Tujuh puluh tahun setelah pembunuhan Trotsky, dan masih lagi satu usaha pembunuhan

“Sejarah tidak berbuat apa-apa, tidak memiliki kekayaan, tidak terlibat dalam pertempuran. Manusialah, yang hidup dan nyata, yang melakukan segalanya, memiliki harta benda, berjuang. Bukanlah “Sejarah”, layaknya ia seorang yang terpisah, yang menggunakan manusia untuk melaksanakan tujuannya, tetapi sejarah itu tidak lain adalah aktivitas manusia dalam mengejar tujuannya” Karl Marx

Usaha untuk menulis sebuah karya peringatan mengenai Trotsky terbukti lebih sulit daripada yang dapat dibayangkan. Apa yang belum ditulis mengenai Lelaki Tua (The Old Man) yang dicintai oleh beberapa orang dan dibenci oleh banyak? Banyak biografi sudah ditulis. Beberapa dari mereka berusaha menggali kebenaran dan sisanya adalah sampah yang biasa dihadapi oleh Trotsky sendiri pada akhir hidupnya.

Selalu ada perasaan tidak layak dalam menceritakan kembali kisah – atau bahkan satu episode – dari seorang manusia yang hidupnya telah mempenetrasi jalannya sejarah dan mengendalikan arahnya. Akan tetapi, dalam peringatan ini, yakni 70 tahun pembunuhannya, aku merasa harus mengesampingkan rutinitas aktivitas politik dan membela warisannya dari kotoran yang selalu dilemparkan ke Trotsky dan ide-idenya.

Dia telah mati tetapi banyak musuhnya yang tidak pernah merasa puas. Bahkan majalah Time dalam euloginya tidak dapat menahan godaan untuk menghantarkan serangan pribadi yang picik terhadap Trotsky.

“Seluruhnya hidupnya dia telah hidup di dunia bayangan yang penuh dengan konspirasi dan revolusi. Tetapi sekarang kehidupan sang revolusioner telah menjadi damai. Pengikutnya menyusut menjadi segelintir murid yang berbakti tetapi tidak penting. Karyanya semakin kurang dihargai untuk isi revolusionernya, dan lebih dihargai untuk prosanya yang hebat.

“Pada umur 60 tahun Leon Trotsky adalah seorang penulis yang sukses dengan seorang istri yang mencintainya, sebuah rumah di sub-urban dan cukup uang untuk hidup dalam kenyamanan yang memuaskan. Sebuah kehidupan yang didedikasikan untuk penghancuran kelas menengah telah membuat dia menjadi salah satu anggota kelas menengah.” (Kematian Seorang Revolusioner, Time, 2 September 1940)

Akan tetapi, yang disebut sebagai “segelintir murid yang berbakti dan tidak penting” ini masih ada di sini 70 tahun setelah “guru” mereka dikirim ke liang kubur. Seperti segelintir kaum Bolshevik pada jamannya Lenin yang dicibir oleh dunia sebagai sebuah sekte sebelum Revolusi Rusia, pengikut ide-ide Trotsky terus menggali ke dalam gerakan buruh seperti “tikus tanah”, yang sangat dibenci oleh para pemimpin sosial demokrat dan juga oleh Stalinis seluruh dunia. Hanya menyebut nama Trotsky akan membawa rasa jijik ke air muka mereka, yang merefleksikan ketakutan yang besar bahwa ide-idenya masihlah relevan hari ini seperti halnya dulu.

Teori Revolusi Permanennya adalah sesuatu yang selalu mengganggu hati nurani para pemimpin gerakan buruh yang dulu sudah mencampakkan harapan untuk sosialisme. Tetapi yang membuat musuh-musuhnya paling gusar adalah keteguhan hati dan dedikasinya untuk perjuangan kelas pekerja. Dia adalah seorang yang mengikuti jalan yang dipilihnya hingga akhir tanpa pernah menyerah, sebuah batu solid dengan kekurangan-kekurangan yang membuatnya justru semakin manusia. Kepribadian-kepribadian medioker bereaksi tajam terhadapnya, takut kalau sebuah perbandingan akan menarik keluar kekurangan mereka.

