petani atau prajurit semi-nomadik dari Slavik Timur, mereka melayani Czar
selama perang dunia pertama, dan sebagai imbalannya menerima tanah dan
kebebasan dari pajak.
[4] Alexander V. Kolchak adalah pemimpin
Tentara Putih selama perang saudara di Rusia.
[5] Alexander Kerensky adalah perdana
menteri Pemerintahan Provisional Rusia yang kemudian ditumbangkan oleh Revolusi
Oktober.
[6] Nikolai Nikolaevich Yudenich adalah
seorang jendral pasukan konter-revolusi selama perang saudara Rusia. Pada bulan
Oktober 1919, pasukan Yudenich menyerang Petrograd, Trotsky kemudian
mengorganisir pertahanan kota Petrograd
dan mengalahkan pasukan Yudenich yang kemudian dilucuti senjatanya pada tahun
1920.
[7] Anton Ivanovic Denikin, seorang Letnan
Jendral pasukan Tentara Putih.
[8] Alexander Berkman adalah seorang
Anarkis yang menjadi oposisi Bolshevik. Pada tahun 1922, dia menulis "The
Kronstadt Rebellion" (Pemberontakan Kronstadt) yang kerap menjadi rujukan bagi
orang-orang yang membela pemberontakan Kronstadt.
[9] Emma Goldman adalah seorang
Anarkis-Feminis, partner dekat Alexander Berkman, yang juga menjadi oposisi
Bolshevik. Selama tinggal di Rusia, dia menulis "My Disillusionment in Rusia"
(Kekecewaan saya di Rusia) dan "My Further Disillusionment in Rusia"
(Kekecawaan saya yang selanjutanya di Rusia) dimana dia mengkritik Bolshevik,
termasuk di dalamnya adalah masalah pemberontakan Kronstadt. Menanggapi tulisan
Trotsky "Hue and Cry Over Kronstadt" (Hingar Bingar Akan Kronstadt), Emma
menulis tanggapan "Leon Trotsky Protests Too Much" (Leon Trotsky Terlalu Banyak
Protes).
[10] Nestor Makhno, seorang Anarko-komunis dari Ukraina
yang memimpin tentara petani dan menolak untuk berpihak pada Bolshevik.
[11] Victor Serge, 1890-1947, adalah
seorang Anarkis dulunya, yang kemudian bergabung dengan Bolshevik pada tahun
1919. Dia lalu bergabung dengan Oposisi Kiri pada tahun 1923 melawan Stalin,
sebagai akibatnya dikeluarkan dari partai Bolshevik pada tahun 1928 dan
dipenjara. Pada akhirnya dia menjadi rivalnya Trotsky karena perbedaan politik.
[12] POUM, Partido Obrero de Unificación
Marxista, atau Partai Buruh Unifikasi Marxis, adalah salah satu partai
komunis di Spanyol yang menjadi oposisi Stalinisme.
Diterbitkan pertama kali: The New
International, Volume 4, No. 4
April 1938, halaman 103-106
Sumber terjemahan: Hue and Cry Over
Kronstadt, Trotsky Internet Archive
Diterjemahkan oleh: MS (Maret 2007)
|