Serangan pribadi memenuhi banyak artikel dan buku mengenai Trotsky. Digambarkan di euloginya Time adalah seorang kakek tua yang terasingkan dan hidup dengan damai di rumah sub-urban “kelas menengahnya” dengan “kenyamanan yang memuaskan”. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran. Trotsky membenci rumah sub-urban ini, yang lebih seperti sebuah penjara dengan menara penjaganya, pintu lapis baja yang dikontrol secara elektronik, dan protokol keamanan yang ketat yang tidak memperbolehkan dia berbicara dengan seseorang sendirian di kamar belajarnya. Dia merasa terkukung. Moral kapitalis yang merampas kenyamanan hidup dari ratusan juta rakyat mencoba merampas darinya apa yang disebut “kenyamanan memuaskan” dari sebuah istri yang penuh cinta dan makanan sehat dari tamannya sendiri.

Serangan baru-baru ini datang dari dua sejarahwan terkenal: Profesor Robert Service dari Universitas Oxford dengan bukunya Trotsky: A Biography dan Profesor Bertrand M. Patenaude dari Universitas Stanford dengan bukunya Trotsky: Downfall of a Revolutionary. Keduanya, dalam sebuah kebetulan yang aneh tetapi tidak mengejutkan, adalah peneliti dari Hoover Institution – sebuah think-tank anti-komunis yang terkenal yang memiliki anggota seperti Condoleezza Rice, Margaret Thatcher, Milton Friedman, dan Michael Boskin. Keduanya mempublikasikan buku mereka pada tahun yang sama 2009, tahun ketika dunia sedang dalam resesi yang serius. Secara ekonomi, tahun 2009 bukanlah tahun yang terbaik untuk menerbitkan buku, apa lagi dua buku dengan subjek yang sama. Robert pasti sudah tahu kalau kawannya Bertrand sedang menulis sebuah biografi mengenai figur yang sama, dan Bertrand juga pasti tahu sebaliknya. Mungkin keduanya mengenali kegagalan Ramon Mercader yang hanya mampu menghantarkan satu pukulan – walaupun fatal – dan memungkinkan Trotsky untuk lari ke pelukan istrinya dan memberikan dia kesempatan hidup cukup lama untuk mengatakan kepada sahabat hidupnya “Natasha, saya cinta kamu”. Kali ini kesempatan seperti itu tidak boleh dibiarkan lagi. Dua pukulan akan cukup untuk membunuhnya.

Di periode baru yang sekarang telah terbuka, sejarah sedang mencari sebuah kekuatan politik yang dapat memenuhi vakum yang lama ditinggalkan oleh para sosial demokrat, reformis, mantan Stalinis, yang meninggalkan kapal ketika kapal tersebut diombang-ambing secara keras oleh peristiwa. Sementara para pemimpin ini puas menjadi “kapten” perahu darurat yang mengapung tanpa tujuan di lautan sejarah tanpa kemudi, beberapa dari mereka bahkan diselamatkan oleh pihak musuh dan menjadi pembantu mereka, Trotsky dan segelintir orang yang benar-benar mengikuti jejak langkahnya tidak pernah meninggalkan kapal ini.

Kaum borjuasi tidak pernah puas bahkan setelah Trotsky sudah dibunuh. Setiap saat mereka merasa harus mengayunkan kapak es lebih dalam ke tengkoraknya. Seperti Stalin, mereka terobsesi dengan Trotsky, dengan membunuh dia lagi dan lagi karena dia tidak pernah benar-benar mati. Selama masa kebangkitan pada tahun 1960an dan 70an, kelas penguasa tiba-tiba dikejutkan oleh kebangkitan kembali Trotskisme. Sebagai akibatnya, dari tahun 1975 hingga 1979, tiga biografi untuk membunuh Trotsky diterbitkan untuk alasan yang jelas.

Sekarang kita sedang memasuki sebuah periode yang baru. Untuk pertama kalinya semenjak kejatuhan Uni Soviet, ada seorang pemimpin negara, Hugo Chavev – dengan kemampuannya yang dapat menginspirasi kaum muda yang “apati” – yang berbicara baik mengenai Leon Trotsky. Gelombang shok dari resesi – dan terutama setelah resesi – membangunkan banyak pikiran yang sebelumnya tidur nyenyak. Robert Service khawatir bahwa banyak kaum muda yang akan bergerak ke ide-ide Trotsky tanpa “keinginan untuk membaca apa yang telah dia tulis dan lakukan” karena Trotsky “bukanlah seperti yang dia atau yang lainnya katakan.” (hal. 497) Profesor Service merasa dia harus menyelamatkan kaum muda yang tidak tahu apa-apa dan mudah terpengaruhi dari Trotskisme.

Profesor Service harus mengecilkan Trotsky dan gerakan yang dia bentuk. Tidak mampu secara intelektual memeriksa dan menghancurkan ide-ide Trotsky, selain satu penekanan dangkal bahwa komunisme menyesakkan inisiatif pribadi, Profesor Service hanya bisa menggunakan pembunuhan karakter dan sebuah dosis dusta. Trotsky adalah “sombong”, “egosentris”, “tidak dapat dipercaya”, “tidak punya sentuhan taktis”, “hanya memikirkan diri sendiri”, “tidak mempedulikan kebutuhan anak-anaknya”, “memperlakukan istri pertamanya dengan buruk.” Karakterisasi Trotsky yang hebat ini dapat ditemui dalam satu halaman. 500 halaman dari buku Trotsky dipenuhi dengan serangan-serangan picik seperti itu. Banyak dari mereka yang sangat berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lain yang dibuat oleh Robert Service mengenai Trotsky, sehingga kita hanya bisa membayangkan apakah dia memasukkan frase-frase serangan ini dengan interval yang teratur untuk memenuhi kuota frase pembunuhan-karakter yang diminta oleh Hoover Institution dari peneliti mereka.

Lihat ini contohnya. Dia menulis bahwa Trotksy “menginspirasi orang-orang di sekelilingnya untuk berkorban” (hal. 3). Satu halaman kemudian Trotsky dinyatakan sebagai orang yang “tidak dapat dipercaya”. Kecuali kalau orang-orang di sekelilingnya adalah monyet bodoh – yang mereka bukan, karena banyak dari kamerad Trotsky adalah orang yang mampu – maka kita akan bingung bagaimana seorang dapat menginspirasi orang lain untuk berkorban sementara dia tidak dapat dipercaya.

Lalu lagi, “Dia membenci main kotor walaupun dia jauh dari figur politik yang paling bersih. Halangan terbesar bagi dia dalam perlombaan untuk menjadi penerus Lenin adalah kenyataan bahwa dia tidak punya hasrat besar untuk menjadi pemimpin. Dia merasa lebih baik sebagai seorang penantang daripada sebagai seorang pejuang yang terkonsumsi oleh ambisi untuk menjadi pemenang. Dia tidak cukup menginginkan otoritas tertinggi.” (hal. 498) Kalimat pertama saja sudah merupakan sebuah kontradiksi. Trotsky membenci main kotor dan inilah mengapa dia kalah dengan Stalin – sebuah pernyataan yang sangat keliru – tetapi dia juga bukan seorang politisi yang “bersih”. Trotsky memiliki “nafsu untuk kediktaturan” (hal. 4) tetapi “dia tidak menginginkan otoritas tertinggi”.

Robert Service juga tidak jujur ketika dia mengatakan bahwa “sebuah kebangkitan Trotskisme yang singkat terjadi pada tahun 1968 selama demonstrasi-demonstrasi pelajar di Eropa dan Amerika Utara, tetapi ini tidak berlangsung lebih dari tahun 1968.” (hal. 2) Tidak mungkin Profesor Service dapat melewatkan “tikus tanah” Trotskis di gerakan buruh Inggris yang membangun posisi yang sangat kuat dan menyebabkan kecemasan yang serius dari kekuasaan politik Inggris di dua dekade 1970an dan 1980an. Kelompok ini adalah tendensi Militant, yang punya tiga anggota parlemen, mendominasi dewan kota Liverpool, dan adalah target favorit media. Robert Service pasti berumur 30an pada saat kejayaan Militant di Inggris. Dia tidak dapat menyangkal ini.

Kita tidak akan menemukan kutipan panjang dari karya-karya Trotsky mengenai ide-ide utamanya: Revolusi Permanen, teori degenerasi Uni Soviet, Program Transisional, Front Persatuan, dsb. Dari permulaan Profesor Service tidak punya niat untuk menjawab ide-ide Trotsky. Untuk mereka yang punya hasrat menimba ilmu, karya Profesor Service bukanlah sebuah karya akademis yang memberikan pandangan baru mengenai kehidupan Trotsky kendati klaimnya bahwa dia telah “menggali kehidupan terkubur” Trotsky. Karyanya bukanlah sebuah karya dari sejarahwan yang jujur. Ini adalah sebuah biografi gaya tabloid yang berkualitas rendah, dikonstruksi dengan murah, dan merefleksikan kebangkrutan dari akademi borjuis.

Kebencian kaum borjuasi akan kehidupan Trotsky diekspresikan dengan jelas oleh Robert Service dalam interview onlinenya, dimana dia mengatakan bahwa “dia [Trotsky] bukanlah hal yang baik untuk siapapun dan di kapan pun.” Ini karena kelas penguasa tidak dapat menerima bahwa masih ada sebuah figur Revolusi Oktober yang masih berdiri untuk komunisme sejati sedangkan Stalin telah memperburuk dan menjagal Revolusi. Mereka ingin Trotsky mengambil jalan Zinoviev, Kamenev, Radek, dan banyak kamerad dia lainnya yang menyerah di bawah tekanan besar dari birokrasi Stalinis. Kontribusi dia yang terbesar untuk umat manusia adalah tetap memegang panji Marxisme yang bersih sementara yang lain telah mencampakkannya. Ini tidak dapat dimaafkan oleh kelas penguasa.

Namun, selain sampah yang ditulis oleh Robert Service dan Bertrand Patenaude, ada beberapa karya bagus mengenai Trotsky yang keluar pada saat yang sama: film komedi Jacob Tierney berjudul The Trotsky dan novel grafis Rick Geary Trotsky: A Graphic Biography. Jacob terinspirasi oleh Land and Freedom karya Ken Loach ketika dia menulis skrip filmnya, walaupun mereka tidak dapat dibandingkan sama sekali. Film ini tidak membicarakan ide Trotsky sama sekali. Film ini adalah parodi, tetapi satu parodi yang mengejek masyarakat sekarang daripada kehidupan Trotsky. Karya Rick Greary bukanlah sebuah biografi dalam artian standar. Karyanya adalah sebuah karya seni, tetapi lebih jujur di dalam kekurangan dan keterbatasannya. Artis kadang-kadang dapat merefleksikan dunia lebih jujur dari pada “pen objektif” peneliti akademisi.

Tujuh puluh tahun telah lewat semenjak pembunuhan Trotsky. Namun gagasan-gagasannya masih langgeng dari dekade ke dekade, dibawa oleh banyak pejuang kelas sejati yang ingin membebaskan umat manusia dari kekangan kapitalisme. Tidak ada yang menderita seperti pendukung ide Trotsky. Banyak juga yang telah meninggalkan barisan kita, mencari apa yang disebut “ide-ide baru” yang tidak pernah termaterialisasi. Mereka mengeluh bahwa kita berpegang pada ide-ide dan metode-metode tua, bahwa kita “terdengar seperti kaset rusak”. Tetapi lagu lama penindasan kapitalis masihlah bermain, dan bahkan semakin keras. Robert Service dan kolega-koleganya mengerti ini dengan sangat baik dan mereka mencoba menyamarkan ini.

Seseorang mungkin berpikir bahwa kontribusi terbesar dari Trotsky adalah memimpin Revolusi Oktober dan membangun Tentara Merah dari massa yang letih yang badan dan semangatnya telah dihancurkan sepenuhnya oleh Perang Dunia. Sosoknya yang berpidato di depan puluhan ribu buruh dan tentara yang bersorak tampak membawa semacam rasa romantisme, kejayaan, kemenangan. Tetapi besarnya seseorang benar-benar diukur ketika waktu yang sulit tiba.

Kaum filistin mudah saja mencibir jatuhnya Trotsky dari seseorang yang kemarin adalah sosok terbesar di tanah Rusia menjadi seorang eksil, yang terasing dengan segelintir pengikut. Tetapi Trotsky bahkan bersinar lebih terang selama hari tergelap Revolusi, seperti yang diceritakan oleh Victor Serge:

“Saya tidak pernah mengenal dia lebih besar, dan saya tidak pernah menghormati dia lebih dalam daripada ketika di apartemen-apartemen kumuh di Leningrad dan Moskow dimana, beberapa kali, saya mendengar dia berbicara selama berjam-jam untuk memenangkan segelintir buruh pabrik, dan ini setelah dia sudah menjadi satu dari dua pemimpin sah Revolusi. Dia masihlah anggota Politbiro tetapi dia tahu bahwa dia akan segera jatuh dari kekuasaan dan juga, sangat mungkin, kehilangan nyawanya. Dia berpikir bahwa sekarang adalah waktunya untuk memenangkan hati dan nurani orang satu per satu – seperti yang sudah dilakukan sebelumnya selama kekuasaan Tsar. Tiga puluh atau empat puluh wajah menghadapnya, mendengarkannya, dan saya ingat seorang perempuan yang duduk di lantai menanyakan dia berbagai pertanyaan dan mempertimbangkan jawabannya dengan serius. Ini adalah pada tahun 1927. Kami tahu bahwa kami lebih mungkin kalah daripada menang. Tetapi tetap saja perjuangan kami tidak sia-sia: bila kita tidak berjuang dan kalah dengan berani, kekalahan Revolusi akan seratus kali lebih parah.” (Victor Serge, Kehidupan dan Kematian Leon Trotsky)

Kerja keras memenangkan hati satu atau dua orang, di pertemuan-pertemuan kecil dengan segelintir orang, melalui koran yang mungkin hanya dibaca lusinan orang, ini semua telah kita lanjutkan selama 70 tahun terakhir. Mereka yang berpikiran sempit yang mencari kejayaan di dalam politik tidak akan pernah bisa mengerti ini. Bila ide-ide Trotsky sungguh tidak relevan, mengapa begitu banyak buku dan artikel didedikasilan untuk membuktikan bahwa mereka telah mati? Sungguh ini adalah sebuah indikasi bahwa kaum borjuis dalam hati mereka yang dalam tahu bahwa di dalam periode yang sedang kita masuki, yakni satu periode krisis kapitalis yang akut, ide Marxisme, yang dipertahankan oleh Trotsky, adalah satu-satunya yang dapat menawarkan rakyat pekerja sebuah jalan keluar dari mimpi buruk kemiskinan, pengangguran, peperangan, dan krisis.

Imperialisme

Apa Itu Imperialisme?

Imperialisme bukanlah sekedar dominasi satu negeri terhadap negeri yang lain. Ia adalah tahapan tertinggi dari perkembangan kapitalsme. Hanya dengan memahami alur perkembangan historis dari imperialisme maka kita bisa melahirkan program politik revolusioner yang tepat, dan tidak terjebak pada anti imperialisme yang vulgar dan oportunis.

Pendidikan Marxis

Mengenal Filsafat Marxisme

Secara historis, filsafat Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme ke bumi manusia. Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahkannya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni: 1. Materialisme Dialektis; 2. Materialisme Historis; 3. Ekonomi Marxis.

Sejarah Indonesia

Menuju Republik Indonesia

Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia) adalah karya besar Tan Malaka yang meletakkan dasar bagi perjuangan pembebasan nasional Indonesia dari penjajahan Belanda dan imperialis dunia. Gagasan utamanya adalah bahwa 100% Merdeka tidak akan tercapai tanpa membawa sosialisme ke bumi Indonesia.